"Migunani Marang liyan,Ora Gawe Kapitunaning Liyan,Marsudi Luhur Ing jiwo"

Senin, 30 Agustus 2010


Bahasa Geram

Oleh: KH. Dr. A. Mustofa Bisri, 18 Juni 2010 14:00:10

Bangsa ini sedang terserang virus apa sebenarnya? Apakah hanya karena panas global? Di rumah, di jalanan, di lapangan bola, di gedung dapur, bahkan di tempat-tempat ibadah, kita menyaksikan saja orang yang marah-marah. Tidak hanya laku dan tindakan, ujaran dan kata-kata pun seolah-olah dipilih yang kasar dan menusuk. Seolah-olah di negeri ini tidak lagi ada ruang untuk kesantunan pergaulan. Pers pun –apalagi teve--tampaknya suka dengan berita dan tayangan-tayangan kemarahan.
Lihatlah “bahasa” orang-orang terhormat di forum-forum terhormat itu dan banding-sandingkan dengan tingkah laku umumnya para demonstran di jalanan. Seolah-olah ada “kejumbuhani” pemahaman antara para “pembawa aspirasi” gedongan dan “pembawa aspirasi” jalanan tentang “demokrasi”. Demokrasi yang–setelah euforia reformasi--dipahami sebagai sesuatu tatanan yang mesti bermuatan kekasaran dan kemarahan.

Yang lebih musykil lagi “bahasa kemarahan” ini juga sudah seperti tren pula di kalangan intelektual dan agamawan. Khotbah-khotbah keagamaan, ceramah-ceramah dan makalah-makalah ilmiah dirasa kurang afdol bila tidak disertai dengan dan disarati oleh nada geram dan murka. Seolah-olah tanpa gelegak kemarahan dan tusuk sana tusuk sini bukanlah khotbah dan makalah sejati.

Khususnya di ibu kota dan kota-kota besar lainnya, di hari Jumat, misalnya, Anda akan sangat mudah menyaksikan dan mendengarkan khotbah “ustadz” yang dengan kebencian luar biasa menghujat pihak-pihak tertentu yang tidak sealiran atau sepaham dengannya. Nuansa nafsu atau keangkuhan “Orang Pintar Baru” (OPB) lebih kental terasa dari pada semangat dan ruh nasihat keagamaan dan ishlah.

Kegenitan para ustadz OPB yang umumnya dari perkotaan itu seiiring dengan munculnya banyak buku, majalah, brosur dan selebaran yang “mengajarkan” kegeraman atas nama amar makruf nahi munkar atau atas nama pemurnian syariat Islam. Penulis-penulisnya–yang agaknya juga OPB—di samping silau dengan paham-paham dari luar, boleh jadi juga akibat terlalu tinggi menghargai diri sendiri dan terlalu kagum dengan “pengetahuan baru”-nya. Lalu menganggap apa yang dikemukakannya merupakan pendapatnya dan pendapatnya adalah kebenaran sejati satu-satunya. Pendapat-pendapat lain yang berbeda pasti salah. Dan yang salah pasti jahanam.

Dari bacaan-bacaan, ceramah-ceramah, khotbah-khotbah dan ujaran-ujaran lain yang bernada geram dan menghujat sana-sani tersebut pada gilirannya menjalar-tularkan bahasa tengik itu kemana-mana; termasuk ke media komunikasi internet dan handphone. Lihatlah dan bacalah apa yang ditulis orang di ruang-ruang yang khusus disediakan untuk mengomentari suatu berita atau pendapat di “dunia maya” atau sms-sms yang ditulis oleh anonim itu.

Kita boleh beranalisis bahwa fenomena yang bertentangan dengan slogan “Bangsa Indonesia adalah bangsa yang ramah” tersebut akibat dari berbagai faktor, terutama karena faktor tekanan ekonomi, ketimpangan sosial dan ketertinggalan. Namun, mengingat bahwa mayoritas bangsa ini beragama Islam pengikut Nabi Muhammad SAW, fenomena tersebut tetap saja musykil. Apalagi jika para elit agama yang mengajarkan budi pekerti luhur itu justru ikut menjadi pelopor tren tengik tersebut.

Bagi umat Islam, al-khairu kulluhu fittibaa’ir Rasul SAW, yang terbaik dan paling baik adalah mengikuti jejak dan perilaku panutan agung, Nabi Muhammad SAW. Dan ini merupakan perintah Allah. Semua orang Islam, terutama para pemimpinnya, pastilah tahu semata pribadi, jejak-langkah dan perilaku Nabi mereka.

Nabi Muhammad SAW sebagaimana diperikan sendiri oleh Allah dalam al-Quran, memiliki keluhuran budi yang luar biasa, pekerti yang agung (Q. 68:4). Beliau lemah lembut, tidak kasar dan kaku (Q. 3: 159). Bacalah kesaksian para shahabat dan orang-orang dekat yang mengalami sendiri bergaul dengan Rasulullah SAW. Rata-rata mereka sepakat bahwa Panutan Agung kita itu benar-benar teladan. Pribadi paling mulia; tidak bengis, tidak kaku, tidak kasar, tidak suka mengumpat dan mencaci, tidak menegur dengan cara yang menyakitkan hati, tidak membalas keburukan dengan keburukan, tapi memilih memaafkan. Beliau sendiri menyatakan, seperti ditirukan oleh shahabat Jabir r.a,“InnaLlaaha ta’aala lam yab’atsnii muta’annitan...”, Sesungguhnya Allah tidak mengutusku sebagai utusan yang keras dan kaku, tapi sebagai utusan yang memberi pelajaran dan memudahkan.

Bagi Nabi Muhammad SAW pun, orang yang dinilainya paling mulia bukanlah orang yang paling pandai atau paling fasih bicara (apalagi orang pandai yang terlalu bangga dengan kepandaiannya sehingga merendahkan orang atau orang fasih yang menggunakan kefasihannya untuk melecehkan orang). Bagi Rasulullah SAW orang yang paling mulia ialah orang yang paling mulia akhlaknya. Wallahu a’lam.
Sumber :www.GusMus .NET

Minggu, 29 Agustus 2010


Siapa Yang Tidak Memerlukan Pembimbing (Mursyid)?
Posted on Agustus 27, 2010 by SufiMuda


Dalam Futhuh al Ghaib, Syekh Abdul Qadir al Jailani menulis syair berikut :
Jika takdir membantumu atau kala menuntunmu
kepada Syekh yang jujur dan ahli hakikat
maka bergurulah dengan rela dan ikutilah kehendaknya
Tinggalkan apa yang sebelumnya engkau lakukan
Sebab menentang berarti melawan
Dalam kisah Khidir yang mulia terdapat cakupan
Dengan membunuh seorang anak dan Musa mendebatnya
Tatkala cahaya subuh telah menyingkap kegelapan malam
Dan seseorang dapat menghunus pedangnya
Maka Musa pun meminta maaf
Demikian keindahan di dalam ilmu kaum sufi
Sebagian kita mungkin sudah sering mendengar tuduhan yang dilontarkan oleh orang-orang yang mengaku paling “islami” bahwa tasawuf adalah ilmu diluar islam, pembuat bid’ah, syirik dan lain sebagainya dan karena yang menyampaikan pendapat ini orang berlatar belakang pendidikan agama yang lumayan (baca: syariat), alumni arab Saudi atau mesir dengan sekian banyak title sehingga masyarakat awam dengan mudah langsung percaya. Sebagian mereka tidak tahu bahwa Arab Saudi bukan lagi menjadi tempat berkumpulkan berbagai macam mazhab akan tetapi telah menjadi corong bagi mazhab tunggal yang baru muncul di abad ke 17 yaitu mazhab wahabi.
Saya tidak membahas tentang tuduhan-tuduhan tersebut dan saya rasa itu tidak ada menfaatnya sama sekali. Kesempatan ini saya ingin menyampaikan informasi akan pentingnya belajar tasawuf/thariqat agar kita bisa merasakan nikmatnya beragama.
Belajar tasawuf ada dua jenis, yaitu secara Teori dan Praktek. Secara teori telah diajarkan di pasantren, IAIN bahkan anda bisa menjadi seorang profesor tasawuf tanpa anda harus mempraktekkan zikir dan dibimbing oleh mursyid. Namanya juga teori tentu yang didapatkan hanya teori saja.
Belajar tasawuf sebenarnya harus mempunyai pembimbing rohani, bukan saja mengajarkan anda tapi juga membimbing anda agar sampai kehadirat-Nya karena inti tasawuf adalah bagaimana seorang bisa berhampiran dengan Allah SWT. Tentang hal ini Abu Ali ats Tsaqafi berkata, “Seandainya seseorang mempelajari semua jenis ilmu dan berguru kepada banyak ulama, maka dia tidak sampai ke tingkat para sufi kecuali dengan melakukan latihan-latihan spiritual bersama seorang Syeikh yang memiliki akhlak yang luhur dan dapat memberinya nasehat-nasehat. Dan barang siapa yang tidak mengambil akhlaknya dari seorang Syeikh yang memerintah dan melarangnya, serta memperlihatkan cacat-cacat dalam amalnya dan penyakit-penyakit dalam jiwanya, maka dia tidak boleh diikuti dalam memperbaiki muamalah”.
Jadi tasawuf adalah ilmu praktek dan tentu saja membutuhkan pembimbing yang ahli dibidangnya, tanpa adanya pembimbing rohani maka segala praktek yang dilakukan sudah pasti akan disesatkan setan. Abu Yazid Al-Bisthami berkata, “Barang siapa yang menuntut ilmu tanpa berguru, maka wajib syetan gurunya.”
Apabila jalan kaum sufi dapat dicapai dengan pemahaman tanpa bimbingan seorang Syekh, niscaya orang seperti Imam Al-Ghazali dan Syekh Izzuddin ibn Abdussalam tidak perlu berguru kepada seorang Syekh. Sebelum memasuki dunia tasawuf, keduanya pernah berkata, “Setiap orang yang mengatakan bahwa adalah jalan memperoleh ilmu selain apa yang ada pada kami, maka dia telah berbuat kebohongan kepada Allah.”. Zaman sekarang kita juga sering mendengar pendapat seperti itu, tidak mengakui ilmu selain yang mereka pelajari (syariat) dan menganggap orang-orang yang mempunyai kemampuan bathin, ilmu laduni dan lain sebagainya sebagai pembohong.
Akan tetapi, setelah Imam Al-Ghazali dan Syekh Izzuddin ibn Abdussalam yang tadinya hanya belajar syariat kemudian memasuki dunia tasawuf keduanya berkata, “Sungguh kami telah menyia-nyiakan umur kami dalam kesia-siaan dan hijab (tabir penghalang antara hamba dan Tuhan).”
Orang yang bisa menemukan kebenaran bukanlah orang yang banyak membaca buku karena terkadang semakin banyak yang dipelajari justru tanpa sadar menjadi Hijab antara kita dengan Allah. Hanya kerendahan hati dan sikap mau belajar dan mencari yang menyebabkan seseorang menemukan Allah SWT, sebagai mana ucapan rendah hati Musa kepada Khidir, “Bolehkah aku mengikutimu, agar engkau mengajarkan kepadaku ilmu yang benar diantara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?” (QS. Al Kahfi, 66). Juga pengakuan Ahmad ibn Hanbal bahwa Abu Hamzah al Baghdadi lebih utama darinya dan pengakuan Ahmad ibn Suraij bahwa Abu Qasim Junaid lebih utama darinya.
Imam al-Ghazali juag mencari seorang Syekh yang menunjukkannya ke jalan tasawuf, padahal ia adalah Hujjatul Islam. Begitu juga, Syekh Izzuddin ibn Abdussalam berkata, “Aku tidak mengetahui Islam sempurna kecuali setelah aku bergabung dengan Syekh Abu Hasan Asy Syadzili”. Abdul Wahab Asy Sya’rani berkata, “Apabila kedua ulama besar ini, yakni al-Ghazali dan Syekh Izzuddin ibn Abdussalam, padahal keduanya adalah orang yang memiliki ilmu pengetahuan luas tentang syariat, maka orang selain mereka lebih membutuhkan lagi.”
Dalam hal ini al Qur’an memberikan petunjuk kepada kita semua untuk mencari orang-orang yang telah di beri petunjuk oleh Allah SWT sebagaimana firman Allah: “Sebenarnya al Qur’an itu adalah ayat-ayat nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu” (QS. Al ankabut : 49). “Dan ikutilah jalan orang yang telah kembali kepada-Ku” (QS. Lukman: 15) dan firman-Nya, “Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah kalian bersama orang-orang yang benar”. (QS. Taubah: 119). Diperkuat oleh hadist, “Jadilah kamu bersama Allah, apabila tidak bersama Allah jadilah kalian bersama orang yang sudah bersama Allah, maka sesungguhnya orang itu bisa membawamu kepada Allah” (HR. Abu Daud).
Dengan demikian, memiliki seorang pembimbing (mursyid) adalah suatu keharusan. Para sahabat sendiri mengambil ilmu dan amalan mereka dari Rasulullah SAW. Rasulullah SAW mengambil ilmu dan amalannya dari Jibril. Dan para tabi’in mengambil ilmu dan amalan dari para sahabat.
Setiap sahabat mempunyai para pengikut yang khusus. Ibnu Sirin, Ibnu Musayyab dan al A’raj, misalnya, adalah pengikut Abu Hurairah. Sementara Thawus, Wahhab dan Mujahid, adalah pengikut Ibnu Abas. Demikian seterusnya. Pengambilan ilmu dan amalan ini sangat jelas, sebagaimana disebutkan dalam riwayat-riwayat mereka.
Maka tidak ada alasan bagi kita untuk tidak segera mencari Guru Pembimbing yang siap menuntun dan membimbing kita mencapai kebenaran hakiki. Carilah Guru yang benar-benar kamil mukamil, khalis mukhlisin sehingga dia bukan hanya berbicara tentang teori ketuhanan akan tetapi dengan keikhlasannya mampu membimbing anda kehadirat Allah SWT. Kalau anda bertanya siapakah Guru Mursyid yang kamil mukamil tersebut, saya tidak bisa menjawab karena kawatir jawaban saya akan menyinggung perasaan yang lain. Bagi setiap pengamal tasawuf mereka meyakini Guru mereka memiliki kemampuan untuk membimbing mereka dan tidak terkecuali Guru saya.
Abu Athailah As Sakandari dalam Latha’if al Minan, berkata, “Engkau tidak akan kekurangan mursyid yang dapat menunjukkanmu ke jalan Allah. Tapi yang sulit bagimu adalah mewujudkan kesungguhan dalam mencari mereka”.
Seorang penyair sufi berkata :
Rahasia Allah didapat dengan pencarian yang benar
Betapa banyak hal menakjubkan yang telah diperlihatkan kepada para pelakunya.
Ali al Khawas berkata dalam syairnya,
Jangan menempuh jalan yang tidak engkau kenal tanpa penunjuk jalan,
Sehingga engkau terjerumus dalam jurang-jurangnya.
Penunjuk jalan (Mursyid) akan dapat mengantarkan salik sampai ke pantai yang aman dan menjauhkan dari gangguan-gangguan selama di perjalanan. Sebab, penunjuk jalan (mursyid) sebelumnya telah melewati jalan itu dibawah bimbingan seseorang (mursyid sebelumnya) yang telah mengetahui seluk beluk jalan tersebut, mengetahui tempat-tempat berbahaya dan tempat-tempat yang aman dan terus menemaninya sampai akhirnya dia sampai di tempat yang dituju. Kemudian orang tersebut memberikan izin untuk membimbing orang lain.
Menutup tulisan ini saya mengutip Syair dari Ibnu Al-Banna yang menjelaskan tentang kedudukan kaum sufi yang telah melakukan perjalanan menuju Allah dan setelah sampai disana mememberikan kabar kepada orang lain untuk menuju kesana dengan selamat.
Kaum sufi tidak lain sedang melakukan perjalanan
Ke hadirat Tuhan Yang Maha Benar
Maka mereka membutuhkan penunjuk jalan
Yang benar-benar mengenal seluk beluk jalan itu
Dia telah melalui jalan itu, lalu dia kembali
Untuk mengabarkan apa yang telah didapat.
*****************************************
Sumber: www.sufimuda.wordprees.com

Syeikh Abdul Qadir Al-Jilany .Q.S
Syaikh Sufi Akhir Zaman 22 Juli jam 17:38
Nabi saw, bersabda:
“Apabila Allah swt menghendaki kebaikan pada hambaNya maka sang hamba diberi pemahaman dalam agama, dan ditampakkan cacat-cacat dirinya.” (H.r. Al-Hindy riwayat dari Anas ra.)

Faham dalam agama adalah faktor yang menyebabkan manusia mengenal dirinya. Dan siapa yang mengenal Tuhannya Azza wa-Jalla, maka ia mengenal segalanya. Maka bersama Allahlah ibadah kepadanya menjadi benar, dan terbebaskan dari perbudakan selain Allah azza-waJalla.

Kalian semua tidak akan beruntung dan tidak pula selamat sepanjang anda tidak memprioritaskan Allah Azza wa-Jalla atas lainnya. Anda harus memprioritaskan agamamu dibanding kesenanganmu, memprioritaskan akhiratmu dibanding duniamu. Menomorsatukan Penciptamu dibanding ciptaanNya.
Anda menjadi rusak karena anda mendahulukan syahwat kesenangan anda dibanding Allah Azza wa-Jalla.

Lakukanlah prioritas Allah dibanding yang lain maka Allah bakal mencukupi anda. Sedangkan anda saat ini terhijab dari Allah Azza wa-Jalla, maka tidak ada ijabah bagi anda.
Padahal Ijabah itu akan muncul setelah memohon Ijabah. Allah mengijabahi anda dengan amaliyah anda ketika anda memohon kepadaNya.

Panen itu akan anda raih setelah menanam. Bertanamlah anda akan panen.

Nabi saw. Bersabda:
“Dunia adalah tempat bertanam bagi akhirat.” (Hr. Al-‘Ajluny)

Bertanamlah dengan tanaman dalam hatimu dan badanmu, yaitu iman. Anda berkebun dengan menyiram air pada kebun itu melalui amal yang shaleh. Jika dalam hati anda ada kelembutan, kasih sayang, rahmat pasti akan tumbuh di dalamnya. Manakala di dalamnya ada keras kepala dan keras hati, maka buminya juga gersang tidak akan ditumbuhi apa pun. Sama seperti anda menanam di puncak bukit batu, tidak akan pernah tumbuh di sana.

Nabi saw, bersabda:
“Minta tolonglah kalian atas segala pekerjaan menurut kemampuan terbaik ahlinya.” (Ditakhrij As-Suyuthy dan al-Ajluny)

Kalian sibuk dengan bertanam dunia bukan bertanam akhirat. Bukankah pemburu dunia tak akan bahagia di akhirat? Ia tak akan melihat Allah Azza wa-Jalla. Jika anda ingin akhirat maka tinggalkan duniawimu, jika anda inginkan Allah Azza wa-Jalla maka tinggalkan bagian diri dan unsur kemakhlukanmu, maka anda benar-benar wushul(sampai). Bila benar apa yang anda lakukan justru akhirat, seluruh makhluk, dunia, anda dapatkan semuanya, dengan penuh kepatuhan maupun dengan terpaksa.
Sebab pokoknya sudah bersama anda, sedangkan cabangnya hanya mengikuti. Karena itu berakal sehatlah anda. Namun anda malah tidak berakal sehat, tidak pandai, dengan cara anda bergumul dan bergabung dengan makhluk, lebur dengan mereka. Jika anda tidak taubat, maka justru anda hancur.

Datanglah ke jalan thariqat sufi, anda datangi pintu mereka. Jangan jejali mereka dengan dengan ketiak tubuhmu, dengan kemunafikanmu, sedangkan hatimu tidak. Padahal mereka terpenuhi oleh hati dan rahasia hati, dengan lengan-lengan kepasrahan dan kesabaran terhadap cobaan, kerelaan dan bagian dari Allah Azza wa-Jalla.

Hai anak-anak sekalian, jadikan dirimu di hadapan Allah Azza wa-Jalla ketika derita menerpamu, maka anda tegak di atas pijakan cintaNya, bahkan tidak berubah, tidak sirna oleh penjuru dan angin, badai dan hujan bahkan oleh debu-debu yang menabur, karena anda tetap teguh lahir dan batin, teguh dalam maqom yang disana tak ada lagi makhluk, dunia, akhirat, tak ada hak dan bagian-bagian kepentingan, tak ada derita, tak ada pertanyaan “bagaimana”, bahkan tak ada selain Allah Azza wa-Jalla.
Jangan sampai jiwamu dikotori oleh urusan makhluk, urusan keluarga, dirimu tak berubah karena bagian yang sedikit atau pun banyak, tidak pula berubah karena cacian dan pujian, tidak pula diterima maupun ditolak, dan secara global anda berada dibalik semuanya, manusia, jin, malaikat dan seluruh makhluk, bersama Allah.
Betapa indah apa yang dikatakan oleh seorang Sufi, “Jika anda membenarkan (silakan) jika tidak, jangan ikuti kami.!”

Sabar, ikhlas dan jujur dalam membenarkan merupakan asas, sebagaimana kami jelaskan padamu. Kalian datang padaku, apakah aku membuatmu munafik? Dan ketika aku bicara lembut padamu, dirimu suka dan kagum, lalu anda menyangka ada kepentingan? Tidak! Tak ada kemuliaan dengan cara begitu.
Aku dan api, dan tak ada yang mampu di atas api kecuali Samandil yang bertelur, beranak, dan anaknya berdiri dan duduk di atas api. Jadilah dirimu seperti Samandil di atas api derita dan perjuangan serta kepayahan, bersabar di lorong-lorong ketentuan dan takdir, hingga kalian sabar dalam berguru kepadaku, mendengarkan kalamku, kerasnya ucapan serta mengamalkannya lahir, batin, hakiki dan syar’y. Pertama-tama anda khalwat, lalu keluar, lalu eksistensial. Jika anda sukses, maka anda bahagia dunia akhirat bersama kehendak dan takdir Allah Azza wa-Jalla.

Aku tidak menyertai siapa pun selain hanya untuk Allah Azza wa-Jalla, dan diantara keharusannya adalah aku tidak menoleh pada siapapun dari mereka dalam segala hal tanpa suatu tanda. Bahkan aku sangat takut kepada Allah dalam melaksanakan HakNya terhadap makhlukNya, aku tidak boleh lemah, dan aku kuat dengan diriku, lalu aku berserasi dengan mereka dalam jiwa mereka (demi keselamatan mereka).

Diantara para Sufi – semoga rahmat Allah bagi mereka -- mengatakan, “Berserasilah pada Allah Azza wa-Jalla dalam jiwa mereka, tetapi janganlah berserasi dengan mereka ketika di dalam ibadah kepada Allah.”
Maka runtuhlah mereka yang hancur, dan selamatlah mereka yang selamat. Maka aku peduli, sedangkan anda terus menerus maksiat kepada Allah Azza wa-Jalla, menghina perintah dan laranganNya, kontra padaNya, baik dalam ketentuan maupun takdirNya. Siang dan malam anda dibenci dan dilaknati.
Diantara firmanNya Azza wa-Jalla dalam sebagian kitabNya:
“Jika kamu patuh maka Aku ridlo kepadamu. Jika Aku ridlo, maka kamu mendapatkan barokah kebajikan. Sedangkan barokahKu tak ada batasnya. Namun jika kamu maksiat, Aku marah. Dan ketika Aku marah, kamu terlaknat, hingga laknat-Ku sampai tujuh turunan…”

Zaman ini adalah zaman dimana agama dijual dengan debu yang hina, zaman yang panjang khayalnya dan ambisiusnya. Karena itu seriuslah kalian, jangan sampai tergolong orang yang difirmankan oleh Allah swt :
“Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.” (QS Al-Furqon: 23)

Setiap amal yang diorientasikan selain Allah Azza wa-Jalla maka ia telah menjadi debu yang terbang.
Hati-hati! Apabila masalahmu tersembunyi dari kalangan awam, maka tidak tersembunyi bagi kalangan khusus yang kokoh, mereka menyembunyikan pekerjaannya dari anda, bukannya orang bodoh yang menyembunyikan orang alim, tidak. Karena itu beramallah dan ikhlaslah dalam amalmu. Sibukkan hatimu pada allah Azza wa-Jalla, tinggalkan hal-hal yang mengganggumu yang tidak berarti, karena itu jangan repot dengan hal-hal yang tak berarti bagimu. ( catatan lentera sufi )
Sumber: FB Group Syaikh Sufi Akhir Zaman

Kesaksian Para Ulama Fikh Tentang Ulama Sufi

oleh Vien Vink عائشة pada 25 Agustus 2010


Imam Abu Hanifa (81-150 H./700-767 CE)

Imam Abu Hanifa(r) (85 H.-150 H) berkata, "Jika tidak karena dua tahun, saya telah celaka. Karena dua tahun saya bersama Sayyidina Ja'far as-Sadiq dan mendapatkan ilmu spiritual yang membuat saya lebih mengetahui jalanyang benar". Ad-Durr al-Mukhtar, vol 1. p. 43 bahwa Ibn 'Abideen said,"Abi Ali Dakkak, seorang sufi, dari Abul Qassim an-Nasarabadi, dariash-Shibli, dari Sariyy as-Saqati dari Ma'ruf al-Karkhi, dari Dawadat-Ta'i, yang mendapatkan ilmu lahir dan batin dari Imam Abu Hanifa(r), yang mendukung jalan Sufi." Imam berkata sebelum meninggal: lawlasanatan lahalaka Nu'man, "Jika tidak karena dua tahun, Nu'man (saya)telah celaka." Itulah dua tahun bersama Ja'far as-Sadiq

Imam Malik (94-179 H./716-795 CE)

Imam Malik (r): "man tassawaffa wa lam yatafaqah faqad tazandaqa wa mantafaqaha wa lam yatsawwaf faqad fasadat, wa man tafaqaha wa tassawafafaqad tahaqqaq. (Barangsiapa mempelajari/mengamalkan tasauf tanpa fikhmaka dia telah zindik, dan barang siapa mempelajari fikh tanpa tasauf dia tersesat, dan siapa yang mempelari tasauf dan fikh dia meraih kebenaran." (dalam buku 'Ali al-Adawi dari keterangan ImamAbil-Hassan, ulama fikh, vol. 2, p. 195

Imam Shafi'i (150-205 H./767-820 CE)

Imam Shafi'i: "Saya bersama orang sufi dan aku menerima 3 ilmu:1. mereka mengajariku bagaimana berbicara2. mereka mengajariku bagaimana meperlakukan orang dengan kasih dan hati lembut3. mereka membimbingku ke dalam jalan tasauf[Kashf al-Khafa and Muzid al-Albas, Imam 'Ajluni, vol. 1, p. 341.]

Imam Ahmad bin Hanbal (164-241 H./780-855 CE)

ImamAhmad (r): "Ya walladee 'alayka bi-jallassati ha'ula'i as-Sufiyya. Fainnahum zaadu 'alayna bikathuratil 'ilmi wal murqaba wal khashiyyatawaz-zuhda wa 'uluwal himmat (Anakku jika kamu harus duduk bersamaorang-orang sufi, karena mereka adalah mata air ilmu dan mereka tetap mengingat Allah dalam hati mereka. Mereka orang-orang zuhud dan mereka memiliki kekuatan spiritual yang tertinggi," --Tanwir al-Qulub, p. 405, ShaikhAmin al-Kurdi) Imam Ahmad (r) tentang Sufi:"Aku tidak melihat orang yang lebih baik dari mereka" ( Ghiza al-Albab, vol. 1, p. 120)

Imam al-Muhasibi (d. 243 H./857 CE)

Imamal-Muhasibi meriwayatkan dari Rasul, "Umatku akan terpecah menjadi 73golongan dan hanya satu yang akan menjadi kelompok yang selamat" . Dan Allah yang lebih mengetahui bahwa itu adalah Golongan orang tasauf. Dia menjelaskan dengan mendalam dalam Kitab al-Wasiya p. 27-32.

Imam al-Qushayri (d. 465 H./1072 CE)
Imamal-Qushayri tentang Tasauf: "Allah membuat golongan ini yang terbaik dari wali-wali-Nya dan Dia mengangkat mereka di atas seluruh hamba-hamba-Nya sesudah para Rasul dan Nabi, dan Dia memberi hatimereka rahasia Kehadiran Ilahi-Nya dan Dia memilih mereka diantara umat-Nya yang menerima cahaya-Nya. Mereka adalah sarana kemanusiaan ,Mereka menyucikan diri dari segala hubungan dengan dunia dan Diamengangkat mereka ke kedudukan tertinggi dalam penampakan (kasyf). Dan Dia membuka kepada mereka Kenyataan akan Keesaan-Nya. Dia membuatmereka untuk melihat kehendak-Nya mengendalikan diri mereka. Diamembuat mereka bersinar dalam wujud-Nya dan menampakkan mereka sebagaicahaya dan cahaya-Nya ." [ar-Risalat al-Qushayriyya, p. 2]

Imam Ghazali (450-505 H./1058-1111 CE)

Imam Ghazali, hujjat ul-Islam, tentang tasauf: "Saya tahu dengan benar bahwa para Sufi adalah para pencari jalan Allah, dan bahwa mereka melakukan yang terbaik, dan jalan mereka adalah jalan terbaik, dan akhlak mereka paling suci. Mereka membersihkan hati mereka dari selain Allah dan mereka menjadikan mereka sebagai jalan bagi sungai untuk mengalirnya kehadiranIlahi [al-Munqidh min ad-dalal, p. 131].

Imam Nawawi (620-676 H./1223-1278 CE)

Dalam suratnya al-Maqasid: "Ciri jalan sufi ada 5:1. menjaga kehadiran Allah dalam hati pada waktu ramai dan sendiri2. mengikuti Sunah Rasul dengan perbuatan dan kata3. menghindari ketergantungan kepada orang lain4. bersyukur pada pemberian Allah meski sedikit5. selalu merujuk masalah kepada Allah swt [Maqasid at-Tawhid, p. 20]

Imam Fakhr ad-Din ar-Razi (544-606 H./1149-1209 CE)

ImamFakhr ad-Din ar-Razi: "Jalan para sufi adalah mencari ilmu untukmemutuskan diri mereka dari kehidupan dunia dan menjaga diri mereka agar selalu sibuk dalam pikiran dan hati mereka dengan mengingat Allah,pada seluruh tindakan dan perilaku" ." [Ictiqadat Furaq al-Musliman, p.72, 73]

Ibn Khaldun (733-808 H./1332-1406 CE)

IbnKhaldun: "Jalan sufi adalah jalan salaf, ulama-ulama di antara Sahabat,Tabi'een, and Tabi' at-Tabi'een. Asalnya adalah beribadah kepada Allahdan meninggalkan perhiasan dan kesenangan dunia" [Muqaddimat ibnKhaldan, p. 328]



Tajuddin as-Subki



Mu'eedan-Na'eem, p. 190, dalam tasauf: "Semoga Allah memuji mereka danmemberi salam kepada mereka dan menjadikan kita bersama mereka di dalamsorga. Banyak hal yang telah dikatakan tentang mereka dan terlalubanyak orang-orang bodoh yang mengatakan hal-hal yang tidak berhubungan dengan mereka. Dan yang benar adalah bahwa mereka meninggalkan duniadan menyibukkan diri dengan ibadah" Dia berkata: "Mereka adalah manusia-manusia yang dekat dengan Allah yang doa dan shalatnya diterima Allah, dan melalui mereka Allah membantu manusia.

Jalaluddin as-Suyuti

DalamTa'yad al-haqiqat al-'Aliyya, p. 57: "tasauf dalam diri mereka adalah ilmu yang paling baik dan terpuji. Dia menjelaskan bagaimana mengikuti Sunah Nabi dan meninggalkan bid'ah"

Ibn Taymiyya (661-728 H./1263-1328 CE)

Macam Fatawa Ibn Taymiyya, Dar ar-Rahmat, Cairo, Vol, 11, page 497, KitabTasawwuf: "Kamu harus tahu bahwa syaikh-syaikh terbimbing harus diambil sebagai petunjuk dan contoh dalam agama, karena mereka mengikuti jejak Para Nabi dan Rasul. Tariqat para syaikh itu adalah untuk menyeru manusia ke Kehadiran Allah dan ketaatan kepada Nabi." Juga dalam hal499: "Para syaikh dimana kita perlu mengambil sebagai pembimbing adalah teladan kita dan kita harus mengikuti mereka. Karena ketika kita dalam Haji, kita memerlukan petunjuk (dalal) untuk mencapai Ka'bah, para syaikh ini adalah petunjuk kita (dalal) menuju Allah dan Nabi kita.

Diantara para syaikh yang dia sebut adalah: Ibrahim ibn Adham, Macrufal-Karkhi, Hasan al-Basri, Rabia al-Adawiyya, Junaid ibn Muhammad,Shaikh Abdul Qadir Jilani, Shaikh Ahmad ar-Rafa'i, and Shaikh Bayazidal- Bistami. Ibn Taymiyya mengutip Bayazid al-Bistami pada 510, Volume10: "...Syaikh besar, Bayazid al-Bistami, dan kisah yang terkenal ketika dia menyaksikan Tuhan dalam kasyf dan dia berkata kepada Dia:"Ya Allah, bagaimana jalan menuju Engkau?". Dan Allah menjawab:"Tinggalkan dirimu dan datanglah kepada-Ku". Ibn Taymiah melanjutakan kutipan Bayazid al-Bistami, " Saya keluar dari diriku seperti seekorular keluar dari kulitnya". Implisit dari kutipan ini adalah sebuah indikasi tentang perlunya zuhd mengingkaran-diri atau pengingkaranterhadap kehidupan dunia), seperti jalan yang diikuti Bayazidal-Bistami. Kita melihat dari kutipan di atas bahwa Ibn Taymiahmenerima banyak Syaikh dengan mengutipnya dan meminta orang untuk mengikuti bimbingannya untuk menunjukkan cara menaati Allah dan Rasul as.

Apa kata Ibn Taymiah tentang istilah tasauf

Berikut adalah pendapat Ibn Tamiah tentang definisi Tasauf dari Volume 11,At-Tasawwuf, of Majmu'a Fatawa Ibn Taymiyya al-Kubra, Dar ar-Rahmah,Cairo:"Alhamdulillah, penggunaan kata tasauf telah didiskusikansecara mendalam. Ini adalah istilah yang diberikan kepada hal yangberhubungan dengan cabang ilmu (tazkiyat an-nafs and Ihsan)." "Tasaufadalah ilmu tentang kenyataan dan keadaan dari pengalaman. Sufi adalah orang yang menyucikan dirinya dari segala sesuatu yang menjauhkan dari mengingat Allah dan orang yang mengisi dirinya dengan ilmu hati dan ilmu pikiran di mana harga emas dan batu adalah sama saja baginya.Tasauf menjaga makna-makna yang tinggi dan meninggalkan mencari ketenaran dan egoisme untuk meraih keadaan yang penuh dengan Kebenaran. Manusia terbaik sesudah Nabi adalah Shidiqin, sebagaimana disebutkanAllah: "Dan barangsiapa yang menta'ati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni'mat olehAllah, yaitu: Nabi, para shiddiqqiin, orang-orang yang mati syahid danorang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. (QS.4:69)" Dia melanjutkan mengenai Sufi,"mereka berusaha untuk menaat iAllah.. Sehingga dari mereka kamu akan mendapati mereka merupakan yang terdepan sabiqunas-sabiqun) karena usaha mereka. Dan sebagian darimerupakan golongan kanan (ashabus-syimal)."
Sumber :FB Group sufi Akhir Zaman

Jumat, 27 Agustus 2010


Wasiyat ke dua dari Syaikh Abdul Qodir Al Jailani q.s

Berisi beberapa perintah dan saran,yang di antaranya ialah :
1.Sebagai seorang muslim harus mengikuti sunah Rosul dengan penuh keyakinan ( ke imanan).
2.Sebagai seorang muslim jangan sekali kali melakukan perbuatan bid’ah.
3.Sebagai seorang muslim harus mematuhi segala yang di perintahkan dan di larang Allah serta RosulNYA
4.Seorang muslim harus menjunjung tinggi Tauhid ,jangan sekali kali menyekutukan Dia (Allah)
5.Seorang muslim harus mensucikan Dia (Allah) senantiasa dan jangan sekali kali menisbahkan sesuatu keburukan pun kepadaNYA .
6. Seorang muslim harus mempertahankan kebenaran NYA dan hendaknya jangan meragukan sedikitpun atas kebenaran tersebut.
7 Seorang Muslim harus bersabar selalu,dalam setiap keadaan dan jangan sekali kali menunjukkan sifat ketidak sabaran.
8.Seorang muslim hendaknya mempunyai sifat istiqomah.
9.Seorang muslim harus mempunyai pengharapan kepada Allah dengan sabar dan jangan kesal
10. Seorang muslim harus bekerja sama dengan sesama muslim dalam menjalankan amal ta’at, jangan berpecah belah.saling mencintai dan jangan mendendam.
11.Jauhilah kejahatan dan jangan sekali -kali ternoda oleh kejahatan tersebut .
12. Hiasilah dirimu dengan ketaatan kepada Tuhanmu.
13.Seorang muslim jangan sekali -kali menjauhi pintu -pintu Tuhan
14.Seorang muslim jangan sekali-kali berpaling dariNYA .
15.Seorang muslim hendaknya menyegerakan taubat atas dosa yang telah di lakukan ,jangan di tunda tunda.
16.Jangan bosan -bosan untuk memohon ampunan kepada Allah,siang atau malam .
Apabila seorang muslim telah berlaku demikian ,maka ia akan mendapatkan rahmat dariNYA ,di jauhkan dari api neraka ,Hidup bahagia di syurga yang kekal ,kelak di akhirat akan bertemu Allah,menikmati rahmatNYA .Di syurga bersama bidadari ,mengendarai kuda kuda yang berwarna putih.Bersuka ria dengan Hur Hur bermata putih,menghirup penuh aneka aroma ,dan di iringi melodi melodi para hamba hamba sahaya wanita nan cantik.
Niscaya akan di muliakan bersama Nabi,para shodiqin,para syahidin,dan para sholihin lainnya di syurga yang tertinggi.
Sumber :Ny.KholilahMarhijanto,80 Wasiyat Syaikh Abdul Qodir Al Jailani,Tiga Dua ,Surabaya


Rabu, 25 Agustus 2010


PANTUN HAKEKAT

MAULANA SAIDI SYEKH MUHAMMAD HASYIM AL-KHALIDI Q.S

(Maulana Lahir Tahun 1863 di Padang, merupakan seorang Wali Qutub yang membawa Thareqat Naqsyabandi dari Jabbal Qubais Mekkah, berpulang kerahmatullah pada hari rabu, tgl 07 April 1954 jam 13.05 siang dalam usia 87 tahun, dan dimakamkan di Buayan Lubuk Alung Sumatra barat)

Mengenai peramalan dari Dzikrullah menurut Beliau harus diamalkan secara berkesinambungan sesuai syairnya:

Kalau ingin tahu diparak ganting
Lihatlah dari guguk pelana
Kalau ingin tahu dilemaknya emping
Kunyalah dahulu lama-lama

Agar Tuhan dengan kita harus di upayakan dengan amal yang sungguh-sungguh, sehingga lebih dekat dengan urat leher kita sendiri, seperti Fatwanya:

Payah-payah mencari bilah
Bilah ada di dalam buluh
Payah-payah mencari Allah
Allah sangat dekat dengan tubuh
Cintanya kepada Allah, Rasul dan Guru dikiaskannya dalam pantunnya :
Guruh petir menuba limbat
Pandan serumpun di seberang
Tujuh ratus carikan obat
Badan bertemu maka senang

Dendang dua dendang tiga
Pecah periuk pembuat rendang
Biar makan biar tidak
Asal duduk berpandangan
Baginya menguasai ilmu metafisik bukan tujuan, tdk ada artinya metafisik tanpa Allah,tujuannya adalah “ ilahi anta makasudi waridhoka matlubi “ dan bagi orang
Yg beserta Allah tdk akan dpt dicederai dgn ilmu metafisik jenis apa pun,
Sesuai kias Beliau :
Pucuk sijali si jalintas
Pucuk sijali si jali muda
Dilangit tuan melintas
Kami dibalik itu pula
Segala derita diseluruh dimensi alam adalah masalah, dan segala masalah hanya dapat diatasi dgn dimensi yg dapat mengatasi masalah,Menegembalikan semua masalah pada dimensi absolute dgn teknik tertentu yaitu Allah SWT secara realita ( bukan khayalita ) membuat masalah akan selesai,denegan memberi hikmah kepada siapa saja yg terlibat dalam masalah tsb, seperti petuah Beliau:

Padi pulut tiga tangkai
Dibawa orang indrapura
Dunia kusut akan selesai
Ujung dan pangkal telah bersua
Sumber: sufimuda.wordpreess.com



Paradigma Kemanusiaan
Rabu, 18 Agustus 2010 10:25 Handri Ramadian
Apa itu manusia?
Sejak kapan kita menjadi manusia?
Semua orang cenderung mengatakan adanya manusia itu sejak lahir. Setidaknya sejak ibu mulai hamil dan mulai terbentuk janin dalam rahimnya. Janin itulah kemudian yang menjadi tubuh.
Mengapa anggapan menjadi manusia adalah sejak lahir?
Apakah disebabkan sejak tubuh dilahirkan, maka sejak itulah ”aku” disebut manusia?
Kalau begitu manusia itu yang apa?
Tubuh biologis sajakah?
Ketika kita menganggap manusia hanya sebatas tubuh material saja, berarti kita sudah terjebak pada paradigma yang materialistik.
Paradigma materialistik itu mengharapkan kita untuk berada pada suatu pemahaman bahwa sesuatu itu baru dikatakan ada atau eksis apabila sesuatu sudah berwujud secara materi. Sedangkan yang tidak berwujud secara materi dianggap tidak eksis, dianggap tidak ada.
Persoalan inilah sebenarnya yang membuat suatu perubahan yang paling mendasar pada dunia barat pasca renaissance. Dengan dalih dan semangat ilmiah, sesuatu itu baru dapat dikatakan ilmiah (scientific) bila berdasarkan fakta yang terbungkus secara materi. Hal-hal yang tidak ada fakta empiriknya dianggap tidak ada. Itulah paradigma materialistik.
Filosof muslim yang mendalami ajaran Islam dengan pendekatan yang sangat rasional akan mengatakan sesungguhnya yang paling berbahaya bagi ajaran Islam bukan ajaran Kristen dan Yahudi. Bukan pula benturan agama dengan agama. Tetapi para filosof muslim itu melihat bahwa yang paling berbahaya bagi umat Islam adalah paradigma materialistik.
Visinya tentang manusia adalah tubuh biologis. Yang dianggap sebagai manusia hanya tubuh biologis saja. Karena manusia adalah tubuh dan pusatnya tubuh adalah otak maka orang sering terpaku pada otak manusia.
Yang disebut mengajar cukup dengan memberikan inspirasi-inspirasi ke otak. Karena otak itu adalah kumpulan sel-sel, dia bekerja secara kimiawi dan sangat mekanistik. Disini, hidup manusia dianggap seperti mesin, sebuah kehidupan yang sangat mekanistik.
A. PARADIGMA KEHIDUPAN
Apa yang dimaksud dengan kehidupan?
Pada paradigma kemanusiaan, manusia mengartikan bahwa manusia hanya sebatas kehadiran tubuh di bumi.
Apa itu hidup?
Hidup adalah kehadiran tubuh di bumi. Kalau kita mati tubuh kita dikubur busuk dan hancur. Maka, dengan mati, musnahlah tubuh sekaligus hidup ini. Karena sekarang belum mati dan tidak musnah, maka tubuh ini hidup masih ada di bumi.
Bumi dalam bahasa latin adalah sekulum, dari kata sekulum itulah muncul istilah sekuler. Paradigma sekuler adalah suatu pandangan hidup yang memahami bahwa kehidupan hanya sebatas kehadiran tubuh di bumi ini saja.
Berbeda dengan paradigma materialistik yang menganggap bahwa segala sesuatu baru ada kalau berwujud secara materi sehingga manusia pun dianggap manusia hanya sebatas tubuh, pandangan sekuler melihat kehidupan hanya sebatas kehadiran tubuh di bumi. Maka, dalam konteks ini, muncul beberapa pertanyaan: lalu apa yang kita inginkan dalam hidup ini? Apa yang hendak kita capai dalam hidup?
Semua orang akan berkata saya ingin mendapatkan kebahagiaan. Apakah yang dimaksud dengan kebahagiaan itu?
Ukuran kebahagiaan bagi penganut sekuler adalah kenikmatan tubuh atau jasmani, yang dapat dirasakan sekarang di bumi ini. Bagi mereka, tidak ada kehidupan lain selain kehadiran tubuh yang sekarang. Tidak ada kehidupan nanti kehidupan disana. Kehidupan hanya kini disini, di bumi.
Akibatnya, kebahagiaan yang diukur dari kenikmatan jasmani atau biologis harus disingkirkan, karena ini merupakan pola hidup Hedonisme. Konsekuensinya, kejarlah semua yang diinginkan sekarang juga, disini juga. Raih dan miliki, dapatkan dan ambil. Kuasai sekarang juga, disini juga. Mumpung masih di bumi.
Tak pelak, orang pun berlomba-lomba mencari kenikmatan jasmaniah. Wajar jika banyak orang menjadi stres dilanda kecemasan (anxiety). Mereka merasa kesepian. Di kala tubuh makin hari semakin tua, banyak penyakit yang menghampirinya, seperti kolesterol tinggi, asam urat, tekanan darah tinggi, diabetes dan lain sebagainya. Melihat keadaan ini, mungkinkah orang akan mencapai kebahagiaan? Yang terjadi justru sebaliknya, stres meningkat. Itu sebabnya, kebahagiaan tidak dapat kita raih jika diukur hanya sebatas tubuh jasmani saja.
Apabila orang sudah terjebak pada pola hidup hedonisme, yang menghalalkan segala macam cara, maka prinsip hidup yang dianutnya adalah tiga H yaitu: halal, haram, hantam. Kalau sudah materialistik otomatis sekuler, sehingga yang disebut kenikmatan adalah kenikmatan jasmani. Baginya tidak ada kehidupan ruhaniah nanti disana. Segala-galanya harus bisa diperoleh sekarang juga, mumpung di bumi.
Hedonisme akan membuat orang stres. Misalnya, ketika ada handphone baru dia ingin sekali memilikinya. Akibatnya, bila satu minggu saja dia belum membeli handphone tersebut, itu akan membuatnya stres. Bagaimana dia menghalau stresnya? Dia pun melakukan terobosan-terobosan dan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan handphone baru tadi.
Sikap hidup yang hedonis membuat orang tidak bahagia. Mengapa? Karena pola pikirnya adalah mengejar kenikmatan tubuh sesaat. Padahal, tubuh akan semakin menua dan melemah. Apabila tubuh yang semakin menua dan semakin melemah itu dipaksa harus menikmati segala sesuatu secara jasmaniah, sekarang dan disini, bukankah hal ini hanya akan menjadikan orang bertambah stres?
C. PARADIGMA SPIRITUALISTIK
Berbeda dengan paradigma materialistik yang menganggap sesuatu baru dikatakan ada apabila berwujud secara materi, paradigma spiritualistik adalah memahami sesuatu tidak hanya sebatas kehadiran tubuh di bumi, namun manusia adalah mahluk spiritual/manusia ruhaniah. Akan ada kehidupan selain di bumi sekarang ini. Allah mengingatkan bahwa manusia bukan hanya tubuh, tetapi juga ruh. Sebagaimana Allah SWT ingatkan dalam ayat-Nya berikut ini:
Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut? (QS Al-Insaan, 76:1)
Ayat di atas menerangkan bahwa yang datang kepada manusia (al insan) adalah masa/waktu, artinya manusia telah lebih dahulu ada sebelum datangnya waktu. Manusia yang belum menjadi sesuatu, bahkan belum disebut sebagai sesuatu.
Itulah masa ketika manusia belum memiliki tubuh jasmaniyah, ketika ibu dan bapaknya belum kawin dan membentuk janin tubuhnya. Itulah masa ketika manusia masih dalam wujud ruhaniyah bersama ruh-ruh lain di alam lâhût, alam dimensi ke-Tuhanan, entah dimana. Ruh adalah wujud pertama manusia dalam proses penciptaannya sebelum diturunkan ke bumi dan dimasukkan kedalam tubuh jasmaniah (basyar).
Tubuh yang kita miliki ini merupakan sarana fisik semata. Pada hakikatnya manusia yang ruhaniah yang hadir ke dalam tubuh.
Tujuan penciptaan manusia
Tidaklah Aku cipta jin dan manusia kecuali untuk melayaniKu (QS Adz-Dzariyat, 51:56)
Manusia dicipta untuk memberikan pelayanan (service/`ibâdah) kepada Allah SWT. Salah satu bentuk pelayanan itu adalah dengan menjadi Wakil Allah (khalîfatullâh) di bumi guna menjalankan misi kepemimpinan (leadership / imâmah).
Dan Dialah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di bumi, lalu mengangkat derajat sebagian kamu lebih tinggi dari yang lain, untuk mengujimu atas apa yang telah dilimpahkanNya kepadamu. (QS Al-An’am, 6:165)
Misi kepemimpinan manusia di muka bumi antara lain mencakup: merawat lingkungan, melindungi makhluk-makhluk hidup dari kepunahan, menjaga kelestarian alam, menegakkan hukum, menebarkan kasih sayang, dan menghasilkan kemakmuran.
Persoalannya adalah bagaimana mungkin manusia yang dicipta dalam wujud ruh itu akan menjalankan misi tersebut kalau manusia tidak memiliki sarana fisik. Tanpa sarana fisik keberadaan dan fungsi manusia menjadi tidak efektif. Guna menopang pencapaian misi itulah maka Allah SWT lalu menciptakan tubuh jasmaniyah bagi manusia.
Untuk itu, kita perlu mengubah paradigma tentang manusia dan kehidupan ini. Diri kita bukan hanya tubuh tetapi ruh. Dahulu, kini dan nanti, akan ada kehidupan.
Paradigma ini penting ditanamkan ketika kita belajar tasawuf. Kalau paradigma belum digeser kemudian belajar tasawuf, apa yang terjadi? Kemungkinan yang terjadi adalah dzikir yang dilakukan tujuannya menjadi serba materi, kekinian dan kedisinian. Yaitu: supaya cepat kaya, atau ingin memiliki kekuatan supranatural seperti bisa menembus dinding dan lain-lain.
Kalaulah dalam bertasawuf yang dikejar hanya karomah-karomah, maka cepat atau lambat hal itu akan tergantikan oleh teknologi karena manusia mempunyai potensi kreatif. Belajar tasawuf akan menjadi berat bila paradigmanya masih materialistik. Sebaliknya kalau paradigma sudah diubah maka bertasawuf menjadi ringan.
Dengan mengganti paradigma materialistik menjadi paradigma spiritualistik, maka manusia menyadari bahwa dirinya adalah mahluk spiritual yang ditempatkan di dalam tubuh. Tubuh tak lain hanya berfungsi sebagai cangkang/wadah. Yang hakiki adalah yang spiritual.
Dalam kaitan ini, kita perlu menggeser pandangan bahwa kehidupan tidak sebatas di bumi ini saja. Karena sesungguhnyalah hidup itu abadi. Bukan saja di alam sini tetapi juga di alam sana (transendental).
dan mereka kekal di dalamnya" (QS. Al-Baqarah, 2:25)
Sebab itu tidak usah takut pada kematian, kematian adalah sesuatu yang pasti.
Bila paradigma sudah berubah menjadi spiritual, persoalannya bukan pada kematian yang perlu ditakuti.
Tetapi pertanggungjawaban sesudah kematian itulah yang ditakuti. Karena sejatinya, yang disebut manusia adalah manusia ruhaniah. Si manusia ruhaniah inilah yang akan dibawa menghadap Allah. Editor: Han
Sumber :www.tqn-jakarta.org