"Migunani Marang liyan,Ora Gawe Kapitunaning Liyan,Marsudi Luhur Ing jiwo"
Tampilkan postingan dengan label Mutiara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mutiara. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 01 Oktober 2016

Mbah Dimyati



Mbah Dimyathi
Santri Hadratussyekh Hasyim Asy'ari dari Seda  


KH Dimyathi bin KH Muslim adalah salah satu ulama lahir sekitar tahun 1880 di Rembang, Jawa Tengah, dari keluarga sederhana namun tegas dalam hal agama. Tak diketahui secara pasti kapan persisnya Mbah Dimyathi, sapaan akrabnya, dilahirkan. Putra pertama dari KH Muslim dan Mbah Siti Jiddah ini memiliki satu saudara kandung bernama KH Ma'shum.

Sejak kecil kedua orang tuanya begitu keras dalam mendidik agama. Terbukti dengan riwayat pendidikan yang dijalani Mbah Dimyathi di beberapa pesantren ternama, di antaranya pesantren Sarang, Jombang dan juga pernah belajar di Makkah.

Di sisi lain, ulama alim yang satu ini juga memiliki peranan penting dalam penyebaran Islam di wilayah Kecamatan Sedan, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Beliau sering melakukan perjalanan ke desa-desa untuk memberikan nasihat dan syiar agama Islam. Masyarakat yang didatangi beliau pun terkagum-kagum karena enaknya bahasa beliau yang digunakan dalam penyampaian nasihat tersebut. Saat melakukan perjalanan beliau menggunakan dokar (delman) sebagai kendaraannya.

Sabtu, 18 Juni 2016

AJARAN KETIGAPULUH EMPAT
Sungguh mengherankan, jika kamu membuat Tuhanmu murka, menyalahkan-Nya atau mengatakan bahwa Dia tidak adil, merendahkan pemberian atau menyingkirkan marabahaya. Tidakkah kamu mengetahui bahwa setiap kejadian atau peristiwa itu telah ditetapkan masanya dan setiap marabahaya itu telah ditetapkan temponya yang tidak boleh ditangguhkan atau dipercepat: Masa bahaya tidak dapat ditukar dengan masa aman dan masa aman pun tidak dapat ditukar dengan masa huru-hara. Oleh karena itu, hendaklah kamu bersopan-santun, diam dan jangan banyak bicara, bersabar, berserah diri sepenuhnya dengan tulus ikhlas kepada-Nya, menyesuaikan kehendakmu dengan kehendak-Nya dan bertobat kepada Allah karena kesalahan yang telah kamu perbuat.
Manusia dan mahlukalah yang tunduk takluk kepada Allah, dan bukannya Allah yang tunduk takluk kepada manusia dan mahluk. Kembalilah kepada manusia untuk meminta kepadanya, dia akan memberikan permintaannya, tetapi tidak musti Allah akan memberi permintaan hamba-hamba-Nya. Kembalilah kepada Allah, baik Dia akan mengabulkan maupun tidak mengabulkan permintaan hamba-hamba-Nya. Dia-lah Yang Maha Agung dan Maha Kaya, dan Dia-lah Yang Maha Berdiri Sendiri, tanpa mempunyai sekutu. Dia menjadikan sesuatu dan Dia menentukan kebaikan atau kejahatan. Dia mengetahui awal dan akhir serta tujuan mahluk. Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Agung itu Maha Bijaksana di dalam berbuat dan Maha Tegas di dalam membuat peraturan, tidak ada yang berlawanan di dalam perbuatan-Nya itu. Dia tidak menjadikan sesuatu dengan sia-sia atau tanpa tujuan. Pekerjaan-Nya bukan merupakan permainan. Tidaklah wajar, jika di dalam perbuatan-Nya itu terdapat cacad atau cela, karena Dia Maha Bijaksana dan Maha Tahu. Hendaklah kamu bersabar menanti, jika kamu belum dapat menyesuaikan dirimu dengan Dia, belum dapat menunjukkan penyerahanmu kepada-Nya dan mem-fana’-kan dirimu kepada-Nya, sampai takdir Illahi datang pada tempo yang telah cukup dan masa bertukarpun telah datang bagaikan siang berganti malam atau musim panas berganti musim dingin.

Sabtu, 24 Mei 2014

Kiai Manshur Popongan, Mursyid Tarekat Naqsyabandiyah

KH Muhammad Manshur, adalah pendiri Pondok Pesantren Popongan, Dusun Popongan, Desa Tegalgondo, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Klaten. Kiai Manshur adalah putera Syaikh Muhammad Abdul Hadi Giri Kusumo, seorang mursyid Tarekat Naqsyabandiyah-Khalidiyah di Giri Kusumo Mranggen Demak.
Berdasarkan cerita yang berkembang. pada prosesi pemakaman Mbah Hadi, terjadi sebuah fenomena khariqul “addah (aneh, luar biasa), yakni ada batu besar yang berada dekat calon makam Mbah Hadi. Seluruh pelayat tidak mampu menyingkirkan batu tersebut. Setelah Mbah Kiai Manshur datang, maka batu tersebut diangkatnya sendiri.
Mbah Manshur belajar agama kepada orang tuanya sendiri, yaitu Syaikh Muhammad Hadi Girikusumo. Ketika remaja, ia belajar Islam dan nyantri di Pondok Pesantren Jamsaren Surakarta yang diasuh oleh Kiai Idris, sebuah pesantren tua yang pendiriannya dipelopori oleh Kraton Kasunanan Surakarta. Manshur muda kemudian mendirikan pesantren di Dusun Popongan Klaten, 20 KM dari Jamsaren Surakarta.
Kedatangan Mbah Manshur di Popongan bukan sebuah kebetulan. Sebelum ke Popongan, Klaten, Mbah Manshur sengaja dikirim oleh Mbah Hadi untuk belajar di Jamsaren, dan dalam perkembangannya menemukan Popongan sebagai tempat dakwah, pendidikan, dan pengembangan Islam, khususnya

Rabu, 05 Februari 2014

KISAH TAUBATNYA ORANG YANG MENGINGKARI KITAB IHYA' ULUMIDDIN
Kisah Taubatnya Orang yang Mengingkari dan Ingin Membakar Kitab Ihya' Ulumiddin –
Siapa yang tidak kenal dengan kitab Ihya' Ulumiddin ? Kitab fenomenal karya hujjatul islam Imam Ghazali ini sangat dikenal di seantero negeri. di pesantren-pesantren salaf, kitab ini menjadi rujukan dan kajian utama dan "makanan" sehari-hari para santri. Di kalangan ulama tasawuf, kitab ihya' juga menjadi kitab rujukan utama dari berbagai aliran thariqah yang ada. Namun demikian, ada sebagian kelompok yang mengingkari kitab ihya' ini dengan mengatakan bahwa di dalamnya banyak sekali hadist dhaif. Padahal jumhur ulama sepakat bahwa hadist dhaif masih dapat digunakan untuk berhujjah khususnya yang berkaitan dengan fadhailul 'amal.

Terlebih dengan ulama sekaliber imam Ghazali, tentu saja tidak serampangan menggunakan hadist dan dalam membuat karyanya tersebut. Beliau sangat berhati-hati dalam menulis karyanya tersebut. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Habib Muhammad Luthfi bin Yahya bahwa sebelum dimasukkan dan ditulis ke dalam kitab ihya', Imam Ghazali senantiasa konsultasi dulu secara bathiniyah dengan Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam. dan ini yang di kalangan sufi merupakan sesuatu yang lumrah sementara di luar mereka sangat sulit untuk mempercayainya.Seperti kisah seorang ulama bernama Abul Hasan Ali bin Harzahim al-Faqih atau lebih dikenal dengan al-Maghrabi yang mengingkari kitab Ihya'. Berikut kisah selengkapnya yang dikutip dari kitab ta'rifil ahya' bifadhailil ihya':

Sabtu, 09 November 2013

Habib Husein bin Abu Bakar Alaydrus Luar Batang

Al Habib Husein bin Abu Bakar Alaydrus dilahirkan di Yaman Selatan, tepatnya di daerah Hadhramaut, tiga abad yang silam. Ia dilahirkan sebagai anak yatim, yang dibesarkan oleh seorang ibu dimana sehari-harinya hidup dari hasil memintal benang pada perusahaan tenun tradisional. Husein kecil sungguh hidup dalam kesederhanaan.
Setelah memasuki usia belia, sang ibu menitipkan Habib Husein pada seorang “Alim Shufi”. Disanalah ia menerima tempaan pembelajaran thariqah. Di tengah-tengah kehidupan di antara murid-murid yang lain, tampak Habib Husein memiliki perilaku dan sifat-sifat yang lebih dari teman-temannya.

Setiap ahli thariqah senantiasa memiliki panggilan untuk melakukan hijrah, dalam rangka mensiarkan islam ke belahan bumi Allah. Untuk melaksanakan keinginan tersebut Habib Husein tidak kekurangan akal, ia bergegas menghampiri para kafilah dan musafir yang sedang melakukan jual-beli di pasar pada setiap hari Jum’at.

Sabtu, 26 Oktober 2013


Nama asli Khidir adalah Balya bin Malkan bin Faligh bin 'Abir bin Salikh bin Arfakhsad bin Sam bin Nuh. Silsilah nama ini berasal dari pendapat Ibnu Abbas. Menurut pendapat Ibnu Ishak, dia adalah putra Al-'Ish bin Ishak bin Ibrahim al-Khalit.

Berbeda dengan keduanya, an-Naqhasy memiliki pendapat lain. Menurutnya, Khidir adalah putra Fir'aun. Akan tetapi, menurut at-Thabari pendapat ini tidak valid. Sebagian ulama lain berpendapat Khidir adalah Alyasa ', teman Ilyas.Pendapat ini tidak valid. Ada lagi yang berpendapat bahwa Khidir adalah Armiya '. Sayang, pendapat ini pun tidak valid.

Sementara itu, Abu al-Qasim Abdullah bin Hasan al-Khats'ami dalam kitab at-Tartf rnenyatakan, Khidir adalah putera seorang raja bernama 'Amiyal. Raja ini merupakan putra dari Al-'Ish ibnu Ishak. Ibunya adalah Alha, seorang putri raja bernama Faris.

Diceritakan, Khidir dilahirkan di sebuah gua. Ibunya memberikan susu segar kambing setiap hari ketika Khidir masih bayi. Kemudian, Khidir diambil anak oleh seorang penggembala dan dididik sampai menginjak dewasa. Dia tumbuh menjadi anak cerdas dalam hal tulis dan membaca Shuhuf (lembaran-lembaran) yang diturunkan kepada Nabi Ibrahim.

Selasa, 13 November 2012

Mbah Ma’shum: Simpul Jejaring Ruhani
Kyai besar dan Wali Allah yang amat dihormati di kalangan umat Islam ini, yang biasa disapa Mbah Ma’shum, adalah salah satu dari dua “Gembong Kyai” asal Lasem selain Kyai Baidhowi Abdul Aziz. Beliau senantiasa menjalin silaturahmi, jujur, mengayomi, menghormati tamu dan teguh menjaga kebenaran. Seluruh hidupnya diabdikan kepada masyarakat, terutama kaum papa. Beliau bahkan menganggap pengabdian ini sebagai laku tarekatnya. Menurut Denys Lombard, ahli sejarah terkenal, “[Mbah Masum] adalah seorang guru (kyai) dari Lasem yang kurang dikenal di tingkat nasional, namun kematiannya pada tahun 1972 menimbulkan guncangan hebat dari satu ujung jaringan ke ujung jaringan lainnya.”
Nama aslinya adalah Muhammadun, diperkirakan lahir sekitar tahun 1870. Ayahnya bernama Ahmad, seorang saudagar. Dari jalur ayahnya, beliau masih punya hubungan darah dengan Sultan Minangkabau, dan silsilahnya bersambung hingga ke Rasulullah. Ibunya bernama Nyai Qosimah. Mbah Ma’shum punya dua saudara, yakni Nyai Zainab dan Nyai Malichah. Sejak kecil Mbah Ma’shum telah dikirim ke beberapa pesantren untuk mendalami ilmu agama, di antaranya kepada Kyai Nawawi Jepara, Kyai Ridhwan Semarang, Kyai Umar Harun Sarang, Kyai Abdus Salam Kajen, Kyai Idris Jamsasren Solo, Kyai Dimyati Termas, Kyai HASYIM ASY’ARI Jombang dan Kyai KHOLIL BANGKALAN.

Senin, 29 Oktober 2012

KITAB ALJABAR PERTAMA YANG LENGKAP TERNYATA KARYA SEORANG MUSLIM
Kitab yang aslinya berjudul al-Kitab al-mukhtasar fi hisab al-gabr wa'l-muqabala. Dalam bahasa Inggris dikenal sebagai "The Compendious Book on Calculation by Completion and Balancing" (Ringkasan Perhitungan Aljabar dan Perbandingan).  
Kitab peletak dasar matematika modern itu biasa pula disebut Hisab al-jabr wal-muqabala. Kitab ini merupakan karya seorang ilmuwan Muslim yang  juga seorang sufi pada abad ke-9 M yang sangat monumental.
Penulis kitab matematika itu adalah Muhammad Ibnu Musa al-Khawarizmi Matematikus Muslim asal Persia itu merampungkan kitab yang sangat populer dan menjadi rujukan para ahli matematika sepanjang zaman itu pada  820 M. 
Berkat kitab inilah, dunia matematika modern mengenal istilah Aljabar.  Aljabar berasal dari bahasa Arab al-gabr yang berarti ''pertemuan'' atau ''hubungan.''

Sabtu, 20 Oktober 2012

Mengenal Imam Ibnu Malik
by PPNI Nurul Ikhlash
Pengarang Kitab Alfiyyah  
Ibnu Malik, nama lengkapnya adalah Syeikh Al-Alamah Muhammad Jamaluddin ibnu Abdillah ibnu Malik al-Thay, lahir di Jayyan. Daerah ini sebuah kota kecil di bawah kekuasaan Andalusia (Spanyol). Pada saat itu, penduduk negeri ini sangat cinta kepada ilmu, dan mereka berpacu dalam menempuh pendidikan, bahkan berpacu pula dalam karang-mengarang buku-buku ilmiah. Pada masa kecil, Ibn Malik menuntut ilmu di daerahnya, terutama belajar pada Syaikh Al-Syalaubini (w. 645 H).
Setelah menginjak dewasa, ia berangkat ke Timur untuk menunaikan ibadah haji,dan diteruskan menempuh ilmu di Damaskus. Di sana ia belajar ilmu dari beberapa ulama setempat, antara lain Al-Sakhawi (w. 643 H). Dari sana berangkat lagi ke Aleppo, dan belajar ilmu kepada Syaikh Ibn Ya’isy al-Halaby (w. 643 H).

Sabtu, 13 Oktober 2012

Syeh Samsuddin Penyebar Islam Pertama di Tuban

Sosialnews.com – Siapa sangka awal penyebaran Islam di telatah Tuban ada di Desa Jenu Kecamatan Jenu, terbukti dengan adanya makam tua yang dihormati oleh masyarakat setempat yaitu makam Syeh Samsuddin. datang dari negeri timur tengah menyebarkan agama Islam, 5 abad yang lalu.
“Keberadaan makam Syeh Samsuddin yang tepat di belakang masjid astana, menurut cerita para sesepuh desa sudah sangat lama kurang lebih sudah hampir 5 abad yang lalu dan meyebarkan Islam di Desa Jenu dan sekitarnya.” Terang Abdul Malik juru kunci makam Syeh Samsuddin.
Perjuangan Syeh Samsuddin dalam menyebarkan Islam ke tanah Jawa, khususnya wilayah Tuban sudah lama sebelum Wali Songo, sehingga diyakini oleh masyarakat setempat pertama kali penyebaran Islam di tanah jawa itu dari wilayah Jenu.

Rabu, 03 Oktober 2012

Setelah berkembang selama lebih dari enam abad, thariqah saat ini telah tersebar di seluruh nusantara. Pada awal abad dua puluh satu ini ribuan guru mursyid tinggal dan mengajarkan ilmunya di seluruh pelosok tanah air. Berikut sekilas profil lima mursyid yang mewakili tiga thariqah terbesar di tanah air: Qadiriyyah wa Naqsyabandiyyah, Naqsyabandiyyah Khalidiyyah dan Syadziliyyah.

Tokoh pertama adalah Abah Anom. Kedudukannya sebagai seorang mursyid Thariqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah sekaligus ulama sepuh membuatnya menjadi tempat berteduh bagi jiwa-jiwa yang dahaga. Sebagai orang tua telah kenyang dengan asam garam kehidupan Abah Anom dengan arif menerima kunjungan tamu-tamunya, siapapun adanya dan apapun kepentingannya. Hidupnya dengan ikhlas dipersembahkan untuk melayani umat manusia.

Sabtu, 15 September 2012

Muhammad Arsyad al-Banjari
Syekh Muhammad Arsyad bin Abdullah bin Abdur Rahman al-Banjari (atau lebih dikenal dengan nama Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari (lahir di Lok Gabang, 17 Maret 1710 – meninggal di Dalam Pagar, 3 Oktober 1812 pada umur 102 tahun atau 15 Shofar 1122 – 6 Syawwal 1227 H)[1] adalah ulama fiqih mazhab Syafi’i yang berasal dari kota Martapura di Tanah Banjar (Kesultanan Banjar), Kalimantan Selatan. Beliau hidup pada masa tahun 1122-1227 hijriyah. Beliau mendapat julukan anumerta Datu Kelampaian.
Beliau adalah pengarang Kitab Sabilal Muhtadin yang banyak menjadi rujukan bagi banyak pemeluk agama Islam di Asia Tenggara
Beberapa penulis biografi Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari, antara lain Mufti Kerajaan Indragiri Abdurrahman Siddiq, berpendapat bahwa ia adalah keturunan Alawiyyin melalui jalur Sultan Abdurrasyid Mindanao.

Sabtu, 01 September 2012

Para penuntut ilmu agama di Makkah pada akhir abad 19 hingga paruh pertama abad 20 pasti mengenal Syekh Muhammad Ali Al- Maliki. Meskipun dibelakang nama beliau terdapat nama Al-Maliki, namun beliau tidak memiliki hubungan nasab dengan Sayyid Muhammad Alwi Al Maliki, ulama terkemuka Makkah yang wafat tahun 2004 yang lalu.
Walaupun demikian hubungan keilmuan tetap ada karena ayahanda Sayyid Muhammad Alwi Al Maliki, yakni Sayyid Alwi bin Abbas Al Maliki merupakan murid dari Syekh Alwi Al Maliki.
Nama lengkap beliau adalah Muhammad Ali bin Husain bin Ibrahaim bin Husain bin `Abid Al Makki Al Maliki. Ulama keturunan Maroko ini lahir di Makkah tahun 1287 H/1870 M. ketika beliau berusia lima tahun (tahun 1292 H/1875 M) ayahnya Syekh Husain bin Ibrahim wafat, kemudian beliau diasuh oleh kakak beliau Syekh Muhammad bin Husain, ulama mufti mazhab Maliki yang menangani pendidikan beliau dengan baik.

Kamis, 02 Agustus 2012

KH. M. Hasyim Asy’ari
Pahlawan Nasional Pendiri NU
KabarNet: KH. Muhammad Hasyim Asy’ari (selanjutnya disingkat Kiai Hasyim) adalah pendiri pesantren Tebuireng, tokoh ulama dan pendiri Nahdhatul Ulama (NU), organisasi Islam terbesar di Indonesia bahkan di Asia Tenggara. Namanya sudah tidak asing lagi di telinga orang Indonesia. Pahlawan Nasional ini merupakan salah satu tokoh besar Indonesia abad ke-20.
Kiai Hasyim lahir pada Selasa Kliwon, 24 Dzul Qa’dah 1287 H, bertepatan dengan tanggal 14 Februari l871 M, di pesantren Gedang, desa Tambakrejo, sekitar 2 km. ke arah utara kota Jombang. Putra ketiga dari 11 bersaudara pasangan KiaiAsy’ari dan Nyai Halimah. Kiai Asy’ari adalah menantu Kiai Utsman, pengasuh pesantren Gedang.
Dari jalur ayah, nasab Kiai Hasyim bersambung kepada Maulana Ishak hingga Imam Ja’far Shadiq bin Muhammad Al-Baqir. Sedangkan dari jalur ibu, nasabnya bersambung kepada Raja Brawijaya VI (Lembu Peteng), yang berputra Karebet atau Jaka Tingkir. Jaka tingkir adalah raja Pajang pertama (tahun 1568 M) dengan gelar Sultan Pajang atau Pangeran Adiwijaya.

Kamis, 12 Juli 2012

Biografi Sunan Kalijogo
Sunan Kalijaga adalah ulama yang namanya paling banyak disebut masyarakat Jawa. Beliau adalah legenda nyata dari tumbuh dan berkembangnya Islam di Pulau Jawa.

Sayangnya, namanya sering dikaitkan dengan mistisme Jawa alias Kejawen. Benarkan ‘Kejawenisme’ merupakan buah pemikiran Sunan Kalijaga? Siapakah Sunan Kalijaga? Dari mana nama ‘Kalijaga’ berasal? Mari kita bangun perspektif yang benar tentang sosok ini.

Ada beragam versi tentang nama asli Kalijaga. Sejumlah sumber mengatakan bahwa nama asli Sunan Kalijaga ialah ‘Lokajaya’. Sumber lain ada yang menyebut bahwa nama aslinya ‘Raden Abdurrahman’ atau ada juga yang mengatakan bahwa namanya ialah ‘Raden Joko Said’ atau ‘Raden Jaka Syahid’. Pendapat yang terakhir merupakan riwayat yang paling mashyur. Nama Raden Joko Said ialah nama yang dikenal secara turun-temurun oleh para penduduk Tuban hingga masa kini.

Senin, 02 Juli 2012

SILSILAH MUALLIF SHALAWAT WAHIDIYAH
KH. Abdul Madjid QS. Wa RA sebagaimana tertulis pada bagan silsilah termasuk keturunan Rasulullah SAW dari Sayyidina Hasan RA pada urutan ke-32 yaitu :
  1. Nabi Muhammad SAW.
  2. Sayyidah Fatimah RA dan Sayyidina Ali RA.
  3. Sayyidina Hasan RA.
  4. Abdullah Ash-Shadiq.
  5. Alwi.
  6. Muhammad Abdullah.
  7. Ahmad Abdullah.
  8. Hafid Albas.

Selasa, 12 Juni 2012


Kyai Haji Ahmad Dahlan (lahir di Yogyakarta, 1 Agustus 1868 – meninggal di Yogyakarta, 23 Februari 1923 pada umur 54 tahun) adalah seorang Pahlawan Nasional Indonesia. Ia adalah putera keempat dari tujuh bersaudara dari keluarga K.H. Abu Bakar. KH Abu Bakar adalah seorang ulama dan khatib terkemuka di Masjid Besar Kasultanan Yogyakarta pada masa itu, dan ibu dari K.H. Ahmad Dahlan adalah puteri dari H. Ibrahim yang juga menjabat penghulu Kasultanan Yogyakarta pada masa itu.
Latar belakang keluarga dan pendidikan
Nama kecil K.H. Ahmad Dahlan adalah Muhammad Darwisy. Ia merupakan anak keempat dari tujuh orang bersaudara yang keseluruhanya saudaranya perempuan, kecuali adik bungsunya. Dalam silsilah ia termasuk keturunan yang kedua belas dari Maulana Malik Ibrahim, seorang wali besar dan seorang yang terkemuka diantara Wali Songo, yang merupakan pelopor pertama dari penyebaran dan pengembangan Islam di Tanah Jawa (Kutojo dan Safwan, 1991). Adapun silsilahnya ialah Muhammad Darwisy (Ahmad Dahlan) bin KH. Abu Bakar bin KH. Muhammad Sulaiman bin Kyai Murtadla bin Kyai Ilyas bin Demang Djurung Djuru Kapindo bin Demang Djurung Djuru Sapisan bin Maulana Sulaiman Ki Ageng Gribig (Djatinom) bin Maulana Muhammad Fadlullah (Prapen) bin Maulana ‘Ainul Yaqin bin Maulana Ishaq bin Maulana Malik Ibrahim (Yunus Salam, 1968: 6).

Minggu, 27 Mei 2012

KH Badri Masduqi
KH Badri Masduqi merupakan ulama kharismatik yang memiliki jangkauan luas dari berbagai bidang kehidupan. Wajar bila KH Tauhidullah Badri mengatakan, bahwa KH Badri Masduqi adalah sosok multidimensi yang memiliki beragam aktivitas mulai dari pengasuh Pondok Badridduja, Dosen Ma’had Aly serta pemimpin Thariqah Tijaniyah di Indonesia. Semasa hidupnya KH. Badri Masduqi rajin mengisi di berbagai forum pengajian, seminar, bahtsul masail hingga menerima tamu dari berbagai masyarakat yang berkunjung ke rumahnya.
Dilahirkan pada tanggal 1 Juni 1942, KH Badri Masduqi sejak kecil terlihat tanda-tanda keistimewaan. Sejak kecil, ia sudah mulai belajar membaca Al-Quran dengan orang tuanya, Nyai Muyassaroh sekaligus memper oleh didikan yang baik dari kakeknya, Miftahul Arifin yang tinggal di daerah Pamekasan, Madura. Pendidikan formalnya diawali dari Sekolah Rakyat ( SR ) meski hanya sampai kelas IV pada tahun 1950.
Pendidikan informalnya dilakukan melalui pengemba raannya ke berbagai pesantren di Tanah Air. Beberapa pesantren yang pernah ia jelajahi adalah pesantren Zainul Hasan, Probolinggo (1950), Pesantren Bata-Bata, Pamekasan, (1956), Pesantren Sidogiri, Pasuruan ( 1959 ), dan terakhir di Pesantren Nurul Jadid, Probolinggo (1965).

Kamis, 17 Mei 2012

BIOGRAFI MU’ALLIF SHOLAWAT WAHIDIYAH

I. Kelahiran dan masa Kanak-kanak
 KH. Abdul Madjid QS. Wa RA. Lahir dari pernikahan Syekh Mohammad Ma’roef pendiri pondok pesantren Kedunglo dengan Nyai Hasanah putri Kyai Sholeh Banjar Melati Kediri. KH. Abdul Madjid QS. Wa RA, lahir pada hari Jum’at Wage malam 29 Ramadhan 1337 H atau 20 Oktober 1918 sebagai putra ke tujuh dari sembilan bersaudara. Beliau lahir di tengah pesantren yang luas dan sepi dikelilingi rawa-rawa dengan jumlah santri yang tidak pernah lebih dari empat puluh orang yaitu KEDUNGLO. Ketika masih baru berusia dua tahun oleh bapak ibunya, beliau dibawa pergi haji ke Mekkah Al Mukaromah. Di Mekkah, setiap memasuki jam dua belas malam Kyai Ma’roef selalu menggendong beliau ke Baitulloh dibawah Talang Mas.
Di sana Kyai Ma’roef berdoa agar bayi yang berada dalam gendongannya kelak menjadi orang besar yang sholeh hatinya. Begitu juga di tampat-tempat mustajabah lainnya. Kyai Ma’roef selalu mendoakan beliau agar menjadi orang yang sholeh. Konon selama berada di Mekkah, beliau juga di khitan disana dan akan diambil anak oleh salah seorang ulama Arab dan disetujui oleh Kyai Ma’roef, tatapi Nyai Hasanah keberatan sehingga beliau tetap dalam asuhan kedua orang tuanya.

Kamis, 26 April 2012

Putra Sambas Kalimantan Barat Yang Terkenal dan Berpengaruh di Tanah Jawa .

Tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah adalah sebuah nama tarekat yang diberikan oleh Syaikh Khatib Sambasi. Tarekat ini populer dengan sebutan Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah atau disingkat TQN. Syaikh Ahmad Khatib Sambas adalah putra Kalimantan Barat yang belajar agama Islam dan bermukim di Mekkah. Ia belajar Tasawuf pada guru Sufi Qadiriyah, Syaikh Syamsuddin, sampai mendapat derajat yang tertinggi menggantikan gurunya di Jabal Qubais. Oleh gurunya ia diangkat menjadi "Syaikh Mursyid Kamil al Mukammil", kemudian melanjutkan kegiatan gurunya di tempat tersebut dan mendapat sambutan yang sangat antusias terutama dari para pelajar asal Nusantara sejak awal abad ke 19. Pada tahun 1870, ia merumuskan tarekat baru yang disebut TQN. TQN merupakan penggabungan dua tarekat yang berbeda yaitu Qadiriyah dan Naqshabandiyah menjadi metode tersendiri yang praktis untuk menempuh jalan spiritual. Perkembangan di Nusantara Syaikh Ahmad Khatib Sambas adalah seorang ulama Indonesia paling berpengaruh sepanjang abad 19, beliau juga pendiri TQN yang tersebar luas di Nusantara, terutama di Jawa. Beliau juga dikenal sebagai cendekiawan ulung terutama di bidang ilmu agama, seperti Qur’an, hadits, fiqih, kalam, dan, tentu saja, tasawuf. Nama lengkapnya ialah Syaikh Muhammad khatib bin Abdul Ghafar as Sambasi Al Jawi, lahir di Kampung Asam, Sambas, Kalimantan Barat, pada tahun 1805 M (1217 H).