"Migunani Marang liyan,Ora Gawe Kapitunaning Liyan,Marsudi Luhur Ing jiwo"

Selasa, 24 Februari 2015

Kisah Nabi Sembuhkan Kebutaan Lewat Mimpi

Dirinya sungguh tak menyangka bakal sembuh dengan cara istimewa. Semula orang laki-laki ini sehari-hari diliputi gelap karena kondisi matanya yang sama sekali tak dapat melihat. Dalam kebutaan tersebut, hanya satu dalam dirinya yang menyala sangat terang: semangat untuk sembahyang berjamaah.

Kitab Kifayatul Atqiya’ wa Minhajul Ashfiya’mengisahkan, laki-laki buta itu biasa berjalan menuju masjid tanpa dipandu tongkat selayaknya penyandang tunanetra pada umumnya. Jatuh cintanya yang amat pada shalat jamaah telah meruntuhkan rasa khawatir akan celaka akibat sikap pasrahnya itu.

Namun musibah tak bisa ditolak. Suatu hari laki-laki tersebut terjatuh di jalan hingga kepalanya terluka. Perjalanan menuju masjid gagal. Ia harus dibawa kembali ke rumah untuk istirahat.

Sudah jatuh tertimpa tangga. Di rumah, laki-laki buta yang kini batok kepalanya terluka itu malah mendapatkan “semprot” dari istrinya.

“Beginilah akibatnya. Padahal, shalat jamaah itu tidak wajib!” sergah istrinya.

Selasa, 25 November 2014

Mungkin  saja Anda katakan: Bahwa ilmu-ilmu di balik ini semua begitu banyak, seperti ilmu kedokteran, astronomi dan kosmologi, anatomi hewan, sihir, ilmu-ilmu rajah dan lain sebagainya.
Namun, sebenarnya apa yang telah kami isyaratkan dalam disiplin kitab ini merupakan isyarat menuju (yang mengantar) pada ilmu diniyah (keagamaan), dimana hakikat eksistensinya harus maujud di jagad raya, sehingga kita mudah mencapai jalan menuju Allah Swt. sekaLigus memudahkan untuk pergi kepada-Nya. Sementara ilmu-ilmu tadi hanyalah merupakan sejumlah ilmu belaka, namun mengetahuinya tidaklah membawa kemaslahatan bagi hidup dan hari akhir. Karena itu, kami tidak menyebutkannya, di balik ilmu-ilmu yang saya sebutkan sebagai ilmu-ilmu lain yang diketahui interpretasinya dan banyak pula yang mengenalnya. Di sini tidak perlu kita sebutkan.
Bahkan saya katakan: Tampak di mata hati kami secara jelas, bahwa secara potensial ada sejumlah ilmu yang tidak tampak dalam wujud, walaupun secara potensial manusia mampu mencapainya. Dan sejumlah ilmu yang tampak dalam wujud sampai saat ini, tetapi pada abad ini seluruh manusia di muka bumi tidak mengenalnya. Ada juga sejumlah ilmu yang berada di luar jangkauan potensi pemikiran dan analisa manusia, yang hanya bisa dicapai oleh para malaikat muqarrabun. Kemampuan potensi anak cucu Adam memang terbatas. Sementara kemungkinan hak naluriah juga terbatas, sampai pada taraf kesempurnaan secara idhafi (berkesinambungan). Sebagaimana dalam hak binatang yang terbatas pada batas kekurangan.
Sedangkan Allah Swt. merupakan Dzat yang tidak bisa dibatasi oleh struktur ilmu dalam hak-Nya. Sementara ilmu kita berbeda dengan ilmu Allah yang haq. dalam dua hal: Di satu pihak, tidak adanya pangkal ilmu terscbut, dan di lain pihak, bahwa ilmu-ilmu tersebut tidak berada dalam hak potensi dan kemungkinan yang bisa dianalisa eksistensi wujudnya. Bahkan, Dia eksistensi dengan wujud dan hadir. Segala yang mungkin dalam hak-Nya dengan seluruh keparipurnaan-Nya, berarti Hadir dan Maujud.

Selasa, 14 Oktober 2014

Inilah Perbedaan Pelayanan Haji Indonesia dan Malaysia
Makkah,  NU Online
Kepala Kantor Urusan Haji Indonesia Daerah Kerja Makkah Endang Jumali menerima tim penyelenggara haji Malaysia yang dipimpin oleh Datuk Sayid untuk berbagi pengalaman penyelenggaraan haji kedua negara agar ke depan lebih baik lagi.


"Ada beberapa kesamaan dan ada beberapa perbedaan penyelenggaraan haji kedua negara , "kata Endang Jumali di Makkah, Senin, tentang pertemuan yang berlangsung dua hari lalu. Kesamaan tersebut antara lain adalah yang pertama mendaftar adalah yang pertama dilayani untuk segera berangkat haji.

Kamis, 11 September 2014


Mau Sampai Kapan Kita Jauh dari Allah?
dakwatuna.com - Tuhanmu berfirman, “Wahai anak Adam! Sempatkanlah beribadah kepada-Ku, niscaya Aku akan penuhi hatimu dengan rasa cukup dan Aku akan memenuhi tanganmu dengan rezeki. Wahai anak Adam! Janganlah menjauh dari-Ku. Jika demikian, Aku akan memenuhi hatimu dengan kefakiran dan Aku akan memenuhi tangan-Mu dengan kesibukan.” (HR. Hakim, dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahihut Targhib wat Tarhib)
Masih banyak di sekitar kita menemui orang-orang yang jauh dari Allah, hidup mereka dipenuhi dengan hal-hal tidak bermanfaat bahkan membuat hati semakin keras dan tidak bercahaya. Seperti yang ditemui di jalan raya menuju kampus.. Saya melihat segerombolan Bapak-Bapak yang berusia 40-60 Tahun dengan asyik menikmati domino, asyik menyabung ayam. Seharusnya usia menedekati detik-detik kehidupan dihabiskan dengan kebaikan. Tidak hanya itu, pernah pula menemui para wanita-wanita yang begitu seksi menjual kecantikan dengan berbagai dalil terkadang kecantikan dipergunakan sebagai modal untuk mengait mata laki-laki bermata keranjang atau atas nama kebebasan…#miris dan jauhkan kami dari hal-hal yang tidak Engkau cintai Rabbi.
Mungkin pertemuan dengan para Bapak-bapak dan cewek-cewek cantik adalah cara Allah mengiring kait untuk berpikir, berkontemplasi serta mengambil hikmah. Senada dengan ungkapan Ibnu Qayyim bahwa berbahagialah manusia yang dianugerahi Agama, pikiran dan akhlak yang selalu bertautan dengan Rabbi.

Senin, 21 Juli 2014

Jaminan Bagi Orang Bertaqwa
Tujuan utama berpuasa adalah untuk mencapai kualitas 'takwa'. Apakah enaknya menjadi orang bertakwa, sehingga kita mesti mencapai tingkatan itu? Telah kita bahas di depan bahwa kualitas takwa adalah kondisi dimana seseorang mampu mengontrol pikiran, ucapan dan tingkah lakunya menjadi penuh manfaat alias produktifitas tinggi.

Ya, orang bertakwa adalah orang yang memiliki produktiftas tinggi. Bukan orang yang bermalas malasan. Bukan orang yang suka ngobrol ngalor ngidul tidak ada gunanya. Apalagi, orang yang malah menimbulkan problem dalam kehidupannya. Baik pada dirinya sendiri, buat keluarganya, maupun orang-orang di sekitamya.

Inti takwa adalah mengendalikan perbuatan pikiran, ucapan, tingkah laku menuju pada manfaat. Semakin banyak manfaatnya, semakin bertakwalah dia. Semakin rendah manfaatnya, maka semakin rendah pula tingkat ketakwaaannya.

Dari sini kita bisa memahami, bahwa orang telah mencapai tingkatan bertakwa pasti bakal memberikan manfaat yang besar buat siapa saja. Inilah tingkatan yang bakal mengarah kepada fungsi rahmatan lil'alamin (bermanfaat / memberi rahmat bagi seluruh alam sekitarnya).

Sabtu, 12 Juli 2014

30 Fadhilah Shalat Tarawih

Menyambung pembahasan mengenai tarawih yang sering disepelakan karena hukumnya yang sunnah, sungguh hal itu sangat-sangat keliru. Karena dalam kitab Durratun Nasihin disebutkan berbagai fadhilahnya sebagaimana yang diceritakan oleh baginda Ali karramallhu wajhah dalam sebuah hadits.
Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib ra. bahwasannya Rasulullah saw pernah ditanya seseorang mengenai fadhilah shalat tarawih di bulan Ramadhan, maka beliau berkata “(fadhilah tarawih) di malam;
1 : membebaskan seorang mu’min dari dosanya seperti ketika ia baru dilahirkan ibunya.
2 : diampunkan dosa kedua ibu-bapaknya, jika kedunya beriman.
3 : berseru malaikat dari bawah ‘arasy “mulailah beramal, Allah telah menghapus dosa-dosa yang terhadulu”.
4 : baginya pahala seperti membaca semua kitab Allah (taurat, injil, zabur dan alqur’an)
5 : Allah berikan padanya pahala shalat di Masjidil Haram, Masjid Madinah dan Masjidil aqsha.
6 : Allah berikan padanya pahala orang yang thawaf di baitul ma’mur seraya memohonkan ampun untuknya segala batu dan lumpur.

Sabtu, 24 Mei 2014

Kiai Manshur Popongan, Mursyid Tarekat Naqsyabandiyah

KH Muhammad Manshur, adalah pendiri Pondok Pesantren Popongan, Dusun Popongan, Desa Tegalgondo, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Klaten. Kiai Manshur adalah putera Syaikh Muhammad Abdul Hadi Giri Kusumo, seorang mursyid Tarekat Naqsyabandiyah-Khalidiyah di Giri Kusumo Mranggen Demak.
Berdasarkan cerita yang berkembang. pada prosesi pemakaman Mbah Hadi, terjadi sebuah fenomena khariqul “addah (aneh, luar biasa), yakni ada batu besar yang berada dekat calon makam Mbah Hadi. Seluruh pelayat tidak mampu menyingkirkan batu tersebut. Setelah Mbah Kiai Manshur datang, maka batu tersebut diangkatnya sendiri.
Mbah Manshur belajar agama kepada orang tuanya sendiri, yaitu Syaikh Muhammad Hadi Girikusumo. Ketika remaja, ia belajar Islam dan nyantri di Pondok Pesantren Jamsaren Surakarta yang diasuh oleh Kiai Idris, sebuah pesantren tua yang pendiriannya dipelopori oleh Kraton Kasunanan Surakarta. Manshur muda kemudian mendirikan pesantren di Dusun Popongan Klaten, 20 KM dari Jamsaren Surakarta.
Kedatangan Mbah Manshur di Popongan bukan sebuah kebetulan. Sebelum ke Popongan, Klaten, Mbah Manshur sengaja dikirim oleh Mbah Hadi untuk belajar di Jamsaren, dan dalam perkembangannya menemukan Popongan sebagai tempat dakwah, pendidikan, dan pengembangan Islam, khususnya