"Migunani Marang liyan,Ora Gawe Kapitunaning Liyan,Marsudi Luhur Ing jiwo"

Kamis, 03 Februari 2011


HAKIKAT IKHLAS
25 Desember 2010 05:19:37
Oleh: KH. Dr. A. Mustofa Bisri

Kami, aku dan kakakku Kiai Cholil Bisri, mendengar dari guru kami Syeikh Yasin Al-Fadani dan ayah kami Kiai Bisri Mustofa --rahimahumuLlah, masing-2 berkata: Aku bertanya kpd Sayyid Guru Umar Hamdan ttg hakikat IKHLAS, dan beliau pun berkata: Aku pernah bertanya kpd guruku Syeikh Sayyid Muhammad Ali Al-Witri ttg hal itu dan beliau berkata, Aku pernah bertanya ttg hal itu kpd guruku Syeikh Abdul Ghani Al-Mujaddidi, beliau berkata: Aku pernah bertanya kepada guruku Syeikh Muhammad Abid As-Sindi Al-Anshari, beliau berkata: Aku pernah bertanya ttg hal itu kepada Syeikh Shiddiq bin Ali Al-Mizjaji,
beliau berkata: Aku pernah bertanya ttg hal itu kepada ayahku, beliau berkata: Aku pernah bertanya ttg hal itu kepada Syeikh Hasan Al-Ujaimi, beliau berkata: Aku pernah bertanya ttg hal itu kepada Syeikh Ahmad al-Qasysyasyi, beliau berkata: Aku pernah bertanya ttg hal itu kepada Syeikh Ahmad Syanaawi, beliau berkat: Aku pernah bertanya ttg hal itu kepada ayahku Syeikh Ali Asy-Syanaawi, dan beliau berkata: Aku pernah bertanya ttg hal itu kepada Syeikh Abdul Wahhab Asy-Sya'rani dan beliau berkata: Aku pernah bertanya ttg hal itu kepada Al-Haafizh Jalaluddin As-Suyuthi, beliau berkata: Aku pernah bertanya ttg hal itu kepada A'isyah binti Jaarullah bin Shaleh Ath-Thabari, beliau berkata: Aku pernah bertanya ttg hal itu kepada Syeikh Ibrahim bin Muhammad bin Shiddiq dan beliau berkata: Aku bertanya ttg hal itu kpd Syeikh Abul Abbas Al-Hajjar dan beliau berkata: Aku pernah bertanya ttg hal itu kepada Syeikh Jakfar Ibn Ali AL-Hamdani, beliau berkata: Aku pernah bertanya ttg hal itu kepada Syeikh Abul Qasim bin Basykual, beliau berkata: Aku pernah bertanya ttg hal itu kepada Syeikh Qadhi Abu Bakar bin aL-'Arabi, beliau berkata: Aku pernah menanyakan hal itu kepada Syeikh Ismail bin Muhammad Al-Fadhal Al-Ashbihani, beliau berkata: Aku pernah menanyakan halitu kepada Syeikh Abu Bakar bin Ahmad bin Ali bin Khalaf dan beliau berkata: Aku pernah menanyakan hal itu kepada Syeikh Abdurrahman Al-Baihaqi dan beliau berkata: Aku pernah menanyakan hal itu kepada Syeikh Ali bin Sa'id Ats-Tsaghrai dan Syeikh Ahmad bin Muhammad bin Zakaria dan beliau berdua berkata: Kami pernah menanyakan hal itu kepada Syeikh Ali bin Ibrahim Asy-Syaqiqi dan beliau berkata: Aku pernaha menanyakan hal itu kepada Syeikh Abu Ya'qub Asy-Syaruthi, beliau berkata: Aku pernah bertanya ttg hal itu kepada Syeikh AHmad bin Ghassan dan beliau berkata: Aku pernah bertanya ttg hal itu kepada Syeikh Ahmad bin 'Atha' Al-Hujaimi, beliau berkata: Aku pernah bertanya ttg hal itu kepada Syeikh Abdul Wahid bin Zaid dan beliau berkata: Aku pernah bertanya ttg hal itu kepada Imam Hasan Al-Bashari, beliau menjawab, Aku pernah bertanya kepada shahabat Hudzaifah r.a, beliau menjawab: Aku pernah bertanya kepada Rasulullah SAW ikhlas itu apa, beliau menjawab: Aku pernah menanyakan ttg ikhlas itu kpd malaikat Jibril a.s dan beliau menjawab: Aku pernah bertanya ttg hal itu kepada Allah Rabbul 'Izzaah, dan IA menjawab: "IKHLAS ialah RAHASIA di antara rahasia-rahasiaKU yg KUtitipkan di hati hambaKU yg AKu cintai."
Sumber:www.GusMus.NET

Rabu, 02 Februari 2011


Sejarah Hari Jum’at dan Keistimewaan Sholat Jum’at
26/01/2011

Hari Jum’at adalah sayyidul ayyam. Artinya Jum’at mempunyai keistemewaan dibandingkan hari lain. Jika nama-nama hari yang lain menunjukkan urutan angka (ahad artinya hari pertama, itsnain atau senin adalah hari kedua, tsulatsa atau selasa adalah hari ketiga, arbi’a atau Rabu adalah hari keempat dan khamis atau kamis adalah hari kelima), maka Jum’at adalah jumlah dari kesemuanya.

Menurut sebagian riwayat kata Jum’at diambil dari kata jama’a yang artinya berkumpul. Yaitu hari perjumpaan atau hari bertemunya Nabi Adam dan Siti Hawa di Jabal Rahmah. Kata Jum’at juga bisa diartikan sebagai waktu berkumpulnya umat muslim untuk melaksanakan kebaikan –shalat Jum’at-.

Salah satu bukti keistimewaan hari Jum’at adalah disyariatkannya sholat Jum’at. Yaitu shalat dhuhur berjamaah pada hari Jum’at. -Jum’atan-. Bahkan mandinya hari Jum’at pun mengandung unsur ibadah, karena hukumnya sunnah.

Dalam Al-Hawi Kabir karya al-Mawardi, Imam Syafi’i menjelaskan sunnahnya mandi pada hari Jum’at. Meskipun sholat Jum’at dilaksanakan pada waktu sholat dhuhur, namun mandi Jum’at boleh dilakukan semenjak dini hari, setelah terbit fajar. Salah satu hadits menerangkan bahwa siapa yang mandi pada hari Jum’at dan mendengarkan khutbah Jum’at, maka Allah akan mengampuni dosa di antara dua Jum’at.

Oleh karena itu, baiknya kita selalu menyertakan niat setiap mandi di pagi hari Jum’at. Karena hal itu akan memberikan nilai ibadah pada mandi kita. Inilah yang membedakan mandi di pagi hari Jum’at dengan mandi-mandi yang lain.

Empat Puluh Orang
Shalat Jum’at -Jum’atan- bisa dianggap sebagai muktamar mingguan –mu’tamar usbu’iy- yang mempunyai nilai kemasyarakatan sangat tinggi. Karena pada hari Jum’at inilah umat muslim dalam satu daerah tertentu dipertemukan.

Mereka dapat saling berjumpa, bersilaturrahim, bertegur sapa, saling menjalin keakraban. Dalam kehidupan desa Jum’atan dapat dijadikan sebagai wahana anjangsana. Mereka yang mukim di daerah barat bisa bertemu dengan kelompok timur dan sebagainya.

Begitu pula dalam lingkup perkotaan, Jum’atan ternyata mampu menjalin kebersamaan antar karyawan. Mereka yang setiap harinya sibuk bekerja di lantai enam, bisa bertemu sesama karyawan yang hari-harinya bekerja di lantai tiga dan seterusnya.

Kebersamaan dan silaturrahim ini tentunya sulit terjadi jikalau Jum’atan boleh dilakukan seorang diri seperti pendapat Ibnu Hazm, atau cukup dengan dua orang saja seperti qaul-nya Imam Nakho’i, atau pendapat Imam Hanafi yang memperbolehkan Jum’atan dengan tiga orang saja berikut Imamnya.

Oleh sebab itu menurut Imam Syafi’i Jum’atan bisa dianggap sah jika diikuti oleh empat puluh orang lelaki. Dengan kat lain, penentuan empat puluh lelaki sebagai syarat sah sholat Jum’at oleh Imam Syafi’i memiliki faedah yang luar bisa.

Hal ini membuktikan betapa epistemogi aswaja -ahlussunnah wal jama’ah- yang dipraktikkan oleh Imam Syafi’i selalu mendahulukan kepentingan bersama. Kebersamaan dan persatuan umat dalam pola pikir aswaja -ahlussunnah wal jama’ah- adalah hal yang sangat penting. Tidak hanya dalam ranah aqidah dan politik saja, tetapi juga dalam konteks ibadah. (Ulil Hadrawi)
Sumber:www.nu.or.id.

GP Ansor Sebagai Ujung Tombak Perjuangan NU
14/01/2011
Oleh KH Said Aqil Siroj

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh

Gerakan Pemuda Ansor memiliki posisi penting dalam NU sejak awal kelahirnnya, tidak hanya berperan sebagai penyemaian kader-kader NU yang dinamis dan militan, tetapi juga sekaligus sebagai ujung tobak bagi perjuangan NU di semua sektor kehidupan.

Dalam situasi tantangan kebudayaan global dewasa ini NU diharapkan bisa tetap eksis, bahkan diharapkan dapat mewarnai kehidupan global dewasa ini yang penuh persaingan dan pertikaian antara berbagai ideologi-ideologi yang ekstrem dan radikal yang mengancam ketenteraman dan kedamaian. Dilain pihak gaya hidup yang konsumtif dan penghamburan energi yang berlebihan tidak hanya membuat kerusakan lingkungan sehingga terjadi climate change (perubahan iklim) dan cuaca ekstrem dalam dekade terakhir ini, tetapi juga mengakibatkan kesenjanga sosial antara kaya dan miskin.

Di tengah munculnya ektrem ideologi, ekstrem gaya hidup, itu NU akan tetap mengambil jalan tengah (ummat wasathan), karena ini merupakan jalan Islam yang sesungguhnya, sebagaimana Firman Allah.

“Dan demikianlah aku menciptakanmu sebagai umat yang (moderat, adil), agar kamu menjadi saksi atas manusia dan agar Rasul menjadi saksi atas perbuatanmu.” (QS: Al Baqarah 143).

Dalam menjalanan tugas ini tentu tidak mudah, banyak tantangan terutama dari ideologi ekstrem yang ada, maka dalam kondisi seperti ini GP Ansor NU harus tampil di garis depan perjuangan NU untuk membentengi ajaran Islam ahlussunnah wal jamaah. Ajaran ahlusunnah ini berpegang teguh pada Sunnah Nabi secara, qoulan wa fi’lah wa taqriran (sabda, tindakan dan kesepakatan). Sebagai pembawa misi kenabian maka ahlussunnah selalu berpegang pada prinsip jamaah yaitu bersama dan membela kepentingan masyarakat banyak.

Dalam kondisi seperti ini maka sebenarnya Ansor di sini tidak terbatas hanya Ansoru Nahdlatul Ulama, tetapi lebih jauh lagi menjadi Ansorul Islam, Ansarullah dan Ansorul Wathan (Pembela Tanah Air). Ini bukan pengandaian tetapi telah diperankan GP Ansor.

Menghadapi tanggung jawab agama, negara dan bangsa ini GP Ansor NU perlu menyingsingkan lengan baju, karena hanya dengan demikian akan bisa mengemban peran besar sebagai syuhudu hadhari (penggerak peradaban) bangsa, tetapi juga berperan sebagai syuhud tsaqafi (penggerak intelektual) dalam membangun dan menyangga bangsa ini. Komitmen NU pada bangsa ini tidak bisa ditawar, karena NU terlibat dalam mendirikan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini sehingga ketaatan NU pada Bangsa dan negara ini bersifat mutlak. Dalam negara ini ini bukan sekadar berperan sebagai stake holder (pemangku kepentingan) yang tidak memiliki peran apapun, sebagaimana sering disebut orang. NU turut mendirikan negara ini dengan pengorbanan harta dan nyawa, karena itu NU duduk sebagai share holder (pemilik saham) dalam NKRI ini, sehingga posisinya kuat dan memiliki tanggung jawab terhadap negara ini.

Sebagai salah satu pendiri NKRI maka sense of belonging (rasa memiliki) NU terhadap negara ini sangat tinggi sehingga harus terus dibela dan dijaga dalam koridor empat pilar utama yaitu Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika. Demikian sikap NU terhadap negara ini. Sementara terhadap pemerintah NU menggunakan pendekatan amar makruf nahi munkar, bila pemerintah berjalan sesuai dengan aturan dan aspirsi rakyat, maka NU akan mendukung penuh kebijakan pemerintah, tetapi ini bukan berarti NU berkoalisi. Karena NU bukan partai politik yang bisa melakukan koalisi dengan pemerintah. Sebaliknya bila kebijakan pemerintah tidak sesuai dengan konstitusi dan aspirasi rakyat, maka NU akan melakukan kritik, namun ini tidak berarti oposisi, NU bukan partai politik yang bisa beroposisi.

Dengan demikian sikap NU terhadap pemerintah akan lebih proporsional dan rasional tidak apriori menerima sebagimana lazimnya dilakukan oleh kelompok koaliasi. Dan tidak apriori menolak sebagaimana dilakukan kelompok oposisi. Dengan demikian diharapkan NU akan mampu menjaga keseimbang kehidupan bernegara. Dalam konteks ini Peran GP Ansor sangat diperlukan bahkan harus menjadi ujung tombak dari gerakan kultural NU dalam menjaga bangsa dan negara ini. Tanpa diminta terbukti Ansor selalu menunaikan tugas ini. Untuk mengefektifkan peran ini tentunya GP Ansor NU perlu melakukan konsolidasi dan kaderisasi secara terencana dan teratur.

Konsolidasi Organisasi
Menghadapi tugas berat baik yang dihadapi oleh NU dan negara serta bangsa ini, tentu diperlukan sebuah organisasi yang solid, sehingga bisa berjalan secara efektik. GP Ansor NU yang lahir 1934 telah berkembang luas yang memiliki cabang di seluruh penjuru tanah air. Dan memainkan peran di seluruh level perjuangan. Setiap zaman membawa tantangannya sendiri dan setiap tantangan perlu respon dan jawaban tersendiri. Karena itu bagaimanapun organisasi yang besar ini perlu terus dikonsolidasi, ditata ulang manejemen kepemimpinannya, agar mamapu merespon dan mengantisipasi berbagai perkembangan yang terjadi.

Sistem kehidupan sosial di alam modern yang lebih individual dan rasionalistik dengan sendirinya telah merenggangkan ikatan-ikatan sosial tradisional. Dengan demikian juga akan mempengaruhi pola berorganaisasi. Kerenggangan organisasi kalau dibiarkan akan melemahkan gerak organisasi. Sementara organisasi yang lamban bergerak akan sulit merespon perkembanagan yang terjadi dengan sedemikian cepat. Demikian pula derasnya arus perubahan soosial juga mempertinggi tunbtutan masyarakat, semuanya ini hanya bisa direspon dan diantisipasi oleh organisasi yang benar-benar solid.

Dari zaman ke zaman GP Ansor bisa membuktikan kemampuannya mengambil peran dalam kehidupan di negeri ini. Bahkan dalam situasi paling sulit pun Ansor bisa mengambil peran strategis. Ini tidak lain karena organisasi ini mampu menjaga keutuhan organisasi, sehingga peran-perannya masih dirasakan tidak hanya oleh umat Islam tetapi juga oleh bangsa ini. Situasi telah berubah, tantangan ke depan makin besar, sendi-sendi organisasi muai digerogoti oleh sikap apriori, sikap mementingkan diri sendiri. Agenda bagi Ansor adalah bagaiman terus menggairahkan spirit berorganisasi, spirit membela rakyat dan keutuhan bangsa. Ini arti penting konsolidasi organisasi.
Menggerakkan Kaderisasi.

Sejak awal berdirinya GP Ansor NU adalah merupakan sebuah organisasi kader, organisasi ini didirikan untuk menyiapkan kader muda yang nantinya akan berperan di NU. Bayangkan NU telah lahir sebelum negara Indonesia ini ada, dan sekarang masih tetapi ada tidak kurang sedikit apapun bahkan semakin besar, sementara banyak organisasi seusia yang sudah tiada. Rahasia NU sebagai organisasi yang mamapu bertahan melewatan berbagai zaman yang kini berusia 85 tahun tidak lain salah satunya karena tertibnya NU dalam melaksanakan kaderisai, yang salah satunya dilaksanakan oleh GP Ansor.

Keberlangsungan organisasi selain ditunjang oleh adanya ajaran yang selalu relevan juga ditunjang oleh adanya sistem kaderisai yang runtut. Tanpa adanya kaderisasi tidak mungkin dilakukan regenerasi secara sempurna, sementara organisai tanpa regenerasi akan mengalami kejumudan dan stagnasi. Dari situ banyak organisqsiyang laahair kemudian pada berguguran. Kepentingan pragmatis dan jangka pendek, selalu mengabaikan program kaderisasi, karena kaderisai diangap sebagai sesuatu yang mahal dan tidak jelas hasilnya. Memang kaderisasi adalah human invesment (investasi kemanusiaan) jangka panjang, maka hanya pemimpin yang visoner saja yang peduli pada kaderisasi ini.

Kaderisasi ini terbukti tidak hanya dikhususkan untuk NU tetapi lebih luas lagi sebagai kaderr bangsa, terbukti banyak kader GP Ansor ayang berkiprah di berbagai lembaga-lembaga strategis, baik di pemerintahan, di organisasi kemasyarakat, di partai politik, di perguruan tinggi, di lembaga profesi, ketentaraan dan lain sebagainya. Dengan demikian menjalankan kaderisasi juga merupakan investasi besar dan sekaligus peran penting dalam membangun bangsa dan negara ini secara keseluruhan. Mengingat sangat variatifnya anggota GP Ansor, maka kaderisai mesti dilakukan secara multi disiplin dan perlu diutamakan pengembangan masing-masing talenta dari anggota, agar diseminasi atau penyebaran kader GP Ansor semakin meluas, sehingga perannya juga semakin besar.

Kaderisiasi yang teratur dan berwawasan ini eengan sendirinya akan melahirkan kepemimpinan yang visioner yang mampu membuka cakrawala organisiai dan cakap dalam mengelola organisasi dalam kondisi apapun, sehingga mampu mengemban amanat organisasi yang tidak lain adalah amanat agama dan amanat bangsa. Pemimpin yang mampu memegang amanah itulah yanga sangat diharapkan perannya dalam organisasi sebesar GP Ansor ini.

Waallahul muwafiq ila aqwamith thariq.
Wassalaamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh

Disampaikan dalam pembukaan Kongres Ke XIV GP Ansor NU di Surabaya, 13 Januari 2011
Sumber:www.nu.or.id.

Selasa, 01 Februari 2011


Ma’ruf Al-Kharqi, Sufi yang Bertamu di Arasy

Ia mabuk cinta akan Dzat Ilahi. Konon, Allah mengkuinya sebagai manusia yang mabuk cinta kepada-Nya. Kebesarannya diakui berbagai golongan
Nama sufi ini tidak terlalu populer, meski sama-sama berasal dari Irak, namanya tak sepopuleh Syekh Abdul Qadir Jailani, Manshur Al-Hallaj, atau Junaid Al-Baghdadi. Dialah Ma’ruf Al-Kharqi, salah seorang sufi penggagas paham cinta dalam dunia Tasawuf yang jiwanya selalu diselimuti rasa rindu yang luar biasa kepada sang Khalik. Tak salah jika ia menjadi panutan generasi sufi sesudahnya. Banyak sufi besar seperti Sarry Al-Saqaty, yang terpengaruh gagasan-gagasannya. Ia juga diangap sebagai salah seorang sufi penerus Rabi’ah Al-Adawiyah sang pelopor mazhab Cinta.
Nama lengkapnya Abu Mahfudz Ma’ruf bin Firus Al-Karkhi. Meski lama menetap di Baghdad, Irak, ia sesungguhnya berasal dari Persia, Iran. Hidup di zaman kejayaan Khalifah Harun Al-Rasyid dinasti Abbasiyah. tak seorangpun menemukan tanggal lahirnya. Perhatikan komentar Sarry As-Saqaty, salah seorang muridnya. “Aku pernah bermimpi melihat Al-Kharqi bertamu di Arasy, waktu itu Allah bertanya kepada Malaikat, siapakah dia? Malaikat menjawab, “Engkau lebih mengetahui wahai Allah,” maka Allah SWT berfirman, dia adalah Ma’ruf Al-Kharqi, yang sedang mabuk cinta kepadaku.”
Menurut Fariduddin Aththar, salah seorang sufi, dalam kitab Tadzkirul Awliya, orang tua Ma’ruf adalah seorang penganut Nasrani. Suatu hari guru sekolahnya berkata, “Tuhan adalah yang ketiga dan yang bertiga,” tapi, Ma’ruf membantah, “Tidak! Tuhan itu Allah, yang Esa.
Mendengar jawaban itu, sang guru memukulnya, tapi Ma’ruf tetap dengan pendiriannya. Ketika dipukuli habis-habisan oleh gurunya, Ma’ruf melarikan diri.
Karena tak seorang pun mengetahui kemana ia pergi, orang tua Ma’ruf berkata, “Asalkan ia mau pulang, agama apapun yang dianutnya akan kami anut pula.” Ternyata Ma’ruf menghadap Ali bin Musa bin Reza, seorang ulama yang membimbingnya dalam Islam.
Tak beberapa lama, Ma’ruf pun pulang. Ia mengetuk pintu. “Siapakah itu” tanya orang tuanya. “Ma’ruf,” jawabnya. “agama apa yang engkau anut?” tanya orang tuanya. “Agama Muhammad, Rasulullah,” jawab Ma’ruf. Mendengar jawaban itu, orang tuanya pun memeluk Islam.
Cinta Ilahiah
Salah seorang gurunya yang terkenal adalah Daud A-Tsani, ia membimbing dengan disiplin kesufian yang keras, sehingga mampu menjalankan ajaran agama dengan semangat luar biasa. Ia dipandang sebagai salah seorang yang berjasa dalam meletakkan dasar-dasar ilmu tasawuf dan mengembangkan paham cinta Ilahiah.
Menurut Ma’ruf, rasa cinta kepada Allah SWT tidak dapat timbul melalui belajar, melainkan semata-mata karena karunia Allah SWT. Jika sebelumnya ajaran taawuf bertujuan membebaskan diri dari siksa akhirat, bagi Ma’ruf merupakan sarana untuk memperoleh makrifat (pengenalan) akan Allah SWT. Tak salah jika menurut Sufi Taftazani, adalah Ma’ruf Al-Kharqi yang pertama kali memperkenalkan makrifat dalam ajaran tasawuf, bahkan dialah yang mendifinisikan pengertian tasawuf. Menurutnya, Tasawuf ialah sikap zuhud, tapi tetap berdasarkan Syariat.
Masih menurut Ma’ruf, seorang Sufi adalah tamu Tuhan di dunia. Ia berhak mendapatkan sesuatu yang layak didapatkan oleh seorang tamu, tapi sekali-kali tidak berhak mengemukakan kehendak yang didambakannya. Cinta itu pemberian Tuhan, sementara ajaran sufi berusaha mengetahui yang benar dan menolak yang salah. Maksudnya, seorang sufi berhak menerima pemberian Tuhan, seperti Karomah, namun tidak berhak meminta. Sebab hal itu datang dari Tuhan – yang lazimnya sesuai dengan tingkat ketaqwaan seseorang kepada Allah SWT.
Gambaran tentang Ma’ruf diungkapkan oleh seorang sahabatnya sesama sufi, Muhammad Manshur Al-Thusi, katanya, “Kulihat ada goresan bekas luka di wajahnya. Aku bertanya: kemarin aku bersamamu tapi tidak terlihat olehku bekas luka. Bekas apakah ini?” Ma’ruf pun menjawab, “Jangan hiraukan segala sesuatu yang bukan urusanmu. Tanyakan hal-hal yang berfaedah bagimu.”
Tapi Manshur terus mendesak. “Demi Allah, jelaskan kepadaku,” maka Ma’ruf pun menjawab. “Kemarin malam aku berdoa semoga aku dapat ke Mekah dan bertawaf mengelilingi Ka’bah. Doaku itu terkabul, ketika hendak minum air di sumur Zamzam, aku tergelincir, dan mukaku terbentur sehingga wajahku lukan.”
Pada suatu hari Ma’ruf berjalan bersama-sama muridnya, dan bertemu dengan serombongan anak muda yang sedang menuju ke Sungai Tigris. Disepanjang perjalanan anak muda itu bernyanyi sambil mabuk. Para murid Ma’ruf mendesak agar gurunya berdoa kepada Allah sehingga anak-anak muda mendapat balasan setimpal. Maka Ma’ruf pun menyuruh murid-muridnya menengadahkan tangan lalu ia berdoa, “Ya Allah, sebagaimana engkau telah memberikan kepada mereka kebahagiaan di dunia, berikan pula kepada mereka kebahagiaan di akherat nanti.” Tentu saja murid-muridnya tidak mengerti. “Tunggulah sebentar, kalian akan mengetahui rahasianya,” ujar Ma’ruf.
Beberapa saat kemudian, ketika para pemuda itu melihat ke arah Syekh Ma’ruf, mereka segera memecahkan botol-botol anggur yang sedang mereka minum, dengan gemetar mereka menjatuhkan diri di depan Ma’ruf dan bertobat. Lalu kata Syekh Ma’ruf kepada muridnya, “Kalian saksikan, betapa doa kalian dikabulkan tanpa membenamkan dan mencelakakan seorang pun pun juga.”
Ma’ruf mempunyai seorang paman yang menjadi Gubernur. Suatu hari sang Gubernur melihat Ma’ruf sedang makan Roti, bergantian dengan seekor Anjing. Menyaksikan itu pamannya berseru, “Tidakkah engkau malu makan roti bersama seekor Anjing?” maka sahut sang kemenakan, “Justru karena punya rasa malulah aku memberikan sepotong roti kepada yang miskin.” Kemudian ia menengadahkan kepala dan memanggil seekor burung, beberapa saat kemudian, seekor burung menukik dan hinggap di tangan Ma’ruf. Lalu katanya kepada sang paman, “Jika seseorang malu kepada Allah SWT, segala sesuatu akan malu pada dirinya.” Mendengar itu, pamannya terdiam, tak dapat berkata apa-apa.
Suatu hari beberapa orang syiah mendombrak pintu rumah gurunya, Ali bin Musa bin Reza, dan menyerang Ma’ruf hingga tulang rusuknya patah. Ma’ruf tergelatak dengan luka cukup parah, melihat itu, muridnya, Sarry al-Saqati berujar, “Sampaikan wasiatmu yang terakhir,” maka Ma’ruf pun berwasiat. “Apabila aku mati, lepaskanlah pakaianku, dan sedekahkanlah, aku ingin mneinggalkan dunia ini dalam keadaan telanjang seperti ketika dilahirkan dari rahim ibuku.”
Sarri as-Saqathi meriwayatkan kisah: Pada suatu hari perayaan aku melihat ma’ruf tengah memunguti biji-biji kurma.
“Apa yang sedang engkau lakukan?” tanyaku.
Ia menjawab, “Aku melihat seorang anak menangis. Aku bertanya, “Mengapa engkau menangis?” ia menjawab. “Aku adalah seorang anak yatim piatu. Aku tidak memiliki ayah dan ibu. Anak-anak yang lain memdapat baju-baju baru, sedangkan aku tidak. Mereka juga dapat kacang, sedangkan aku tidak,” lalu akupun memunguti biji-biji kurma ini. Aku akan menjualnya, hasilnya akan aku belikan kacang untuk anak itu, agar ia dapat kembali riang dan bermain bersama anak-anak lain.”
“Biarkan aku yang mengurusnya,” kataku.
Akupun membawa anak itu, membelikannya kacang dan pakaian. Ia terlihat sangat gembira. Tiba-tiba aku merasakan seberkas sinar menerangi hatiku. Dan sejak saat itu, akupun berubah.
Suatu hari Ma’ruf batal wudu. Ia pun segera bertayammum.
Orang-orang yang melihatnya bertanya, “Itu sungai Tigris, mengapa engkau bertayammum?”
Ma’ruf menjawab, “Aku takut keburu mati sebelum sempat mencapai sungai itu.”
Ketika Ma’ruf wafat, banyak orang dari berbagai golongan datang bertakziyah, Islam, Nasrani, Yahudi. Dan ketika jenazahnya akan diangkat, para sahabatnya membaca wasiat almarhum: “Jika ada kaum yang dapat mengangkat peti matiku, aku adalah salah seorang diantara mereka.” Kemudian orang Nasrani dan Yahudi maju, namun mereka tak kuasa mengangkatnya. Ketika tiba giliran orang-orang muslim, mereka berhasil, lalu mereka menyalatkan dan menguburkan jenazahnya.
Wassalam: Ki Semar
Sumber: Sabdaislam.wordpres.com.

Sabtu, 22 Januari 2011


APAKAH TASAWWUF BID'AH ?
Drs. H. Engkir Sukirman, M.Sc.
Peneliti Utama di Badan Tenaga Nuklir Nasional,
Puspiptek, Serpong, Tangerang Selatan.
E-mail : skm2792@batan.go.id
HP : 08170813298

Abdul Hasan Al Fusyandi, seorang tabi'in yang hidup sezaman dengan Hasan Al Bisri (w. 110 H/728 M.) mengatakan, "Pada zaman Rasulullah saw., tasawwuf ada realitasnya, tetapi tidak ada namanya. Dan sekarang, ia hanyalah sekedar nama, tetapi tidak ada realitasnya". Pernyataan ulama dari kalangan tabi'in ini bisa menjadi acuan untuk menjawab pertanyaan: Apakah Tasawwuf Bid’ah?. Memang benar, tidak ada istilah tasawwuf pada zaman Rasulullah saw. Namun, realitasnya ada dalam kehidupan dan ajaran Rasulullah saw, seperti sikap :
a. Tawadhu (rendah hati bagaikan padi makin berisi makin merunduk),
b. Wara’ (bersifat hati-hati dalam segala hal),
c. Zuhud (dunia diletakkan dalam genggaman tangan tidak di dalam hati),
d. Qona’ah (merasa cukup dengan yang ada),
e. Tha’at (menjalankan seluruh perintah dan menjauhi larangan Allah dan Rasul-Nya),
f. Istiqomah (konsisten dan berkekalan dalam beribadah),
g. Mahabbah (mencintai Allah dan Rasul-Nya melebihi cintanya kepada yang lain),
h. Ikhlas (beribadah semata-mata untuk mendapatkan ridho Allah),
i. Shabar (tangguh dalam menjalankan ibadah dan dalam menghadapi cobaan),
j. Ubudiah (mengabdikan diri kepada Allah sepanjang hayatnya dengan khusyu.
k. dan sifat-sifat terpuji (mahmudah) lainnya.
Kumpulan dari sikap-sikap mulia seperti ini dirangkum dalam sebuah nama yaitu Tasawwuf.
Oleh sebab itu, ketika Imam Ahmad menulis buku tentang tasawwuf, beliau tidak memberi nama kitab itu dengan Kitaab At-Tasawwuf. Akan tetapi, beliau memberi nama kitab itu dengan Kitaab Az-Zuhud (Kitab tentang Zuhud). Kalau kita cermati isi kitab tersebut, hampir seluruh isinya membicarakan persoalan-persoalan yang ada dalam kajian tasawwuf.
Kita tidak perlu mempersoalkan nama, yang penting realitas atau substansinya. Dalam mengarungi hidup, kita harus punya jiwa zuhud, qona'ah, taubat, muraqabatullah, 'iffah, dan lain-lain. Anda boleh memberi nama untuk sederet istilah itu dengan nama Tasawwuf. Namun kalau anda tidak suka dengan istilah Tasawwuf dengan alasan istilah tersebut tidak dipakai pada zaman Rasulullah saw, pakai saja istilah lain seperti yang digunakan Imam Ahmad yaitu ilmu zuhud. Yang pasti, materi yang dibahas dalam ilmu zuhud dan ilmu tasawwuf substansinya sama, yang berbeda hanyalah nama.
Adapun makna Tasawwuf, bisa dilacak dari asal-usulnya. Para ahli mengatakan bahwa:
a. Suf (bulu domba), yang biasanya menjadi bahan pakaian orang-orang sufi yang berasal dari Syiria. Mereka memakai pakaian dari bulu domba sebagai lambang kesederhanaan dan kesucian.
b. Ahli Suffah, yaitu orang-orang yang ikut hijrah bersama Nabi dari Mekkah ke Madinah yang karena kehilangan harta benda, mereka berada dalam keadaan miskin dan tidak memiliki apa-apa. Oleh karena itu Rasulullah saw mendirikan ruangan khusus di samping Masjid (Masjid Nabawi) sebagai tempat tinggal mereka dan di situ mereka dididik dalam ilmu agama.

Mereka tinggal di serambi Masjid Nabawi dan tidur di atas batu dengan bantal memakai pelana kuda. Pelana disebut suffah. Ahli Suffah berhati baik dan mulia, tidak mementingkan keduniawian yang bersifat materi, tetapi berpolakan pada kehidupan yang bersifat im-material (ruhani). Mereka miskin harta, tetapi kaya budi yang mulia, mereka mempunyai akhlak yang luhur, iman dan keyakinan yang sangat kuat, tawakkal dan ikhlas. Kehidupan mereka diabadikan dengan megahnya di dalam Al-Qur’an. Rasulullah saw pernah berkata kepada Abu Hurairah, Ahli Suffah itu adalah tamu-tamu orang Islam, mereka tidak mempunyai keluarga, tidak mencintai harta benda, hatinya tidak terikat kepada seorang manusia pun kecuali kepada Allah dan Rasul-Nya.
Kekuatan iman dan keyakinan telah menguasai jiwa mereka dimana dienullah dan rasa ketuhanan benar-benar telah berfungsi di dalam batinnya. Mereka berdo’a dengan merasa berkomunikasi dengan Tuhan, sehingga mereka merasa berkekalan bersama Allah. Oleh karena itu mereka berkata, Laa khaufun ‘alaihim walaahum yahzanuun. Sebagaimana Firman Allah, Bahwa sesungguhnya wali-wali Allah itu tidaklah ada rasa ketakutan atas mereka dan tidak ada pula rasa duka-cita, (yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka adalah orang-orang yang bertakwa (QS. Yunus: 62-63).
c. Safa (suci). Orang-orang sufi adalah orang-orang yang mensucikan dirinya dari hal-hal yang bersifat keduniawian dan mereka lakukan itu melalui latihan yang berat dan lama, yang disebut riyadhoh dan mujahadah.
d. Sophia (hikmah atau filsafat). Seperti ahli filsafat, ahli Tasawwuf sama-sama mencari kebenaran yang berawal dari keraguan dan ketidaktahuan.
e. Saf (barisan) dalam sholat. Orang-orang sufi selalu mengambil saf pertama dalam sholat berjamaah untuk mendapatkan pahala yang utama.
f. Sufah, yakni gelar dari seorang anak Arab yang sholih yang selalu mengasingkan diri dekat Ka’bah guna mendekati Tuhannya pada zaman sebelum Islam.
g. Sufah, yakni nama Surat ijazah bagi orang yang menunaikan ibadah haji.
h. Tasawwuf berasal dari bahasa Yunani, yaitu Theosophos. Theo artinya Tuhan dan Sophos artinya hikmah. Dengan demikian Tasawwuf berarti hikmah ketuhanan. Pada umumnya yang berpendapat demikian adalah para orientalis.
Dalam perkembangan berikutnya, para ahli memberikan banyak definisi mengenai hal ini, sehingga Annemarie Schimmel mengatakan, sulit mendefinisikan tasawwuf secara komprehensif, karena kita hanya bisa menyentuh salah satu aspeknya saja. Walaupun susah mencari makna yang komprehensif, namun kita perlu mengutip salah satu pengertian tasawwuf yang disampaikan seorang tokoh Sufi modern yaitu Al Junaid Al Baghdadi (w. 289H.) yang menyebutkan, Tasawwuf adalah riyadhah (latihan ruhani) membebaskan hati dari hayawaniyyah (sifat kebinatangan) dan menguasai sifat basyariah (kemanusiaan) untuk memberikan tempat bagi sifat-sifat kerohanian yang suci, berpegang pada ilmu dan kebenaran, dan benar-benar menepati janji terhadap Allah SWT, dan mengikuti sunnah Rasulullah saw.
Mencermati definisi ini, bisa kita simpulkan bahwa tasawwuf adalah latihan untuk membersihkan jiwa dari sifat-sifat kebinatangan dan mengisinya dengan akhlak mulia melalui pelaksanaan ajaran agama yang benar dengan mengikuti apa yang disunnahkan Rasulullah saw.
Tasawwuf merupakan penyempurna Fiqih, demikian juga sebaliknya. Fiqih dan Tsawwuf adalah dua disiplin ilmu yang saling menyempurnakan atau saling melengkapi (complementary). Seorang ahli Fiqih harus bertasawwuf, begitu juga seorang sufi harus mendalami dan mengikuti aturan Fiqih. Oleh karena itu seorang ulama ahli fiqih (Imam Malik) dengan tegas berkata: Barangsiapa mendalami fiqih tapi belum bertasawwuf berarti ia fasiq, barangsiapa bertasawwuf, namun belum mendalami fiqih berarti ia zindiq, dan barangsiapa yang melakukan keduanya berarti bertahaqquq (menjalani hal yang benar).
Tasawwuf dapat menjadikan manusia merasakan nilai-nilai ‘aqidah dan keimanan sehingga ia memiliki ma’rifat rasa (ma’rifatun dzawqiyah syu’uriyah) sesuai dengan hukum-hukum yang terdapat dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Ahli Tasawwuf mengikuti jejak Rasulullah saw sepenuh hati, baik secara lahir maupun bathin, sehingga dia dapat merasakan persoalan-persoalan akhirat seperti melihat dengan mata kepala sendiri. Pada dasarnya Tasawwuf merupakan manifestasi ruhaniah dari masalah–masalah ‘aqidah, tidak lebih dari itu.
Objek kajian Tasawwuf adalah pelaksanaan dan pengamalan kandungan Al-Qur’an dan As-Sunnah secara proportional atas dasar pemahaman yang benar. As-Sunnah adalah jejak Rasulullah saw dalam bentuk perkataan, tindakan dan sifat. Sifat itu bermacam-macam, ada sifat yang nyata (lahir) dan sifat tidak nyata (bathin/maknawi/abstrak). Para sufi yang muhaqqiq (yang sampai pada tingkat hakikat) adalah manusia yang paling loba dalam menjelmakan sifat-sifat Rasulullah saw, sifat lahir maupun yang bathin; sebagaimana mereka juga menggebu-gebu untuk mengikuti jejak Nabi saw, tidak hanya dalam masalah ibadah (hablumminallah), tetapi juga dalam berpakaian, makan, minum, dan dalam bertingkah laku.
Oleh karena itu,............
Jika ada suatu informasi tentang Tasawwuf atau tentang agama pada umumnya, yang tampak secara lahiriah (leterleg) menyimpang/tiak sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an dan Al-Hadits,
1. BOLEH JADI ANDA BELUM FAHAM MAKNA DIBALIK YANG TERSURAT, karena untuk memahaminya membutuhkan takwil. Ketahuilah bahwa para sufi acap kali berbicara dengan bahasa isyarat, metaphor (metafora atau kiasan) dan perumpamaan, sebagaimana banyak kita jumpai pada kata-kata dalam bahasa Arab pada umumnya dan di dalam Al-Qur’an maupun Al-Hadits. Oleh karena itu jangan sekali-kali main hakim sendiri, tanyakan dulu kepada ahlinya (ahli Tasawwuf). Jangan malu bertanya, karena kata pepatah, malu bertanya sesat di jalan.

2. BOLEH JADI INI ADALAH FITNAH YANG KEJI, yakni suatu rekayasa yang dibuat-buat oleh musuh-musuh Islam yang ingin menghancurluluhkan ruh Islam dan kekuatan Islam yang hakiki, dimana mereka tahu persis bahwa ruh Islam, kekuatan Islam yang hakiki itu adalah Tasawwuf. Mereka membuat dan melontarkan statement (ajaran, amalan) yang menyimpang/tidak sesuai dengan tuntuan Al-Qur’an dan Al-Hadits, lalu dinisbatkan/disandarkan seolah-olah dikatakan/dilakukan/diamalkan oleh ulama pengamal Tasawwuf/Sufi.

Wahai saudaraku !. Jangan membabi buta, bersabarlah dengan mau bertanya dan berdiskusi dengan ulama Tasawwuf. BERTANYALAH.....BERTANYALAH......BERTANYALAH.......
Sebagaimana Allah SWT perintahkan kepada kita untuk bertanya kepada orang yang mengetahui ilmunya,

….maka tanyakanlah kepada ahli dzikir, jika kamu tidak mengetahui (QS. An-Nahli: 43).
Perintah itu diulang lagi pada Surat Al-Ambiya: 7, dengan redaksi yang sama. Dimana ahli dzikir tiada lain adalah ulama tasawwuf.
Kenapa perintah untuk bertanya tersebut mesti diulang?. Karena Allah sangat mengetahui dan sangat mengenali watak manusia, yakni sombong dan pelupa. Oleh karena itu Allah mengulangi perintah tersebut, … maka tanyakanlah kepada ahli dzikir, jika kamu tidak mengetahui.
Keadaannya serupa dengan perintah bersyukur, Allah menyindir berulang-ulang di dalam Al-Qur’an Surat Ar-Rahman. Surat tersebut berisi 78 ayat, 31 ayat berbunyi,

Nikmat Tuhan-mu yang mana lagi yang hendak engkau dustakan.
Wassalam.

Rabu, 05 Januari 2011


Ajaran Tasawuf dalam Puji-pujian Menjelang Shalat Fardlu
06/12/2010

Puji-pujian didendangkan di mushalla, langgar atau masjid merupakan nyanyian puitis yang bernuansa keagamaan. Puji-pujian tersebut biasanya didendangkan bersama-sama oleh para jemaah menjelang shalat Subuh, Dzhur, Ashar, Maghrib atau Isya sembari menanti datangnya anggota masyarakat lain yang turut mendirikan shalat berjamaah. Puji-pujian tersebut ada yang menggunakan bahasa Arab maupun bahasa daerah. Mungkin berkat susunannya yang ritmis, puji-pujian ini mudah dihafal dan menyebar dari satu musala atau masjid ke musala lainnya.

Puji-pujian yang didendangkan para jemaah ini biasanya selalu didahului dengan salawatan atau membaca shalawat Nabi dan puji-pujian pada Nabi SAW. Meskipun puji-pujian tersebut berbahasa Jawa, puji-pujian ini selalu didahului shalawat nabi yang memiliki berbagia keutamaan.

Dari Hadist yang diriwayatkan Abu Hurairah r.a ( dalam Assamarqandi, 1980: 619) Nabi SAW bersabda yang artinya: “Bacalah shalawat untukku, sebab bacaan shalawat itu membersihkan kekotoranmu (dosa-dosamu) dan mintalah kepada Allah untukku wasilah. Apakah wasilah itu ya Rasulullah? Jawabnya: Satu derajat yang tertinggi dalam sorga yang tidak akan dicapai kecuali oleh seorang, dan saya berharap semoga sayalah orangnya”.

Orang mengenal pujian disebarkan oleh kalangan pesantren dan ada yang mengatakan puji-pujian ini diperkenalkan oleh para walisongo, yakni penyebar agama Islam di Pulau Jawa. Seperti yang masyarakat kenal lewat sejarah bahwa pendekatan yang digunakan para Walisongo dalam menyebarkan agama Islan adalah pendekatan persuasif yang bersifat kemasyarakatan sesuai dengan adat dan budaya masyarakat waktu itu.

Salah satu contohnya adalah Sunan Giri yang menciptakan Asmaradana dan Pucung. Sunan Giri jugalah yang menciptakan tembang-tembang dolanan anak-anak yang di dalamnya diberi unsur keislaman, misalnya Jamuran, Cublak-cublak Suweng, Jithungan dan Delikan (Rahimsyah, tanpa tahun: 54).

Selain Sunan Giri, ada lagi Sunan Bonang yang menciptakan karya sastra yang disebut Suluk. Suluk berasal dari bahasa Arab ”Salakattariiqa” , artinya menempuh jalan (tasawuf) atau tarikat. Ilmu Suluk ini ajarannya biasanya disampaikan dengan sekar atau tembang disebut Suluk, sedangkan bila diungkapkan secara biasa dalam bentuk prosa disebut Wirid. Salah satu Suluk Wragul dari Sunan Bonang yang terkenal adalah Dhandanggula. Sebagian masyarakat (yang mengenal tarikat) mengatakan bahwa teks puji-pujian diciptakan oleh para pemimpin tarikat dan Syekh Abdul Qadir Jailani.

Puji-pujian yang diperdengarkan di musala berisi shalawatan, do’a-doa mustajabah, dan petuah-petuah hidup. Puji-pujian yang diperdengarkan di musala-musala atau masjid-masjid kental dengan ajaran Tasawuf.

Obat Hati Lima Perkara

Pedoman hidup muslim adalah Al-Qur’an dan Al-Hadits. Al-Qur’an diturunkan Allah melalui utusan-Nya , yakni Nabi Muhammad SAW. Dengan adanya Al-Qur’an dan Al-Hadits ini menjadi jelaslah jalan lurus yang harus ditempuh manusia serta aliran yang benar yang harus diikuti untuk memahami pengertian-pengertian hukum yang tercantum di dalamnya. Hal ini pulalah yang merupakan pemisah antara yang halal dan haram. Fungsinya adalah sebagai cahaya yang cemerlang, dengan berpegang teguh itu akan selamatlah setiap manusia dari tipuan. Kandungannya penuh dengan penawar untuk menyembuhkan hati dan jiwa yang sakit.

Mengenai obat hati ini, dalam teks puji-pujian ditawarkan adanya lima hal yang mampu menjadi obat bagi hati manusia. Kelima hal tersebut adalah (1) membaca Alqur’an dengan mengendapkan maknanya, (2) memperbanyak melakukan shalat malam, (3) berkumpul dengan orang Shaleh atau bergaul dan berguru pada orang Shaleh, (4) mampu menahan lapar atau perbanyak berpuasa, dan (5) perbanyak berdzikir di malam hari. Berikut kutipannya.

Tombo ati iku limo sak wernane
Kaping pisan maca Qur’an sak maknane
Kaping pindu shalat wengi lakonono
Kaping telu wong kang shaleh kumpulono
Kaping papat kudu weteng engkang luwe
Kaping limo dzikir wengi engkang sue

Syair obat hati ini kemudian diakhiri:

Insya Allah Gusti Allah ngijabahi
Insya Allah, Allah mengabulkan

Mengingat Kematian

Setiap yang hidup pasti akan mati, demikian halnya dengan manusia. Semua manusia di dunia ini akan mati. Untuk itu melalui salah satu puji-pujian manusia diingatkan akan datangnya kematian. Adapun teksnya adalah sebagai berikut.

Ilingono para timbalan
(Ingatlah jika sudah waktunya dipanggil)
Timbalane ora keno wakilan’
(Panggilannya tak bisa diwakilkan)
Timbalane kang maha mulya
(Panggilan dari Yang Maha Kuasa)
Gelem ora bakal lunga
(Mau-tak mau harus pergi)

Panggilan yang dimaksudkan adalah panggilan Yang Maha Kuasa.Tak ada satupun yang kuasa menghalanginya. Harta, tahta, ataupun kerabat dan keluarga takkan bisa menghentikannya. Panggilan untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatan selama di dunia. Hendaknya selama masih hidup selalu ingat dan takut hanya pada Allah karena dengan rasa takut itu menjadikannya berhati-hati dan berusaha selalu di jalan yang benar.


Gambaran orang yang sudah mati dalam teks puji-pujian adalah sebagai berikut.
Klambine diganti putih
(Bajunya diganti putih)
Nek budal ora bisa mole
(Jika berangkat tak bisa kembali)
Tumpak ane kereto jowo
(Kendaraannya kereta Jawa)
Roda papat rupa menongsa
(Beroda empat berupa manusia)

Oma e rupa goa
(Rumahnya serupa Go’a)
Ora bantal ora keloso
(Tak ada bantal ataupun tikar)
Omah e gak nok lawange
(Rumahnya tidak ada pintunya)
Turu ijen gak nok rewange
(Tidur sendirian tak ada yang menemani)

Perintah untuk memperbanyak mengingat kematian dalam sebuah hadist yang diriwayatkan Tirmidzi (dalam Addimasyqy, 1983: 1048) menyebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda: ” Perbanyaklah mengingat-ingat sesuatu yang melenyapkan segala macam kelezatan (kematian)”. Selain itu, mengingat kematian dapat melebur dosa dan berzuhud. Dengan mengingat kematian maka kematian itu sendiri sebagai pengingat pada diri sendiri dan orang yang tercerdik adalah orang yang terbanyak mengingat kepada kematian sebagaimana makna hadist yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Ibnu Abiddunnya berikut.

”Secerdik-cerdik manusia ialah yang terbanyak ingatannya kepada kematian serta yang terbanyak persiapannya untuk menghadapi kematian itu. Mereka itulah orang-orang yang benar-banr cerdik dan mereka akan pergi ke alam baka dengan membawa kemuliaan akhirat” (dalam Addimasyqy, 1983: 1049).

Ajaran Tasawuf yang salah satunya adalah ajakan untuk melakukan zuhud merupakan salah satu jalan untuk takut dan berusaha mendekatkan diri pada Allah. Menurut Imam Ahmad bin Hambal (dalam Dahlan, dkk, 1988: 324), seorang ahli fiqih, membagi zuhud menjadi tiga, yakni (1) meninggalkan yang haram (zuhud orang awam); (2) meninggalkan yang tak berguna dari yang halal (zuhud orang khawash, para aulia’); dan (3) meninggalkan sesuatu yang dapat memalingkan diri dari Allah SWT (zuhud orang Arifin, orang yang sangat dekat dan kenal benar pada Allah.
Faiqotur Rosidah
Pengajar di P.P Darul ‘Ulum Peterongan Jombang, sedang menyelesaikan S-2 di Program Pascasarjana Universitas Negeri Surabaya (UNESA)
Sumber:www.nu.or.id

Puasa dan Keberkahan
07/09/2010
Oleh: Hj. Sri Mulyati

Makna Berkah
Kata barakah menurut bahasa, bermakna al-ziyadah berarti tambahan, nilai tambah; al-sa’adah kebahagiaan, al-du’a yaitu doa, al-manfa’ah kemanfaatan, al-baqa’ yang kekal, al-taqdis sesuatu yang suci.

Adapun secara istilah yaitu tsubut al-khayr ilah fi al-syay’ yaitu Allah menetapkan sesuatu kebaikannya itu di dalam sesuatu (yang telah ditentukan Allah). Jadi ketentuan kebaikan itu (al-khayr/al-sa’adah/al-ziyadah mempunyai makna tunggal yang kepunyaan Allah pada tiap-tiap tempat tersebut. Pada mulanya seseorang tidak punya apa-apa lalu Allah letakkan barakahnya maka orang itu menjadi mulya.

Jika dalam harta terdapat barakah maka harta itu baik, manfaat dan mencukupi bahkan nilai kualitas maknanya melebihi nilai kuantitasnya. “Keberkahan ilahi datang dari arah yang sering kali tidak diduga atau dirasakan secara material dan tidak pula dapat dibatasi atau bahkan diukur. Dari sini segala penambahan yang tidak terukur oleh indera dinamai barakah.”

Isim fa’il dari baraka adalah mubarik, karena Allah Maha Pemberi barakah yang melimpah maka Ia secara khusus mensifati diri-Nya dengan sifat tabarak (pemberi barakah yang melimpah), kata tabaraka terdapat sembilan kali diulang dalam al-Qur’an. Sifat ini hanya disandarkan kepada Allah semata, tidak pernah dan tak layak diberikan kepada apa dan siapapun jadi Dialah subhanahu al-mutabarik Yang Mahasuci lagi Pemberi barakah.

Barakah maksudnya menyebut kebaikan Ilahi di dalam sesuatu. Sekurang-kurangnya ada 14 ayat dalam al-Qur’an yang mempunyai kaitan dengan kata al-barakah: Barakah juga terdapat pada tempat contoh Mekkah sebagai rumah ibadah sebagaimana termaktub dalam Qur’an surat Ali ‘Imran 3: 96, lihat juga al-Qashash 28: 30, dan juga berkenaan dengan tempat ibadah yaitu Masjid al-Aqsha (al-Isra’ 17: 1).

Tempat yang juga penuh berkah yaitu tempat dialog Nabi Musa a.s. dengan Allah SWT, juga bagi Nabi Ibrahim dan Nabi Ishaq as, keberkahan diberikan kepada keduanya (al-Shaffat 37: 113), dan juga keberkahan diberikan kepada Nabi Nuh a.s. (Hud 11: 48), dan juga kepada pohon Zaitun (al-Nur 24: 35) Allah berikan keberkahan.

Adapula keberkahan diberikan kepada malam, yakni malam yang diberkahi yaitu malam ketika al-Qur’an pertama kali diturunkan (al-Dukhan 44: 3 serta Surat al-Qadar). Al-Qur’an sebagai sebuah kitab suci (peringatan) juga memiliki berkah (al-Anbiya’ 21: 50, al-An’am 6: 92 dan 155), dan (Shad 38: 29).

Keberkahan juga diberikan Allah kepada penduduk negeri yang beriman dan bertaqwa, dan Allah akan limpahkan barakah dari langit dan bumi (al-A’raf 7: 96), individu atau perseoranganpun akan memperoleh keberkahan dari Allah SWT (Maryam 19: 31). Adapun tentang negeri yaitu Negeri Syam termasuk negeri yang diberkahi Allah karena banyak Nabi berasal dari negeri itu (al-Anbiya’ 21: 71, 81 dan al-A’raf 7: 137, serta Saba’ 34: 18).

Mengenai keberkahan dalam rezeki, Rasulullah SAW pernah berdo’a: Allahumma ighfirli dzanbi wa wassi’ li fi dari wa barik li fi rizqi, ya Allah ampunilah dosaku, lapangkan bagiku di rumahku dan berkahilah aku dalam rezekiku. Beliaupun ditanya,”sering sekali engkau berdoa dengan do’a ini ya Rasulullah?” Beliau berkata,”Memangnya kau sudah tidak membutuhkannya?”

Allah swt sebagai sumber keberkahan dan kebajikan, karena semua jenis kebaikan dan keberkahan yang terdapat pada makhluk adalah berasal dari Allah. Ia yang Maha Berkehendak untuk memberikan barakah dan kebaikan kepada siapapun dan apapun yang Ia pilih, ataupun menghapus dan mencabut keberkahan tersebut. Dia dapat memberikan kerajaan atau pun mencabutnya, Dia dapat memuliakan seseorang yang Ia kehendaki, demikian juga Ia dapat menghinakan siapa yang Ia kehendaki, Di tangan-Nya segala kebajikan, dan Ia Maha Kuasa atas segala sesuatu (Ali ‘Imran 3:26).

Para individu atau perseoranganpun akan memperoleh keberkahan dari Allah SWT (Maryam 19: 31).

Kata mubarakan terambil dari kata al-barakah yang pada mulanya bermakna sesuatu yang mantap, juga berarti kebajikan yang melimpah dan beraneka ragam serta berkesinambungan. Keberkahan Ilahi datang dari arah yang sering tak terduga atau dirasakan secara material dan tidak pula dapat dibatasi atau diukur. Dari sini segala penambahan yang tidak terukur oleh indera dinamai berkah.

Adanya berkah pada sesuatu berarti adanya kebajikan yang menyertai sesuatu itu, misalnya berkah dalam waktu, bila itu terjadi maka banyak kegiatan kebajikan yang dapat dilakukan yang biasanya tidak sebanyak kebajikan yang dapat dilakukan pada waktu tersebut. Berkah pada makanan adalah cukupnya makanan yang sedikit untuk mengenyangkan orang banyak yang biasanya tak cukup untuk orang sebanyak itu.

Dari kedua contoh ini terlihat bahwa keberkahan berbeda-beda sesuai dengan fungsi sesuatu yang diberkahi itu. Keberkahan pada makanan misalnya adalah dalam fungsinya mengenyangkan, melahirkan kesehatan menampik penyakit, mendorong aktifitas positif dan lain lain.

Ini dapat tercapai bukan secara otomatis, tetapi karena adanya limpahan karunia Allah. Karunia yang dimaksud bukan degan membatalkan peranan hukum-hukum sebab dan akibat yang telah ditetapkan Allah swt, tetapi dengan menganugerahkan kepada siapa yang akan diberi keberkahan kemampuan untuk menggunakan dan memanfaatkan hukum-hukum tersebut seefisien dan semaksimal mungkin sehingga keberkahan dimaksud dapat hadir, demikian Quraish Shihab mengutip Thaba’tabai.

Puasa dan Keberkahan

Bulan Ramadlan sering disebut sebagai syahrun ‘adzim, bulan yang agung, dan juga disebut syahrum Mubarak, bulan yang penuh berkah antara lain terdapat malam qadar di dalam bulan Ramadlan.

Adapun keberkahan diberikan kepada malam, yakni malam yang diberkahi yaitu malam ketika al-Qur’an pertama kali diturunkan (al-Dukhan 44: 1-3).

Barakah malam qadar, malam turunnya al-Qur’an. Malam qadar merupakan waktu yang penuh dengan barakah karena pada malam ini adalah waktu diturunkannya al-Qur’an, dan al-Qur’an adalah kitab yang penuh dengan keberkahan dan menjadi petunjuk bagi ummat manusia. Allah berfirman yang artinya: Ha Mim. Demi Kitab (al-Qur’an) yang menjelaskan, sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami lah yang memberi peringatan. (al-Dukhan 44: 1-3).

Menurut al-Alusi malam turunnya al-Qur’an dinamai dengan malam yang penuh barakah karena dengan turunnya al-Qur’an menyebabkan munculnya segala kebaikan dan manfaat duniawi dan ukhrawi. Manfaat duniawi yang terdapat dalam malam ini adalah pada malam itu ditentukannya rezeki dan ajal seseoang serta diberikannya syafaat kepada Nabi Muhammad saw, sedang manfaat ukhrawi adalah pada malam tersebut turunnya para malaikat yang membawa rahmat bagi yang beribadah di malam itu serta dikabulkannya doa.

Turunnya al-Qur’an sebagaimana yang dijelaskan pada ayat di atas dipertegas dengan ayat yang menyatakan bahwa malam itu disebut dengan lailat al-qadr yaitu pada Surat al-Qadr 97: 1-5. Pada ayat ini dijelaskan lebih rinci tentang barakah malam tersebut yaitu malam diturunkannya al-Qur’an, malam dilipat ganda kan fahala hingga lebih baik dari seribu bulan, turunnya malaikat ke bumi, termasuk malaikat Jibril.

Malaikat turun karena banyaknya berkah malam ini dan mereka turun dengan membawa rahmat dan juga keberkahan sebagaimana mereka akan turun ketika dibacakan al-Qur’an, dan mereka mengelilingi majelis dzikir, dan membentangkan sayapnya bagi penuntut ilmu sebagai penghargaan dan penghormatan bagi mereka.

Kata ruh dalam surat ini, menurut mufassir adalah malaikat Jibril, disebut demikian sebagai penghargaan dan karena kedudukannya yang mulia. Adapun yang dimaksud dengan malam yang penuh dengan kedamaian hingga terbit fajar adalah malam ini penuh dengan kebaikan dan keberkahan, tidak adanya setan hingga saat fajar tiba dan tidak adanya penyakit ataupun musibah.

Kata salam diartikan sebagai kebebasan dari segala macam kekurangan, apapun bentuk kekurangan tersebut, baik lahir maupun batin, sehingga seseorang yang hidup dalam salam akan terbebaskan dari penyakit, kemiskinan, kebodohan dan segala sesuatu yang termasuk dalam pengertian kekurangan lahir dan batin. Ibn al-Qayyim menjelaskan tentang hati yang mencapai kedamaian dan ketentraman mengantar pemiliknya dari ragu kepada yakin, dari kebodohan kepada ilmu, dari lalai kepada ingat, khianat kepada amanat, riya’ kepada ikhlas, lemah kepada teguh, dan sombong kepada tahu diri.”

Demikian banyak keberkahan malam qadar sebagai yang disebutkan dalam al-Qur’an, meskipun tidak dinafikan adanya keberkahan pada waktu waktu lain. Seseorang yang mendapat lailat al-qadar akan semakin kuat dorongan dalam jiwanya untuk melakukan kebajikan-kebajikan pada sisa hidupnya sehingga ia merasakan kedamaian abadi.

Secara umum ulama tafsir memahami kata fajr yakni waktu sebelum terbitnya matahari pada malam qadar tersebut, sementara kamu sufi memahami arti terbitnya fajar pada ayat ini sebagai terbitnya fajar matahari dari sebelah barat, yaitu yang akan terjadi kelak menjelang kematian atau kiamatnya dunia. Sehingga ayat ini mereka fahami bahwa keselamatan, kedamaian dan kebebasan dari segala bentuk kekurangan terus menerus berlangsung hingga saat terbitnya fajar tersebut. Ini bagi yang beruntung menemui lailat al-qadar, demikian Ibn ‘Arabi, sebagai yang dikutip Quraisy Shihab.

Dengan demikian kita dapat mengetahui dengan jelas bahwa Allah sebagai sumber keberkahan, segala tempat, barang, waktu, individu, makanan dan lain lain ada yang diberikan unsur keberkahan oleh Allah, sehingga apabila manusia mendapatkan manfaat dari salah satunya atau semua ciptaan yang mengandung keberkahan tersebut niscayalah ia akan bahagia di dunia dan di akhirat.

Jika semua kebaikan dan kenikmatan baik di dunia maupun di akhirat merupakan karunia dari Allah swt kepada hamba-Nya, maka kelangsungan dan kelanggengan serta bertambahnya kebaikan dan kenikmatan kepada manusia adalah merupakan barakah dari Allah swt. Sebuah hadits Nabi saw yang artinya:

Dari ‘Abdullah ibn Mas’ud r.a berkata: ketika kami bersama Rasulullah saw dalam suatu perjalanan, dan kehabisan air, beliau berkata: carilah sedikit ar, maka para sahabat datang dengan membawa tempat yang sedikit airnya, maka Nabi memasukkan tangannya ke tempat air yang tinggal sedikit tadi, kemudian beliau bersabda: “Kemarilah pada air yang suci dan penuh barakah, dan yang barakah hanyalah dari Allah swt.” Dan telah kulihat air keluar dari sela-sela jemari Rasulullah saw.

Dengan demikian jelas bahwa segala bentuk barakah berasal dari Allah swt, oleh sebab itu segala macam bacaan doa untuk mendapatkan barakah selalu disandarkan kepada Allah swt. Telah jelas pula bahwa Allah telah mengutamakan dan memilih sebagian dari makhluk-Nya, Ia pun telah mengutamakan dan memberi berkah pada sebagian tempat atas sebagian tempat yang lain seperti: Mekkah, Madinah dan Masjid al-Aqsha. Demikian pula Allah swt telah mengutamakan sebagian waktu dari sebagian lainnya seperti: bulan Ramadlan, lailat al-qadar, dan juga menempatkan keberkahan pada zaitun, air hujan dsb. Seperti yang sudah diterangkan bahwa Allah swt adalah Yang Maha Pemberi berkah yang melimpah, dan secara khusus mensifati diri-Nya dengan sifat tabarak (pemberi berkah yang melimpah), dan dapat ditemui kata tabaraka terulang Sembilan kali dalam al-Qur’an.

Al-Qur’an sebagai sebuah kitab suci (peringatan) juga memiliki barakah (al-Anbiya’ 21: 50, al-An’am 6: 92 dan 155), dan (Shad 38: 29).

Al-Qur’an mengandung banyak sekali kebajikan (berkah) dan keistimewaan, termasuk orang terpelajar mengakui keistimewaannya, dan tidak sedikit dari petunjuk al-Qur/an diadopsi mereka, dan al-Qur’an juga menjadi bukti kebenaran yang membungkam para penantangnya. Al-Qur’an disebut sebagai faktor yang mendatangkan barakah karena Allah swt telah memberikan beberapa sebutan atau nama pada al-Qur’an antara lain dengan sifat mubarak yang terulang empat kali yaitu pada al-An’am 6: 92, dan 155, al-Anbiya’ 21: 50, dan Shad 38: 29.

Adapun beragam nama yang diberikan kepada al-Qur’an yaitu: Al-Kitab, al-Furqan, al-Dzikr, al-Tanzil, Nur, Huda, Syifa, Rahmah, Mau’izhah, Mubarak, Mubin, Busyro, ‘Aziz, Majid, Basyir, dan Nadzir. Al-Qur’an sebagai sumber kebaikan dan faktor datangnya keberkahan yang tetap dan terus menerus bertambah. Al-Razi menjelaskan bahwa arti dari kitabun mubarak adalah kitab yang banyak kebaikannya dan mempunyai barakah yang abadi, karena selalu memberi berita gembira tentang pahala yang berlipat ganda dan ampunan yang luas, serta memberi ancaman bagi yang berbuat dosa dan maksiat.

Al-Razi selanjutkan ketika menafsirkan surat al-An’am 6: 92 menjelaskan bahwa “Merupakan sunnatullah, bahwa setiap orang yang berpegang teguh pada al-Qur’an dan mencari petunjuknya maka ia akan mendapatkan kemuliaan di dunia dan di akhirat dan saya akui setelah banyak mengkaji ilmu agama dan ilmu umum lainnya, saya belum pernah mendapatkan kebahagiaan seperti ketika saya menekuni ilmu di bidang agama ini.”

Sementara itu Ibn al-Qayyim mengatakan bahwa “Al-Qur’an lebih layak disebut dengan Mubarak dari pada yang lain, karena berlimpahnya berbagai macam kebaikan dan manfaat serta barakah yang terdapat di dalamnya. Al-Alusi menafsirkan kata mubarak dengan manfaat yang melimpah, karena ia mencakup manfaat dunia dan akhirat serta mencakup pengetahuan orang-orang terdahulu dan terkini.

Dan al-Syanqithi menerangkan bahwa mubarak berarti berkah yang banyak dan kebaikan yang melimpah, karena di dalamnya terdapat banyak kebaikan untuk di dunia dan di akhirat.

Adapun beberapa tanda-tanda kemuliaan al-Qur’an adalah karena al-Qur’an adalah kalamullah, al-Qur’an sebagai kitab suci yang benar dan menyerukan kepada kebenaran, al-Qur’an sebagai pemisah antara yang hak dan yang batil, al-Qur’an merupakan cahaya dan petunjuk, al-Qur’an sebagai penerang bagi segala kegelapan dan kesesatan, al-Qur’an sebagai rahmat yang besar dari Allah swt, al-Quran sebagai pemberi kabar gembira bagi orang-orang yang beriman dan pemberi peringatan bagi orang-orang kafir. Al-Qur’an merupakan sumber kesembuhan untuk segala penyakit bagi orang yang beriman dan patuh.
Salah satu contoh konkrit lain yaitu tentang harta yang akan mendapat keberkahan adalah harta yang dibelanjakan pada jalan Allah, seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji, Allah melipatgandakan bagi siapa yang Ia kehendaki. Banyak hadits Nabi saw yang juga menjelaskan tentang balasan Allah swt terhadap belanja yang dikeluarkan di jalan Allah.

Beberapa keberkahan, keutamaan lain bulan ramadhan antara lain adalah:
- Sebagai syahrushshobri, bulan latihan kesabaran
- Sebagai bulan pasaran ibadah, dilipatkan fahala amal kebaikan
Adapun tentang keberkahan yang terdapat dalam pelaksanaan puasa itu sendiri antara lain:
- Puasa sebagai ibadah untuk Allah dan Dia yang akan langsung membalas ganjarannya (fashshaumu li wa ana ajzi bihi)
- Puasa sebagai latihan yang memiliki multi dimensi pendidikan: fisik, mental dan spiritual yang menghasikan kesehatan jasmani, rohani dan kesehatan sosial
- Menurut Syaikh ‘Abd al-Qadir al-Jilani:

Shaum syari’at menahan diri dari makanan, minuman, dan hubungan suami isteri di siang hari, shaum tariqat adalah menahan seluruh anggota tubuh dari segala perbuatan yang diharamkan dan sifat-sifat tercela, lahir dan batin, siang dan malam, bila melakukan hal-hal tersebut maka batallah puasa tariqatnya. Shaum syari’at mempunyai waktu tertentu, shaum tariqat selama hidup.

Nabi bersabda: “Banyak orang yang berpuasa, hasilnya hanyalah lapar dan dahaga.” Hadits lain: “Banyak yang berpuasa, tetapi berbuka. Banyak yang berbuka, tetapi berpuasa.” Yaitu orang yang perutnya tidak berpuasa, tetapi ia menjaga anggota tubuhnya dari perbuatan terlarang dan menyakiti orang lain.

Hadits Rasul: “Bagi orang yang berpuasa akan mendapat dua kebahagiaan yakni ketika berbuka dan ketika melihat Allah.” Pengertian hadits im menurut syari’at ialah kebahagiaan yang pertama ketika berbuka dengan memakan makanan di waktu maghrib, kedua ketika melihat bulan di malam lebaran pertanda selesainya tugas puasa Ramadlan.

Adapun pengertian menurut tariqat ialah kebahagiaan yang pertama ketika masuk syurga menikmati kenikmatan syurga. Semoga Allah memberikannya kepada kita. Kedua ru’yah yakni melihat Allah pada hari kiamat dengan pandangan sirri secara nyata. Semoga kiya mendapatkannya.

Adapun shaum haqiqat, menjaga hati dari selain Allah dan menjaga rasa agar tidak mencintai selain Allah. Hadist Qudsi: “al-insanu sitrri wa ana sirruhu,” manusia adalah rahasiaku dan Aku rahasianya, sir ini dari nur Allah, maka orang yang di tingkat ini tidak akan cenderung kepada selain Allah. Tidak ada yang dicintai, diingini dan dicari selain Allah, di dunia maupun di akhirat. Bila hati terjatuh pada mencintai selain Allah, maka batallah shaum haqiqatnya, dan ia harus malakukan qadla dengan kembali mencintai Allah dan menemuinya di dunia dan di akhirat.

Demikianlah multi keberkahan yang diberikan Allah swt kepada manusia di dunia ini untuk kebahagiaan dan kemakmuran manusia itu sendiri baik secara ekonomi maupun fahala dan ganjaran atau balasan yang berlipat ganda baik secara duniawi maupun ukhrawi.

* Dosen UIN Jakarta, Wakil ketua LP Maarif NU
Sumber:www.nu.or.id