"Migunani Marang liyan,Ora Gawe Kapitunaning Liyan,Marsudi Luhur Ing jiwo"
Tampilkan postingan dengan label Ta'aruf. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ta'aruf. Tampilkan semua postingan

Kamis, 21 Oktober 2010




Syeikh Tolhah Kalisapu Cirebon
Riwayat singkat
Mursyid Thoriqoh Qodiriyyah wan Naqsyabandiyyah
“SYEIKH TOLHAH BIN THOLABUDDIN”
Lahir di Desa Trusmi, kecamatan Weru, Kabupaten Cirebon diperkirakan tahun 1825.
Ayahnya bernama KH. Tolabuddin, lahir di Desa Trusmi putera dari KH. Radpuddin keturunan Pangeran Trusmi putera Sunan Gunungjati.
Mengikuti pendidikan agama, diawali di Pesantren Rancang (pesantren ayahnya), kemudian melanjutkan ke Pesantren Ciwaringin (semuanya masih diwilayah Kabupaten Cirebon) kemudian melanjutkan ke Pesantren Lirboyo di Ponorogo-Jawa Timur, kemudian meneruskan di Gresik-Jawa Timur, dari Gresik pulang dahulu mengajar di Pesantren Rancang membantu ayahnya. Selanjutnya pergi menunaikan ibadah Haji dan terus mukim di Mekkah, mempelajari Tasawuf dan Thoriqoh dari Syekh Ahmad Khatib Sambas Ibn. Abdul Gaffar khusus tentang Thoriqoh Qodiriyyah Naqsyabandiyyah (TQN) hingga mencapai kedudukan sebagai wakil Talqin dan membantu Syekh Ahamad Khatib Sambas beberapa waktu lamanya.
Diperkirakan tahun 1873 kembali dari Mekah mengajar di Pesantren Rancang.
Sekitar tahun 1876 mendirikan pesantren di Begong, Desa Kalisapu, Kabupaten Cirebon.
Ditangkap oleh aparat keamanan colonial Belanda di Cirebon sekitar tahun 1889 atas tuduhan menghina Ratu Belanda dan mempersiapkan perlawanan pemerintah kolonial Belanda.
Berangkat ke Mekah untuk kedua kalinya, kembali dari Mekah berhenti beberapa waktu lamanya di Singapura kerena kapalnya rusak. Sempat memberi pelajaran tentang TQN di Singapura.
Dari pernikahan dengan isteri-isterinya dikaruniai anak 18 laki-laki, 8 perempuan dan punya cucu 69 orang (sebagian kecil masih hidup)
Menjadi penasehat dan pembimbing keagamaan di Kesultanan Kasepuhan Cirebon, Bupati Kuningan 1892 dan bagi para pejabat tinggi pemerintahan dan para bangsawan di Cirebon.
Meniggal dunia tahun 1935 dimakamkan di komplek pemakaman Gunung Jati.
Sumber ; Da'i kembar.wordpress.com.

Selasa, 05 Oktober 2010


Silaturahmi Manakib


Salah satu kegiatan rotin Majlis Dzikir Al Mubarok adalah Silaturahmi Manakib kepada Para ikhwan dan akhwat yang di kampung halaman Di mulai satu hari setelah Idzul Fitri ,berpindah dari satu rumah kerumah yang lain antar desa dan kecamatan serta antar kabupaten .
Kegiatan ini adalah agenda yang telah di laksanakan sejak tahun 1994.M
Tepatnya setelah pendiri dan kordinator Majlis Dzikir ini yaitu Bpk Ruslan Taroni ,berbaiat atau Talqin Dzikir THoriqoh Qodiriyyah Wan Naqsyabandiyyah PonPes Suryalaya pada Nopember 1993 M.
Majlis Dzikir ini berawal adalah komonitas pengajian Yasinan dan Tahlil yang di mulai sejak 15 maret 1991 M ,yang waktu itu masih bertempat di kontrakan yaitu di Rumah Bpk Kasno ,kavling atas Serpong tepatnya pinggir jalan kereta Jakarta –Merak dan dekat dengan pasar Serpong.
Sejak awal tahun 1994 M ,maka kegiatan di tambah dengan manakib dan Khotaman ,yang terus berpindah dari satu tempat/kontrakan ke tempat yang lain,sehingga pada tahun 1997 M medirikan Musholla di Kavling bawah yang di beri nama Baitul Mu’minin,dan Jama’ah Pengajiannya di namakan “ Jam’iyyah Al Mubarokiyyah “
Dan pada perkembangan selanjutnya pada usianya Yang ke 17 Thn dig anti dengan nama “ Majlis Dzikir dan Musholla AL Mubarok “ atas saran dan izin Pangersa Ajengan Ghaos saat hadir dalam acara Manakib rutin bulanan.
Menjelang tahun 2011 M ini program kegiatan di Majlis ini adalah sebagai berikut :
1. Manakib rotin bulanan yang dilaksanakan setiap malam senin ke tiga setelah manakib di PonPes Suryalaya (awalnya manakib di laksanakan malam senin ke empat kalender Masehi ,atas saran Bpk H Baban ( Putra Pangersa Abah ) maka mulai tahun 2010 M ,manakib di laksanakan malam senin ke tiga setelah manakib di PonPes Suryalaya.
2. Setiap malam selasa Tadarusan Al Qur’an 30 juz .
3. Malam Jum’at ke 1 Training Ekonomi Sufistik .
4. Malam Jum’at ke 2 Khotaman .
5. Malam Jum’at ke 3 Pembacaan Sholawat Bani Hasyim .
6. Setiap Jum’at pagi manakib bersama ikhwan yang menginap di Majlis .
7. Setiap lebaran Idzul Fitri silaturahmi manakib dan Ziarah dan pada hari ke Sembilan bulan syawal berangkat ke PonPes Suryalaya
Program Ekonomi adalah :
1. Tabungan Hari Raya (TABUNGAN TOHIR).
2. Tabungan Qurban dan Ziarah (TAQORUB)
3. Usaha Ikhwan Mandiri ( USWAH ).
4. Dana Ikhwan Mandiri (DAIMAN).
5. Dana Perawatan dan Persiapan Renovasi ( DPR).
6. Menerima Titipan (AMANAH).
7. Modal bergilir /berputar ( MOHTAR).
Mudah mudahan program ini berjalan sesuai dengan rencana. Amiin
By Rt…

Minggu, 01 Agustus 2010



Al Mubarok Cerdas ,semangat ,berkwalitas,
Al Mubarok Sukses ,luar biasa ,yes yes yes.

Kalimat di atas selalu di ucapkan oleh para jam'ah diMajlis Dzikir Al Mubarok Kavling Serpong sesaat sebelum acara Training Ekonomi Sufistik di mulai,dipandu protokol Bpk Sugandi dari Ciledug ,Tangerang dan asisten Bpk Canipan dari Grogol Jakarta .
Para peserta nampak penuh semangat mengikuti kegiatan yang di laksanakan sebulan sekali pada malam Jum'at pertama setelah acara Manakib di PonTren Suryalaya.
Selain acara training tersebut ,setiap malam Jum'at juga di adakan Kajian Tasauf yang selalu di laksanakan setelah solat berjama'ah Maghrib ,Dzikir ,Khotaman ,sholat sholat sunah .Sholat Isya' ,Dzikir ,sholat Lidaf'il Bala' serta Khotaman ,serta makan malam bersama.
Pada setiap malam selasa pertama setelah manakib di PonTren Suryalaya di adakan pula Khotaman ,malam selasa kedua Sholawatan Bani Hasyim ,dan ke tiga pembacaan Surat Yasiin dan lain nya .
Setiap malam Minggu mengikuti acara Manakib di lingkungan Serpong .

Di bidang Ekonomi kegiatan Majlis Dzikir Al Mubarok adalah :
1. Tabungan Tohir = Tabungan Hari Raya ,setiap malam Jum'at yang di bagikan menjelang pulang kampung di bulan Romadlon karena untuk keperluan lebaran .
2. Tabungan Taqorub =Tabungan Qurban ,setiap malam Jum'at di ambil atau di bagikan pada bulan Haji ,untuk kepentingan ibadah Qurban.
3. Tabungan Hidmat = Tabungan untuk kepentingan ziarah ke PonTren Suryalaya atau ke tempat lain nya ,di ambil atau di bagikan disaat penabung membutuhkan.
4. Tabungan Amanah = Tabungan titipan jangka panjang untuk biaya sekolah anak atau kepentingan lain nya ,di ambil atau di bagikan di saat penabung membutuhkan .
5. Uswah = Usaha Ikhwan Mandiri ,modal dari tabungan jama'ah dikembangkan berbentuk usaha ke untungan nya untuk biaya operasional Majlis Dzikir .
Kegiatan tersebut yang sudah berjalan ,dan akan terus ber "inovasi " lagi untuk kemajuan dan ke suksesan Majlis Dzikir Al Mubarok .
Semoga................... Amiin

Jumat, 30 Juli 2010


Sejarah Pondok Pesantren Suryalaya

Pondok Pesantren Suryalaya dirintis oleh Syaikh Abdullah bin Nur Muhammad atau yang dikenal dengan panggilan Abah Sepuh, pada masa perintisannya banyak mengalami hambatan dan rintangan, baik dari pemerintah kolonial Belanda maupun dari masyarakat sekitar. Juga lingkungan alam (geografis) yang cukup menyulitkan.

Namun Alhamdullilah, dengan izin Allah SWT dan juga atas restu dari guru beliau, Syaikh Tholhah bin Talabudin Kalisapu Cirebon semua itu dapat dilalui dengan selamat. Hingga pada tanggal 7 Rajab 1323 H atau 5 September 1905, Syaikh Abdullah bin Nur Muhammad dapat mendirikan sebuah pesantren walaupun dengan modal awal sebuah mesjid yang terletak di kampung Godebag, desa Tanjung Kerta. Pondok Pesantren Suryalaya itu sendiri diambil dari istilah sunda yaitu Surya = Matahari, Laya = Tempat terbit, jadi Suryalaya secara harfiah mengandung arti tempat matahari terbit.

Pada awalnya Syeikh Abdullah bin Nur Muhammad sempat bimbang, akan tetapi guru beliau Syaikh Tholhah bin Talabudin memberikan motivasi dan dorongan juga bimbingan khusus kepadanya, bahkan beliau pernah tinggal beberapa hari sebagai wujud restu dan dukungannya. Pada tahun 1908 atau tiga tahun setelah berdirinya Pondok Pesantren Suryalaya, Abah Sepuh mendapatkan khirqoh (legitimasi penguatan sebagai guru mursyid) dari Syaikh Tholhah bin Talabudin
Seiring perjalanan waktu, Pondok Pesantren Suryalaya semakin berkembang dan mendapat pengakuan serta simpati dari masyarakat, sarana pendidikan pun semakin bertambah, begitu pula jumlah pengikut/murid yang biasa disebut ikhwan.
Dukungan dan pengakuan dari ulama, tokoh masyarakat, dan pimpinan daerah semakin menguat. Hingga keberadaan Pondok Pesantren Suryalaya dengan Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah-nya mulai diakui dan dibutuhkan. Untuk kelancaran tugas Abah Sepuh dalam penyebaran Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah dibantu oleh sembilan orang wakil talqin, dan beliau meninggalkan wasiat untuk dijadikan pegangan dan jalinan kesatuan dan persatuan para murid atau ikhwan, yaitu TANBIH.
Syaikh Abdullah bin Nur Muhammad berpulang ke Rahmattullah pada tahun 1956 di usia yang ke 120 tahun. Kepemimpinan dan kemursyidannya dilimpahkan kepada putranya yang kelima, yaitu KH. Ahmad Shohibulwafa Tajul Arifin yang akbrab dipanggil dengan sebutan Abah Anom. Pada masa awal kepemimpinan Abah Anom juga banyak mengalami kendala yang cukup mengganggu, di antaranya pemberontakan DI/TII. Pada masa itu Pondok Pesantren Suryalaya sering mendapat gangguan dan serangan, terhitung lebih dari 48 kali serangan yang dilakukan DI/TII. Juga pada masa pemberontakan PKI tahun 1965, Abah Anom banyak membantu pemerintah untuk menyadarkan kembali eks anggota PKI, untuk kembali kembali ke jalan yang benar menurut agama Islam dan Negara.
Perkembangan Pondok Pesantren Suryalaya semakin pesat dan maju, membaiknya situasi keamanan pasca pemberontakan DI/TII membuat masyarakat yang ingin belajar Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah semakin banyak dan mereka datang dari berbagai daerah di Indonesia. Juga dengan penyebaran yang dilakukan oleh para wakil talqin dan para mubaligh, usaha ini berfungsi juga untuk melestarikan ajaran yang tertuang dalam asas tujuan Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah dan Tanbih. Dari tahun ke tahun Pondok Pesantren Suryalaya semakin berkembang, sesuai dengan tuntutan zaman, maka pada tanggal 11 maret 1961 atas prakarsa H. Sewaka (Alm) mantan Gubernur Jawa Barat (1947 – 1952) dan mantan Mentri Pertahanan RI Iwa Kusuma Sumantri (Alm) (1952 – 1953). Dibentuklah Yayasan Serba Bakti Pondok Pesantren Suryalaya. Yayasan ini dibentuk dengan tujuan untuk membantu tugas Abah Anom dalam penyebaran Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah dan dalam usaha mencerdaskan kehidupan bangsa.
Setelah itu Pondok Pesantren Suryalaya semakin dikenal ke seluruh pelosok Indonesia, bahkan sampai ke Negara Singapura, Malaysia, Brunai Darussalam, dan Thailand, menyusul Australia, negara-negara di Eropa dan Amerika. Dengan demikian ajaran Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah pun semakin luas perkembangannya, untuk itu Abah Anom dibantu oleh para wakil talqin yang tersebar hampir di seluruh Indonesia, dan juga wakil talqin yang berada di luar negeri seperti yang disebutkan di atas.
Pada masa kepemimpinan Abah Anom, Pondok Pesantren Suryalaya berperan aktif dalam kegiatan Keagamaan, Sosial, Pendidikan, Pertanian, Kesehatan, Lingkungan Hidup, dan Kenegaraan. Hal ini terbukti dari penghargaan yang diperoleh baik dari presiden, pemerintah pusat dan pemerintah daerah, bahkan dari dunia internasional atas prestasi dan jasa-jasanya. Dengan demikian eksistensi atau keberadaan Pondok Pesantren Suryalaya semakin kuat dan semakin dibutuhkan oleh segenap umat manusia.
Sumber:www.suryalaya.org


Riwayat Singkat
Syaikh Abdullah Mubarok bin Nur Muhammad

Syaikh Abdullah Mubarok bin Nur Muhammad atau yang biasa di panggil Abah Sepuh, lahir tahun 1836 di kampung Cicalung Kecamatan Tarikolot Kabupaten Sumedang (sekarang, Kp Cicalung Desa Tanjungsari Kecamatan Pagerageung Kabupaten Tasikmalaya) dari pasangan Rd Nura Pradja (Eyang Upas, yang kemudian bernama Nur Muhammad) dengan Ibu Emah. Beliau dibesarkan oleh uwaknya yang dikenal sebagai Kyai Jangkung. Sejak kecil, beliau sudah gemar mengaji/mesantren dan membantu orang tua dan keluarga, serta suka memperhatikan kesejahteraan masyarakat. Setelah menyelesaikan pendidikan agama dalam bidang akidah, fiqih, dan lain-lain di tempat orang tuanya. Di Pesantren Sukamiskin Bandung beliau mendalami fiqih, nahwu, dan sorof. Beliau kemudian mendarmabaktikan ilmunya di tengah-tengah masyarakat dengan mendirikan pengajian di daerahnya dan mendirikan pengajian di daerah Tundagan Tasikmalaya. Beliau kemudian menunaikan ibadah Haji yang pertama.
Walaupun Syaikh Abdullah Mubarok telah menjadi pimpinan dan mengasuh sebuah pengajian pada tahun 1890 di Tundagan Tasikmalaya, beliau masih terus belajar dan mendalami ilmu Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah kepada Mama Guru Agung Syaikh Tolhah bin Talabudin di daerah Trusmi dan Kalisapu Cirebon. Setelah sekian lamanya pulang-pergi antara Tasikmalaya-Cirebon untuk memperdalam ilmu tarekat, akhirnya beliau memperoleh kepercayaan dan diangkat menjadi Wakil Talqin. Sekitar tahun 1908 dalam usia 72 tahun, beliau diangkat secara resmi (khirqoh) sebagai guru dan pemimpin pengamalan Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah oleh Syaikh Tolhah. Beliau juga memperoleh bimbingan ilmu tarekat dan (bertabaruk) kepada Syaikh Kholil Bangkalan Madura dan bahkan memperoleh ijazah khusus Shalawat Bani Hasyim.
Karena situasi dan kondisi di daerah Tundagan kurang menguntungkan dalam penyebaran Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah, beliau beserta keluarga pindah ke Rancameong Gedebage dan tinggal di rumah H. Tirta untuk sementara. Selanjutnya beliau pindah ke Kampung Cisero (sekarang Cisirna) jarak 2,5 km dari Dusun Godebag dan tinggal di rumah ayahnya. Pada tahun 1904 dari Cisero Abah Sepuh beserta keluarganya pindah ke Dusun Godebag.
Syaikh Abdullah Mubarok bin Nur Muhammad kemudian dan bermukim dan memimpin Pondok Pesantren Suryalaya sampai akhir hayatnya. Beliau memperoleh gelar Syaikh Mursyid. Dalam perjalanan sejarahnya, pada tahun 1950, Abah Sepuh hijrah dan bermukim di Gg Jaksa No 13 Bandung. Sekembalinya dari Bandung, beliau bermukim di rumah H Sobari Jl Cihideung No 39 Tasikmlaya dari tahun 1950-1956 sampai beliau wafat.
Setelah menjalani masa yang cukup panjang, Syaikh Abdullah bin Nur Muhammad-sebagai Guru Mursyid Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah dengan segala keberhasilan yang dicapainya melalui perjuangan yang tidak ringan, dipanggil Al Khaliq kembali ke Rahmatullah pada tangal 25 Januari 1956, dalam usia 120 tahun. Beliau meniggalkan sebuah lembaga Pondok Pesantren Suryalaya yang sangat berharga bagi pembinaan umat manusia, agar senantiasa dapat melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya serta mewariskan sebuah wasiat berupa “TANBIH” yang sampai saat sekarang dijadikan pedoman bagi seluruh Ikhwan Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah Pondok Pesantren Suryalaya dalam hidup dan kehidupannya.
Sumber :www.suryalaya.org

Riwayat Singkat

KH. A Shohibulwafa Tajul Arifin(Abah Anom)

KH. A Shohibulwafa Tajul Arifin yang dikenal dengan nama Abah Anom, dilahirkan di Suryalaya tanggal 1 Januari 1915. Beliau adalah putra kelima Syaikh Abdullah bin Nur Muhammad, pendiri Pondok Pesantren Suryalaya, dari ibu yang bernama Hj Juhriyah. Pada usia delapan tahun Abah Anom masuk Sekolah Dasar (Verfolg School) di Ciamis antara tahun 1923-1928. Kemudian ia masuk Sekolah Menengah semacan Tsanawiyah di Ciawi Tasikmalaya. Pada tahun 1930 Abah Anom memulai perjalanan menuntut ilmu agama Islam secara lebih khusus. Beliau belajar ilmu fiqih dari seorang Kyai terkenal di Pesantren Cicariang Cianjur, kemudian belajar ilmu fiqih, nahwu, sorof dan balaghah kepada Kyai terkenal di Pesantren Jambudipa Cianjur. Setelah kurang lebih dua tahun di Pesantren Jambudipa, beliau melanjutkan ke Pesantren Gentur, Cianjur yang saat itu diasuh oleh Ajengan Syatibi.
Dua tahun kemudian (1935-1937) Abah Anom melanjutkan belajar di Pesantren Cireungas, Cimelati Sukabumi. Pesantren ini terkenal sekali terutama pada masa kepemimpinan Ajengan Aceng Mumu yang ahli hikmah dan silat. Dari Pesatren inilah Abah Anom banyak memperoleh pengalaman dalam banyak hal, termasuk bagaimana mengelola dan memimpin sebuah pesantren. Beliau telah meguasai ilmu-ilmu agama Islam. Oleh karena itu, pantas jika beliau telah dicoba dalam usia muda untuk menjadi Wakil Talqin Abah Sepuh. Percobaan ini nampaknya juga menjadi ancang-ancang bagi persiapan memperoleh pengetahuan dan pengalaman keagaman di masa mendatang. Kegemarannya bermain silat dan kedalaman rasa keagamaannya diperdalam lagi di Pesantren Citengah, Panjalu, yang dipimpin oleh H. Junaedi yang terkenal sebagai ahli alat, jago silat, dan ahli hikmah.
Setelah menginjak usia dua puluh tiga tahun, Abah Anom menikah dengan Euis Siti Ru’yanah. Setelah menikah, kemudian ia berziarah ke Tanah Suci. Sepulang dari Mekah, setelah bermukim kurang lebih tujuh bulan (1939), dapat dipastikan Abah Anom telah mempunyai banyak pengetahuan dan pengalaman keagamaan yang mendalam. Pengetahuan beliau meliputi tafsir, hadits, fiqih, kalam, dan tasawuf yang merupakan inti ilmu agama. Oleh Karena itu, tidak heran jika beliau fasih berbahasa Arab dan lancar berpidato, baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Sunda, sehingga pendengar menerimanya di lubuk hati yang paling dalam. Beliau juga amat cendekia dalam budaya dan sastra Sunda setara kepandaian sarjana ahli bahasa Sunda dalam penerapan filsafat etnik Kesundaan, untuk memperkokoh Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah. Bahkan baliaupun terkadang berbicara dalam bahasa Jawa dengan baik.

Ketika Abah Sepuh Wafat, pada tahun 1956, Abah Anom harus mandiri sepenuhnya dalam memimpin pesantren. Dengan rasa ikhlas dan penuh ketauladan, Abah Anom gigih menyebarkan ajaran Islam. Pondok Pesantren Suryalaya, dengan kepemimpinan Abah Anom, tampil sebagai pelopor pembangunan perekonomian rakyat melalui pembangunan irigasi untuk meningkatkan pertanian, membuat kincir air untuk pembangkit tenaga listrik, dan lain-lain. Dalam perjalanannya, Pondok Pesantren Suryalaya tetap konsisten kepada Tanbih, wasiat Abah Sepuh yang diantara isinya adalah taat kepada perintah agama dan negara. Maka Pondok Pesantren Suryalaya tetap mendukung pemerintahan yang sah dan selalu berada di belakangnya.
Di samping melestarikan dan menyebarkan ajaran agama Islam melalui metode Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah. Abah Anom juga sangat konsisten terhadap perkembangan dan kebutuhan masyarakat. Maka sejak tahun 1961 didirikan Yayasan Serba Bakti dengan berbagai lembaga di dalamnya termasuk pendidikan formal mulai TK, SMP Islam, SMU, SMK, Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah, Madrasah Aliyah kegamaan, Perguruan Tinggi (IAILM) dan Sekolah Tinggi Ekonomi Latifah Mubarokiyah serta Pondok Remaja Inabah. Didirikannya Pondok Remaja Inabah sebagai wujud perhatian Abah Anom terhadap kebutuhan umat yang sedang tertimpa musibah. Berdirinya Pondok Remaja Inabah membawa hikmah, di antaranya menjadi jembatan emas untuk menarik masyarakat luas, para pakar ilmu kesehatan, pendidikan, sosiologi, dan psikologi, bahkan pakar ilmu agama mulai yakin bahwa agama Islam dengan berbagai disiplin Ilmunya termasuk tasawuf dan tarekat mampu merehabilitasi kerusakan mental dan membentuk daya tangkal yang kuat melalui pemantapan keimanan dan ketakwaan dengan pengamalan Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah. Dalam melaksanakan tugas sehari-hari, Abah Anom menunjuk tiga orang pengelola, yaitu KH. Noor Anom Mubarok BA, KH. Zaenal Abidin Anwar, dan H. Dudun Nursaiduddin.
Sumber:www.suryalaya.org



Kamis, 29 Juli 2010


Silsilah Thoriqoh Qodiriyyah Wan Naqsyabandiyyah

1. Robbul arbaabi wamu'tiqurriqoobi,Allah swt .
2. Sayyidunaa Jibril a.s
3. Sayyidunaa Manba-ul 'Ilmi wal- asrori wa mahzanul Faidi wal Anwaarii wa Mal jaa-ul ummati wal Abroori wa Mahbathu Jibriila fillaili wannahaari Habibullohis Sattaarilladzii unzila 'alaihi Afdholul Kutubi wal Asfaari Sayyiduna Muhammadul Mukhtaru Shollalloohu 'alaihi wa'alaa aalihii wa ashhabihil akhyar.
4. Sayyidunaa 'Ali k.w .
5. Sayyidunaa Husain r.a
6. Sayyidunaa Zainal 'Abidin r.a
7. Sayyidunaa Muhammad Baqir r.a.
8. Sayyidunaa Ja'far Shodiq r.a
9. Sayyidunaa Imam Musa Al –Kazhim r.a
10. Syaikh Abul Hasan 'Ali bin Musa Arridho r.a
11. Syaikh Ma'ruuf Al –Karkhi r.a
12. Syaikh Sirri As – Saqothi arridho r.a
13. Syaikh Abul Qosim Al –Junaedi Al -Baghdaadi r.a.
14. Syaikh Abu Bakrin Difli As-Syibli r.a
15. Syaikh Abul Fadli atau 'Abdul Wahid at –Tamiimi r.a
16. Syaikh Abul Faroj at-Thurthuusi r.a
17. Syaikh Abul Hasan 'Ali bin Yusuf al –Qirsyi al –Hakaari r.a
18. Syaikh Abu Sa'id al- Mubarok bin 'Ali al-Makhzuumi r.a
19. Syaikh 'Abdul Qodir al-Jailani q.s
20. Syaikh 'Abdul 'Azis r.a
21. Syaikh Muhammad al-Hattak r.a
22. Syaikh Syamsuddin r.a
23. Syaikh Syarofuddin r.a
24. Syaikh Nuuruddiin R.a
25. Syaikh Waliyyuddiin r.a
26. Syaikh Hisyaamuddin r.a
27. Syaikh Yahya r.a
28. Syaikh Abu Bakrin r.a
29. Syaikh 'Abdurrohim r.a
30. Syaikh 'Utsman r.a
31. Syaikh 'Abdul Fattah r.a
32. Syaikh Muhammad Murod r.a
33. Syaikh Syamsudiin r.a
34. Syaikh Ahmad Khotib Syambas ibnu 'Abdul Ghoffar r.a
35. Syaikh Tholhah r.a
36. Syaikh 'Abdullah Mubarok bin Nur Muhammad r.a
37. Syaikh Ahmad Shohibul Wafa Tajul 'Arifin q.s

Sumber : Uquudul Jumaan,PonTren Suryalaya.

Minggu, 25 Juli 2010















Sebagian aktifis Al Mubarok berfoto bersama setelah manakib yang di hadiri oleh
K.H .Zainal Abidin Anwar pada tanggal 28 Februari 2009.


Senin, 19 Juli 2010


Majlis Dzikir ALMUBAROK yang beralamat di :RT/02/04 ,Kavling Serpong,Serpong Tangerang Selatan ,Banten resmi lahir pada tanggal 15 Maret 1991 M .
Komunitas pengajian di di Komandani oleh Bpk Ruslan Taroni seorang perantau asal
Dk Sitemu ,Ds Kebojongan ,Kec Comal ,Kab Pemalng ,Jawa Tengah .
Asal nama awal kelahirannya bernama" Marsudi Luhur ing Jiwo" yang mengadakan pengajian Yasinan ,Tahlil dan diskusi ini ,selain itu juga ada pelajaran olah raga seni Pernapasan yang langsung di bina oleh Bpk Ruslan Taroni
Pada perjalanan waktu ,pada bulan Nopember 1993 M ,Bpk Ruslan Taroni talqin Dzikir Thoriqoh Qodiriyyah Wan Naqsyabandiyyah PonPes Suryalaya di Komplek Batan Indah Blok F NO 24 lewat salah seorang Wakil Talqin ya itu Bpk K.H Abdul Ghaos S.M yang waktu itu hadir dalam acara Manakib di rumah Bpk H Sudrajat Iskandar .
Setelah mengamalkan Thoriqoh ini ,di saat lebaran pulang kampung menyempatkan diri bersilaturohmi kepada salah seorang wakil Talqin yang di daerah Pemalang ,yaitu
Bpk K.H Komarudin Hasan di desa Sugih Waras Pemalang ,dan di saat silaturahmi di ceritakan lah kegiatan pengajian nya ,dan atas saran Beliau setelah datang di Serpong mulailah pengajian nya bertahap menjadi kegiatan Khotaman dan Manakiban keliling di antara Jama'ah pengajian di kontrakan nya masing masing .
Semakin lama semakin bertambah jama'ah dan tempat kegiatan semakin sempit ,maka pada tahun 1997 M mendirikan Musholla di di sokong oleh Bpk abdul Mukti , Bpk Wakiran ,dan para sesepuh di lingkungan nya dan di beri nama Musholla BAITUL MU'MININ , dan Majlis Pengajian nya di ganti nama menjadi "JAM'IYYAH AL MUBAROKIYYAH" .
Sekian waktu berjalan pada acara Manakib tgl 15 Maret 2008 M, yang merupakan ulang tahun ke tujuh belas ,di Hadiri oleh Ajengan Ghaos .Bpk Ruslan Taroni sebagai komandan Jama'ah menceritakan asal usul dan sjearah perjalan "Jam'iyyah Al Mubarokiyyah dan memohon kepada Ajengan Ghaos untuk meresmikan nama Majlis tersebut dengan nama itu atau di ganti ,maka saat itu Ajengan Ghaos memberi nama
Majlis Dzikir dan Musholla " AL MUBAROK " dan beliau yang mengumumkan kepada para ikhwan pada akhir ceramah manakib .
Dan nama itu akan di pakai selamanya ,mudah mudahan benar benar menjadi wasilah "PENABUR BERKAH " bagi para ikhwan khususnya dan kehidupan umat pada umumnya dengan wasilah limpahan Barokah dari Guru Mursyid tentunya Amiiiin.