"Migunani Marang liyan,Ora Gawe Kapitunaning Liyan,Marsudi Luhur Ing jiwo"
Tampilkan postingan dengan label Mimbar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mimbar. Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 September 2016

Bismillahirrohmanirrohim

Bismillahirrohmanirrohim
Dengan Nama Alloh Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang, Sabda Rosululloh Muhammad SAW (Shollallohu'alaihi Wasallam):
"Adalah Jibril apabila datang kepadaku, yang pertama diberikannya kepadaku ialah Bismillahirrohmanirrohim" (Darulquthni dan Ibnu Umar r.a.).
Dari Anas bin Malik bersabda Nabi Muhammad SAW:
"Itulah isim dari asma Alloh Tidak lain antara ia dengan nama Alloh 'Akbar' seperti putih mata dengan hitamnya. Begitulah dekatnya".

"Ismullohil-A'zhom ialah Alloh Apakah engkau tidak lihat bahawasanya pada semua pembacaan Al-Quran dimulai dengan Bismillahirrohmanirrohim sebelum menyebut nama-nama Alloh yang lain". (Riwayat Imam Bukhari dari Jabir).
Demikianlah jawaban Rosululloh Muhammad SAW ketika ditanya oleh Utsman Ibnu Affan ra berkenaanBismillah. Sabda Baginda s.a.w. lagi, dari Abu Na'im dan Ibn Sunni dari Siti Aisyah ra:
"Ketika turun Bismillahirrohmanirrohim mengucap tasbihlah gunung-gunung hingga dapat mendengar para penduduk Mekah dan sekitarnya. Lalu mereka berkata: 'Rupanya Muhammad yang menyihir gunung-gunung itu'. Kemudian Alloh bangkitkan awan hingga meneduhkan penduduk Mekah".

Selasa, 14 Juni 2016

Pengertian Tata Cara Rabitah Dalam Tarekat

Rabithah dalam pengertian bahasa(lughat) artinya bertali, berkait atau berhubungan. Sedangkan dalam pengertian istilah thareqat, rabithah adalah menghubungkan ruhaniah murid dengan ruhaniah guru,Guna mendapatkan wasilah dalam rangka perjalanan menuju Allah. Syaikh Mursyid adalah Khalifah Allah dan Khalifah Rasulullah. Mereka adalah wasilah atau pengantar menuju Allah. Jadi tujuan murobith adalah memperoleh wasilah.Rabithah antara murid dengan guru biasa adalah transfer of knowledge , yakni mentransfer ilmu pengetahuan, maka rabithah antara murid dengan guru mursyid adalah transfer of spiritual, yakni mentransfer masalah-masalah keruhanian. Di sinilah letak perbedaannya. Kalau transfer of knowledge tidak bisa sempurna tanpa guru, apalagi transfer of spiritual yang jauh lebih halus dan tinggi perkaranya, maka tidak akan bisa terjadi tanpa guru mursyid. 

Selasa, 24 Februari 2015

Kisah Nabi Sembuhkan Kebutaan Lewat Mimpi

Dirinya sungguh tak menyangka bakal sembuh dengan cara istimewa. Semula orang laki-laki ini sehari-hari diliputi gelap karena kondisi matanya yang sama sekali tak dapat melihat. Dalam kebutaan tersebut, hanya satu dalam dirinya yang menyala sangat terang: semangat untuk sembahyang berjamaah.

Kitab Kifayatul Atqiya’ wa Minhajul Ashfiya’mengisahkan, laki-laki buta itu biasa berjalan menuju masjid tanpa dipandu tongkat selayaknya penyandang tunanetra pada umumnya. Jatuh cintanya yang amat pada shalat jamaah telah meruntuhkan rasa khawatir akan celaka akibat sikap pasrahnya itu.

Namun musibah tak bisa ditolak. Suatu hari laki-laki tersebut terjatuh di jalan hingga kepalanya terluka. Perjalanan menuju masjid gagal. Ia harus dibawa kembali ke rumah untuk istirahat.

Sudah jatuh tertimpa tangga. Di rumah, laki-laki buta yang kini batok kepalanya terluka itu malah mendapatkan “semprot” dari istrinya.

“Beginilah akibatnya. Padahal, shalat jamaah itu tidak wajib!” sergah istrinya.

Selasa, 25 November 2014

Mungkin  saja Anda katakan: Bahwa ilmu-ilmu di balik ini semua begitu banyak, seperti ilmu kedokteran, astronomi dan kosmologi, anatomi hewan, sihir, ilmu-ilmu rajah dan lain sebagainya.
Namun, sebenarnya apa yang telah kami isyaratkan dalam disiplin kitab ini merupakan isyarat menuju (yang mengantar) pada ilmu diniyah (keagamaan), dimana hakikat eksistensinya harus maujud di jagad raya, sehingga kita mudah mencapai jalan menuju Allah Swt. sekaLigus memudahkan untuk pergi kepada-Nya. Sementara ilmu-ilmu tadi hanyalah merupakan sejumlah ilmu belaka, namun mengetahuinya tidaklah membawa kemaslahatan bagi hidup dan hari akhir. Karena itu, kami tidak menyebutkannya, di balik ilmu-ilmu yang saya sebutkan sebagai ilmu-ilmu lain yang diketahui interpretasinya dan banyak pula yang mengenalnya. Di sini tidak perlu kita sebutkan.
Bahkan saya katakan: Tampak di mata hati kami secara jelas, bahwa secara potensial ada sejumlah ilmu yang tidak tampak dalam wujud, walaupun secara potensial manusia mampu mencapainya. Dan sejumlah ilmu yang tampak dalam wujud sampai saat ini, tetapi pada abad ini seluruh manusia di muka bumi tidak mengenalnya. Ada juga sejumlah ilmu yang berada di luar jangkauan potensi pemikiran dan analisa manusia, yang hanya bisa dicapai oleh para malaikat muqarrabun. Kemampuan potensi anak cucu Adam memang terbatas. Sementara kemungkinan hak naluriah juga terbatas, sampai pada taraf kesempurnaan secara idhafi (berkesinambungan). Sebagaimana dalam hak binatang yang terbatas pada batas kekurangan.
Sedangkan Allah Swt. merupakan Dzat yang tidak bisa dibatasi oleh struktur ilmu dalam hak-Nya. Sementara ilmu kita berbeda dengan ilmu Allah yang haq. dalam dua hal: Di satu pihak, tidak adanya pangkal ilmu terscbut, dan di lain pihak, bahwa ilmu-ilmu tersebut tidak berada dalam hak potensi dan kemungkinan yang bisa dianalisa eksistensi wujudnya. Bahkan, Dia eksistensi dengan wujud dan hadir. Segala yang mungkin dalam hak-Nya dengan seluruh keparipurnaan-Nya, berarti Hadir dan Maujud.

Selasa, 14 Oktober 2014

Inilah Perbedaan Pelayanan Haji Indonesia dan Malaysia
Makkah,  NU Online
Kepala Kantor Urusan Haji Indonesia Daerah Kerja Makkah Endang Jumali menerima tim penyelenggara haji Malaysia yang dipimpin oleh Datuk Sayid untuk berbagi pengalaman penyelenggaraan haji kedua negara agar ke depan lebih baik lagi.


"Ada beberapa kesamaan dan ada beberapa perbedaan penyelenggaraan haji kedua negara , "kata Endang Jumali di Makkah, Senin, tentang pertemuan yang berlangsung dua hari lalu. Kesamaan tersebut antara lain adalah yang pertama mendaftar adalah yang pertama dilayani untuk segera berangkat haji.

Kamis, 11 September 2014


Mau Sampai Kapan Kita Jauh dari Allah?
dakwatuna.com - Tuhanmu berfirman, “Wahai anak Adam! Sempatkanlah beribadah kepada-Ku, niscaya Aku akan penuhi hatimu dengan rasa cukup dan Aku akan memenuhi tanganmu dengan rezeki. Wahai anak Adam! Janganlah menjauh dari-Ku. Jika demikian, Aku akan memenuhi hatimu dengan kefakiran dan Aku akan memenuhi tangan-Mu dengan kesibukan.” (HR. Hakim, dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahihut Targhib wat Tarhib)
Masih banyak di sekitar kita menemui orang-orang yang jauh dari Allah, hidup mereka dipenuhi dengan hal-hal tidak bermanfaat bahkan membuat hati semakin keras dan tidak bercahaya. Seperti yang ditemui di jalan raya menuju kampus.. Saya melihat segerombolan Bapak-Bapak yang berusia 40-60 Tahun dengan asyik menikmati domino, asyik menyabung ayam. Seharusnya usia menedekati detik-detik kehidupan dihabiskan dengan kebaikan. Tidak hanya itu, pernah pula menemui para wanita-wanita yang begitu seksi menjual kecantikan dengan berbagai dalil terkadang kecantikan dipergunakan sebagai modal untuk mengait mata laki-laki bermata keranjang atau atas nama kebebasan…#miris dan jauhkan kami dari hal-hal yang tidak Engkau cintai Rabbi.
Mungkin pertemuan dengan para Bapak-bapak dan cewek-cewek cantik adalah cara Allah mengiring kait untuk berpikir, berkontemplasi serta mengambil hikmah. Senada dengan ungkapan Ibnu Qayyim bahwa berbahagialah manusia yang dianugerahi Agama, pikiran dan akhlak yang selalu bertautan dengan Rabbi.

Senin, 21 Juli 2014

Jaminan Bagi Orang Bertaqwa
Tujuan utama berpuasa adalah untuk mencapai kualitas 'takwa'. Apakah enaknya menjadi orang bertakwa, sehingga kita mesti mencapai tingkatan itu? Telah kita bahas di depan bahwa kualitas takwa adalah kondisi dimana seseorang mampu mengontrol pikiran, ucapan dan tingkah lakunya menjadi penuh manfaat alias produktifitas tinggi.

Ya, orang bertakwa adalah orang yang memiliki produktiftas tinggi. Bukan orang yang bermalas malasan. Bukan orang yang suka ngobrol ngalor ngidul tidak ada gunanya. Apalagi, orang yang malah menimbulkan problem dalam kehidupannya. Baik pada dirinya sendiri, buat keluarganya, maupun orang-orang di sekitamya.

Inti takwa adalah mengendalikan perbuatan pikiran, ucapan, tingkah laku menuju pada manfaat. Semakin banyak manfaatnya, semakin bertakwalah dia. Semakin rendah manfaatnya, maka semakin rendah pula tingkat ketakwaaannya.

Dari sini kita bisa memahami, bahwa orang telah mencapai tingkatan bertakwa pasti bakal memberikan manfaat yang besar buat siapa saja. Inilah tingkatan yang bakal mengarah kepada fungsi rahmatan lil'alamin (bermanfaat / memberi rahmat bagi seluruh alam sekitarnya).

Sabtu, 12 Juli 2014

30 Fadhilah Shalat Tarawih

Menyambung pembahasan mengenai tarawih yang sering disepelakan karena hukumnya yang sunnah, sungguh hal itu sangat-sangat keliru. Karena dalam kitab Durratun Nasihin disebutkan berbagai fadhilahnya sebagaimana yang diceritakan oleh baginda Ali karramallhu wajhah dalam sebuah hadits.
Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib ra. bahwasannya Rasulullah saw pernah ditanya seseorang mengenai fadhilah shalat tarawih di bulan Ramadhan, maka beliau berkata “(fadhilah tarawih) di malam;
1 : membebaskan seorang mu’min dari dosanya seperti ketika ia baru dilahirkan ibunya.
2 : diampunkan dosa kedua ibu-bapaknya, jika kedunya beriman.
3 : berseru malaikat dari bawah ‘arasy “mulailah beramal, Allah telah menghapus dosa-dosa yang terhadulu”.
4 : baginya pahala seperti membaca semua kitab Allah (taurat, injil, zabur dan alqur’an)
5 : Allah berikan padanya pahala shalat di Masjidil Haram, Masjid Madinah dan Masjidil aqsha.
6 : Allah berikan padanya pahala orang yang thawaf di baitul ma’mur seraya memohonkan ampun untuknya segala batu dan lumpur.

Rabu, 30 April 2014


Karena Kejujuran, Kesucian, dan Juga Kebenarannya
Syeikh Abu Nashr as-Sarraj - rahimahullah -  berkata: Ja’far al-Khuldi memberitahuku tentang apa yang aku bacakan kepadanya: Al-Junaid —rahimahullah - bercerita
padaku: Suatu hari aku datang pada Sari as-Saqathi, kemudian ia berkata padaku: Aku akan menjadikan Anda kagum, karena hurung kecil (emprit) yang datang dan hinggap di serambi muka rumah ini. Lain aku mengambil segenggam makanan dan kulumatkan di telapak tanganku. lalu burung itu terbang dan hinggap di ujung jari-jemariku dan makan makanan yang ada di tanganku. Namun di waktu lain Ia datang di serambi muka rumah ini, kemudian aku mengambil sepotong roti yang sudah kulumatkan di atas telapak tanganku, tapi burung itu tak mau hinggap di tanganku sebagaimana sebelumnya. Lalu aku berpikir apa sehabnya Ia merasa takut denganku. Akhirnya aku ingat, bahwa aku pernah makan garam dengan rempah-rempah dan bumbu. Kemudian dalam rahasia hati (sirr) aku berkata, “Saya tobat dan tidak akan makan garam yang berempah dan penuh bumbu.” Akhirnya ia mau hinggap di tanganku dan makan apa yang ada di tanganku lalu ia terbang meninggalkanku.

Dan Abu Ahmad al-Murta’isy yang mengatakan: Saya mendengar ibrahim al-Khawwash —rahimahullah—  berkisah: Aku pernah tersesat di padang pasir dalam beberapa hari. Tiba-tiba ada seseorang mendekatiku sembari mengucapkan salam. “Assalamu’alaika.” Lalu aku menjawabnya. “Wa’alaikumsalaam.” “Apakah Anda tersesat?” tanya orang itu. “Ya!” jawabku. Kemudian lebih lanjut orang itu bertanya, “Bolehkah aku menunjukkan jalan untuk Anda.” “Tentu saja boleh!” jawabku. Kemudian orang itu berjalan beberapa langkah di depanku, tapi kemudian menghilang, dan tiba-tiba aku sudah berada dijalan yang lurus. Sejak aku berpisah dengan orang itu aku tak pernah tersesat lagi dan tidak pernah lapar dan haus.

Kamis, 23 Januari 2014

Kiai Sya'roni Paparkan Keistimewaan Shalawat Nabi
Kudus, NU Online
Mustasyar PBNU KH Sya’roni Ahmadi memaparkan keistimewaan amalan shalawat atas Rasululllah SAW. Diterangkan, ulama sepakat bahwa segenap amalan orang mukmin belum tentu diterima oleh Allah, kecuali membaca shalawat kepada Rasulullah SAW.

“Shalawat atas Nabi pasti diterima dan tidak mungkin ditolak. Sebab doa-doa yang diawali dan diakhiri shalawat akan terkabul,” tegas KH. Sya’roni Ahmadi dalam acara Maulidurrasul dan Haul Muallif Dalail Khairat, Syekh Abi Abdillah Muhammad Bin Sulaiman Al Jazuli di Pesantren darul Falah jekulo Kudus, Sabtu (18/1).

Ulama kharismatik yang biasa disapa Mbah Sya’roni ini menerangkan, amal yang satu ini tak perlu waktu, tempat, atau syarat tertentu lainnya untuk dipenuhi. Bahkan, sekalipun tak diniati dengan baik, shalawat tetap menjadi amalan yang diterima. Tentu dengan kesopanan yang layak untuk melafal shalawat.

Kamis, 09 Januari 2014

Kebijakan Ekonomi di masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khatab
Oleh Farah Majdi 
A. Pendahuluan
Kajian tentang sejarah sangat penting bagi ekonomi, karena sejarah adalah laboratarium umat manusia. Ekonomi sebagai salah satu ilmu sosial, perlu kembali kepada sejarah agar dapat melaksanakan eksperimen-eksperimennya dan menurunkan kecenderungan-kecenderungan jangka panjang dalam berbagai variabel ekonomiknya. Sejarah memberikan dua aspek utama kepada ekonomi, yaitu sejarah pemikiran ekonomi dan sejarah unit-unit ekonomi seperti individu-individu, badan-badan usaha dan ilmu ekonomi (itu sendiri). [1]
Kajian tentang sejarah pemikiran ekonomi dalam Islam seperti ini akan membantu menemukan sumber-sumber pemikiran ekonomi Islam kontemporer, di satu pihak, dan di pihak lain, akan memberi kemungkinan kepada kita untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik mengenai perjalanan pemikiran ekonomi Islam selama ini. Kedua-duanya akan memperkaya ekonomi Islam kontemporer dan membuka jangkauan lebih luas bagi konseptualisasi dan aplikasinya. 
Di antara beberapa kajian sejarah pemikiran ekonomi adalah kajian ekonomi di zamanKhulafâ Râsyidûndan sistem perekonomian yang dibangun pada masa pemerintahan mereka. Di zaman itu, terdapat beberapa sistem perekonomian Islam, seperti penarikan zakat yang tegas di zaman Abu Bakar, dan beberapa reformasi dan perombakan sistem yang digalakkan pada masa khalifah Umar bin Khattab, bahkan ada sistem yang baru dikenal dan dicetuskan dalam sejarah Islam di periode pemerintahannya. Kemudian sumber daya alam dikembangkan di zaman Utsman bin Affan dan penghargaan terhadap para pensiunan pada masa Ali bin Abi Thalib menjadi khalifah.

Kamis, 19 Desember 2013

Membaca Surat Yasin dengan Maksud Tertentu
Al-Quran adalah kitab suci yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. melalui Malaikat Jibril sebagai perantar. Al-Qur’an merupakan kitab suci yang akan terjaga dan terawat sampai hari kiamat.
Begitu pula bagi yang membacanya senantiasa akan mendapatkan pahala yang berlipat ganda, tercatat pahala setiap hurufnya berupa satu kebaikan dan satu kebaikan itu akan dilipatgandakan dengan sepuluh pahala. Sebagaimana hadits Rasulullah saw, dari Ibnu Mas’ud ra.,
Barang siapa yang membaca satu huruf dari Al Quran, maka baginya satu kebaikan dan satu kebaikan itu dilipatgandakan dengan sepuluh (pahala).
Oleh karena itulah al-Qur’an bagi orang muslim selalu dibacakan dalam berbagai kondisi, baik ketika senang maupun sedih. Mulai dari walimatul arusy (pernikahan), walimatul hitan, walimatus safar, akhirus sanah, seminar, pelantikan, hingga prosesi pemakaman, selalu disertakan bacaan al-Qur’an di dalamnya.

Sabtu, 07 Desember 2013

Perempuan Haidh Boleh Tahlil
Mati tidak mengenal kompromi. Kapapun bisa datang, dimanapun bisa terjadi. Dan mati juga tidak bisa ditawar apalagi dimajukan waktunya ‘fala yasta’khiruna sa’atan wa la yastaqdimun’. Begitulah aturan dari Yang Maha Kuasa. Dia yang memberi penghidupan Dia pula yang berhak mencabutnya kembali. Kapanpun dia suka.Sehubungan dengan mati, maka ta’ziyah dan tahlil sebagai acara do’a bersama tidak bisa dilewati. Meskipun banyak orang yang mengatakan do’a untuk orang mati tidak sampai, tetap saja keluarga tidak tega untuk tidak mendoakannya. Apalagi jika si mayit itu ayah, suami, kakak atau adik yang memiliki peran dan kontribusi pada kehidupan kita. Apalagi yang dapat kita berikan kepadanya selain do’a. Uang, emas, mobil tidak dapat dia bawanya ke alam kubur. Bahkan harta yang dikumpulkannya selama hidupnya malah akan segera dibagi-bagi sebagai warisan. Sungguh kasihan jika mayit tidak kita bekali dengan do’a, dan sungguh tega jika hanya do’apun kita tidak memberikannya.  

Sabtu, 12 Oktober 2013

Sayyidina Ali Jual-Beli dengan Dua Malaikat
Kisah ini diriwayatkan Ja’far bin Muhammad, yang memiliki sanad dari ayahnya, lalu dari kakeknya. Suatu ketika, cerita kakek Ja’far, Sayyidina Ali bin Abi Thalib karramaLlahu wajhah mengunjungi rumahnya selepas silaturahim kepada Rasulullah.

Di rumah itu Ali menjumpai istrinya, Sayyidah Fathimah, sedang duduk memintal, sementara Salman al-Farisi berada di hadapannya tengah menggelar wol.

“Wahai perempuan mulia, adakah makanan yang bisa kau berikan kepada suamimu ini?” tanya Ali kepada istrinya.

“Demi Allah, aku tidak mempunyai apapun. Hanya enam dirham ini, ongkos dari Salman karena aku telah memintal wol,” jawabnya. “Uang ini ingin aku belikan makanan untuk (anak kita) Hasan dan Husain.”

“Bawa kemari uang itu.” Fathimah segera memberikannya dan Ali pun keluar membeli makanan.

Kamis, 19 September 2013

JANJI ALLAH BAGI YANG MEMILIKI SIFAT TAQWA

Janji Allah kepada yang memiliki sifat taqwa
Hasil mujahadah yang tinggi, serius serta istiqamah, Allah akan kurniakan kepada kita sifat taqwa. Bermacam-macam kebaikan yang Allah janjikan dalam Al Quran kepada mereka yang memiliki sifat taqwa ini. Ini adalah janji Allah yang pasti tepat dan pasti ditunaikan-Nya. Ia tidak terhingga nilainya yang tidak dapat diukur dengan mana-mana mata wang di dunia ini.
Di antara janji-janji Allah kepada mereka yang memiliki sifat taqwa ini ialah:
1. Terpimpin
Mereka mendapat pimpinan daripada Allah. Ini jelas sekali melalui firman Allah: “Allah menjadi (Pemimpin) Pembela bagi orang-orang yang bertaqwa.” (Al Jasiyah: 19)
2. Terlepas dari kesusahan
Mereka dapat terlepas daripada kesusahan. Bukan ertinya mereka tidak mendapat susah atau tidak ditimpa ujian tetapi selepas kesusahan dan ujian, mereka akan terselamat. Walaupun ada pelbagai rintangan dalam ujian itu, ia sementara waktu sahaja. Selepas itu Allah akan lepaskan dari ujian dan rintangan itu dengan menghadiahkan pelbagai macam nikmat pula. Ini jelas dalam firman Allah: “Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, Allah akan lepaskan dia dari masalah hidup.” (At Thalaq: 2)

Rabu, 04 September 2013


YANG LUPUT DARI SEJARAH TENTANG SYAIKH ABDUL QADIR AL-JAILANI
oleh Badru Salam 
Disarikan dari Ceramah : 
Prof. Dr. Syaikh Mohammed Fadhil al-Jailani al-Hasani
(cucu Syaikh Abdul Qodir Jailani ke-25 yang juga Mursyid Qadiriyah Alawiyah)
Acara     : Milad PP Az-Zainiyyah Selabintana Sukabumi
Tanggal : 18 Juni2013
Sekilas Tentang Syaikh Fadhil

Selama 30 tahun lebih, Syaikh Fadhil berkeliling dunia untuk melacak jejak karya-karya kakeknya, Syaikh Abdul Qadir al-Jailani. Ia mendatangi sekitar 67 perpustakaan besar di dunia untuk melacak jejak karya-karya Kakeknya dan usahanya berbuah manis.

"Saya telah mencapai ke-41 judul kitab SyaikhAbdul Qadir al-Jailani dan 32 manuskrip tertulis di antaranya telah diperoleh," ujar Syaikh Fadhil yang juga menelusuri karya kakeknya hingga ke perpustakaan di Vatikan. Di perpustakaan itu, ia juga menemukan manuskrip-manuskrip karya Kakeknya.

Kamis, 22 Agustus 2013

Dahsyatnya Sholawat
Shalawat dan salam marilah kita sanjungkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad saw dan keluarga, sahabat-sahabat serta para pengikutnya.

Ada empat perbuatan ringan yang apabila kita lakukan, maka kita termasuk golongan orang yang tidak terpuji.

1. Seseorang yang membuang air kecil sambil berdiri, 2. Seseorang yang mengusap dahinya sebelum selesai dari shalat, 3. Seseorang yang mendengar adzan tetapi ia tidak menirukan seperti apa yang diucapkan muadzin, 4. seseorang yang apabila mendengar nama Nabi Muhammad Saw disebut, tetapi tidak membacakan shalawat atasnya.
Sabda Nabi Muhammad Saw:
 “Empat perbuatan termasuk perbuatan yang tidak terpuji, yaitu (1) bila seseorang buang air kecil sambil berdiri, (2) seseorang yang mengusap dahinya sebelum selesai dari shalat, (3). Seseorang yang mendengar adzan tetapi ia tidak menirukan seperti yang diucapkan muadzin, (4) seseorang yang apabila mendengar namaku disebut, tetapi ia tidak membacakan shalawat atasku. (HR. Bazzar dan Tabhrani)

Selasa, 30 Juli 2013

-Al-qur'an adalah kitab suci umat islam ... al-qur'an selain kitab suci ialah sebagai penuntun manusia untuk mengerjakan perintah dari allah SWT.

Sejarah Turunnya Al-Qur'an 
- Setiap tahun pada tanggal 17 Ramadhan orang islam di dunia selalu memperingati Nuzulul Qur'an. Dimana pada bulan ramadhan merupakan bulan diturunkannya al-qur'an atau Nuzulul Qur'an. Perlu kiranya kita mempelajari sejarah, sebagai upaya untuk menambah keteguhan iman kita kepada Allah SWT dan kitab Allah berupa al-Qur'an. Seperti yang pernah awalmula.com baca; " Bila kita tidak mengetahui sejarah, maka kecenderungan akan mengulangi sejarah seperti masa lalu ketika terjadi pemalsuan al-Qur'an pada masa-masa awal mula islam ". Maka dari itu pada kesempatan yang baik ini, awalmula.com berbagi sejarah awal mula Nuzulul Qur'an, bagaimana al-Qur'an diturunkan, bagaimana pula para ulama menjaga al-Qur'an dari masa ke masa, serta pelajaran apa yang dapat kita ambil dari sejarah turunya al-Qur'an tersebut.
Istilah turunnya al-Qur'an berasal dari kata "nazala, yanzilu nazlan" yang artinya turun. Sedangkan nuzul al-Qur'an adalah turunnya al-Quran kepada Nabi Muhammad SAW.

Selasa, 16 Juli 2013

Hikmah dan Cara Dzikir La Ilaha Illallah
Salah satu dzikir yang paling utama adalah kalimat La ilaha Illallah/ لاإله إلاالله  yang artinya tiada Tuhan yang pantas disembah kecuali Allah swt. Begitulah pesan Rasulullah saw kepada Sayyidina Ali Karramallahu Wajahah, ketika beliau secara pribadi memohon agar diberikan dzikir khusus yang lebih berat dari dunia seisinya, dan lebih mudah mendekatkan diri kepada Allah swt.
Maka Rasulullah saw pun menjawab,”Jangan begitu Saudaraku Ali, bahwa ucapan yang paling utama yang aku ucapkan dan juga diucapkan nabi-nabi sebelumku adalah La ilaha Illallah
”أفضل ماقلت أنا والنبيون من قبلي لاإله إلاالله
Demikianlah Rasulullah saw memberikan ijazah dzikir لاإله إلاالله kepada sayyidina Ali yang kemudian diturunkan kepada para sahabat, tabi’in dan tabiut tabi’in hingga kepada kita semua. Karena sesungguhnya kalimat لاإله إلاالله menyimpan berbibu hikmah bahkan juga dunia seisinya.
Dalam salah satu hadits riwayat sahabat Anas disebutkan
مَنْ قَالَ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ وَمَدَّهَا هُدِمَتْ لَهُ أَرْبَعَةُ آلافِ ذَنْبٍ مِنَ الْكَبَائِرِ“
Sesungguhnya barang siapa membaca kalimat Tauhid لآ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ dan memanjangkannya, maka baginya akan dihapus empat ribu macam dosa besar”.

Selasa, 09 Juli 2013

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani saat Umat Saling Mengkafirkan
Negeri Baghdad sedang mengalami kekacauan. Umat Islam terpecah belah. Para tokoh Islam menjadikan khutbah Jum’at sebagai ajang untuk saling mengkafirkan. Di saat bersamaan, seorang Abdul Qadir Al-Jailani muda diamanati oleh gurunya, Syekh Abu Sa’ad Al-Muharrimi untuk meneruskan dan mengembangkan madrasah yang telah didirikannya.
Syekh Abdul Qadir Al-Jailani lalu berpikir bahwa perpecahan di antara umat Islam adalah akar masalah pertama yang harus segera disikapi, ilmu pengetahuan tidak pada posisinya yang benar jika hanya digunakan sebagai dalih untuk saling menyesatkan di antara sesama saudara.
Di tengah kegelisahannya atas keadaan umat Islam pada saat itu, Syekh Abdul Qadir Al-Jailani berniat untuk menemui setiap tokoh dari masing-masing kelompok, niat memersatukan umat Islam tersebut ia lakukan dengan sabar dan istiqomah, meskipun hampir dari setiap orang yang dikunjunginya justru menolak, mengusir, atau bahkan berbalik memusuhinya.