"Migunani Marang liyan,Ora Gawe Kapitunaning Liyan,Marsudi Luhur Ing jiwo"

Kamis, 02 September 2010


Dakwah vs Menakut-nakuti
Oleh : Dr. KH. A. Mustofa Bisri
Seorang kawan budayawan dari satu daerah di Jawa Tengah yang biasanya hanya SMS-an dengan saya, tiba-tiba siang itu menelpon. Dengan nada khawatir, dia melaporkan kondisi kemasyarakatan dan keagamaan di kampungnya.
Keluhnya antara lain,“Kalau ada kekerasan di Jakarta oleh kelompok warga yang mengaku muslim terhadap saudara-saudaranya sebangsa yang mereka anggap kurang menghargai Islam, mungkin itu politis masalahnya. Tapi ini di kampung, Gus, sudah ada kelompok yang sikapnya seperti paling Islam sendiri. Mereka dengan semangat jihad, memaksakan pahamnya ke masyarakat. Sasarannya jamaah-jamaah di masjid dan surau. Rakyat pada takut. Bahkan, na’udzu billah, Gus, saking takutnya ada yang sampai keluar dari Islam. Ini bagaimana? Harus ada yang mengawani masyarakat, Gus. NU dan Muhammadiyah kok diam saja ya?”

Kondisi yang dilaporkan kawan saya itu bukanlah satu-satunya laporan yang saya terima. Ya, akhir-akhir ini sikap perilaku keberagamaan yang keras model zaman Jahiliyah semakin merebak. Hujjah-nya, tidak tanggung-tanggung seperti membela Islam, menegakkan syariat, amar makruf nahi munkar, memurnikan agama, dsb. Cirinya yang menonjol : sikap merasa benar sendiri dan karenanya bila bicara suka menghina dan melecehkan mereka yang tidak sepaham. Suka memaksa dan bertindak keras dan kasar kepada golongan lain yang mereka anggap sesat. Seandainya kita tidak melihat mereka berpakaian Arab dan sering meneriakkan “Allahu Akbar!”, kita sulit mengatakan mereka itu orang-orang Islam. Apalagi bila kita sudah mengenal pemimpin tertinggi dan panutan kaum muslimin, Nabi Muhmmad SAW.

Seperti kita ketahui, Nabi kita yang diutus Allah menyampaikan firman-Nya kepada hamba-hamba-Nya, adalah contoh manusia paling manusia. Manusia yang mengerti manusia dan memanusiakan manusia. Rasulullah SAW seperti bisa dengan mudah kita kenal melalui sirah dan sejarah kehidupannya, adalah pribadi yang sangat lembut, ramah dan menarik. Diam dan bicaranya menyejukkan dan menyenangkan. Beliau tidak pernah bertindak atau berbicara kasar.

روى البخاري عن أنس رضي الله عنه قال: لم يكن رسول الله صلى الله عليه وسلم سبابا ولا لماما ولا فاحشا
Sahabat Anas r.a yang lama melayani Rasulullah SAW, seperti diriwayatkan imam Bukhari, menuturkan bahwa Rasulullah SAW bukanlah pencaci, bukan orang yang suka mencela, dan bukan orang yang kasar.

وروى الترمذي عن أبي هريرة رضي الله تعالى عنه قال: لم يكن رسول الله صلى الله عليه وسلم فاحشا ولا متفاحشا ولا صخابا في الأسواق
Sementara menurut riwayat Imam Turmudzi, dari sahabat Abu Hurairah r.a: Rasulullah SAW pribadinya tidak kasar, tidak keji, dan tidak suka berteriak-teriak di pasar.

Ini sesuai dengan firman Allah sendiri kepada Rasulullah SAW di Q. 3: 159, “Fabima rahmatin minallaahi linta lahum walau kunta fazhzhan ghaliizhalqalbi lanfadhdhuu min haulika …” , Maka disebabkan rahmat dari Alllah, kamu lemah lembut kepada mereka. Seandainya kamu berperangai keras berhati kasar, niscaya mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu…”

Jadi, kita tidak bisa mengerti bila ada umat Nabi Muhammad SAW, berlaku kasar, keras dan kejam. Ataukah mereka tidak mengenal pemimpin agung mereka yang begitu berbudi, lemah- lembut dan menyenangkan; atau mereka mempunyai panutan lain dengan doktrin lain.

Atau mungkin sikap mereka yang demikian itu merupakan reaksi belaka dari kezaliman Amerika dan Yahudi/Israel. Kalau memang ya, bukankah kitab suci kita al-Quran sudah mewanti-wanti, berpesan dengan sangat agar kita tidak terseret oleh kebencian kita kepada suatu kaum untuk berlaku tidak adil. “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kalian penegak-penegak kebenaran karena Allah (bukan karena yang lain-lain!), menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencian kalian terhadap suatu kaum mendorong kalian untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah; adil itu lebih dekat kepada takwa dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (Baca Q. 5: 9).

Hampir semua orang Islam mengetahui bahwa Rasulullah SAW diutus utamanya untuk menyempurnakan budi pekerti. Karena itu, Rasulullah SAW sendiri budi pekertinya sangat luhur (Q. 68: 4). Mencontohkan dan mengajarkan keluhuran budi. Sehingga semua orang tertarik . Ini sekaligus merupakan pelaksanaan perintah Allah untuk berdakwah. Berdakwah adalah menarik orang bukan membuat orang lari. (Baca lagi Q. 3: 159!). Bagaimana orang tertarik dengan agama yang dai-dainya sangar dan bertindak kasar tidak berbudi?

Melihat perilaku mereka yang bicara kasar dan tengik, bertindak brutal sewenang-wenang sambil membawa-bawa simbol-simbol Islam, saya kadang-kadang curiga, jangan-jangan mereka ini antek-antek Yahudi yang ditugasi mencemarkan agama Islam dengan berkedok Islam. Kalau tidak, bagaimana ada orang Islam, apalagi sudah dipanggil ustadz, begitu bodoh: tidak bisa membedakan antara dakwah yang mengajak orang dengan menakut-nakuti yang membuat orang lari. Bagaimana mengajak orang mengikuti Rasulullah SAW dengan sikap dan kelakuan yang berlawanan dengan sikap dan perilaku Rasulullah SAW?
Sumber:www.Gus Mus .Net

Rabu, 01 September 2010


Keutamaan membaca AL Qur’an
Abu Fauzan 28 Agustus jam 11:04


Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat serta menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Menyukuri.” (QS. Fathir: 29-30)

Ada dua cara seseorang di dalam membaca kitab Allah. Pertama, tilawah hukmiyyah, yaitu membenarkan segala berita yang ada di dalamnya dan menerapkan hukum-hukumnya dengan cara melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Kedua, tilawah lafhzhiyyah atau qira’atul Qur’an, banyak sekali nash-nash yang menyebut keutamaannya. Dalam Shahih Bukhari, disebutkan riwayat dari Utsman bin Affan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.”

Dalam Shahihain, disebutkan pula hadits dari Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Orang yang mahir membaca Al-Qur’an kelak (mendapat tempat disurga) bersama para utusan yang mulia lagi baik. Sedangkan orang yang membaca Al-Qur’an dan masih terbata-bata, dan merasa berat dan susah, maka dia mendapatkan dua pahala.”

Dua pahala ini, salah satunya merupakan balasan dari membaca Al-Qur’an itu sendiri, sedangkan yang kedua adalah atas kesusahan dan keberatan yang dirasakan oleh pembacanya.

Dalam Shahih Muslim disebutkan riwayat dari Abu Umamah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Bacalah Al-Qur’an, karena pada hari Kiamat nanti dia akan datang sebagai pemberi syafa’at kepada orang yang membacanya.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Siapa yang membaca satu huruf dari kitab Allah, maka ia mendapatkan satu kebaikan, sedangkan kebaikan itu dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat. Saya tidak mengatakan alif laam miim itu satu huruf, akan tetapi alif satu huruf, laam satu huruf, dan miim satu huruf.” (HR. At-Tirmidzi)

Keutamaan-keutamaan ini meliputi seluruh kandungan isi Al-Qur’an. Banyak hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang menyebutkan keutamaan surat-surat tertentu, misalnya surat Al-Fatihah. Dalam Shahih Bukhari diriwayatkan dari Abu Sa’id bin Mu’alla bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berkata kepadanya, “Aku akan mengajarkanmu surat yang paling agung di dalam Al-Qur’an, yaitu Alhamdulillaahi Rabbi l-‘alamiin (Al-Fatihah). Ini adalah tujuh ayat yang diulang-ulang dan Al-Qur’an agung yang diberikan kepadaku.”

Oleh karena keutamaannya itu, maka membacanya menjadi bagian dari rukun shalat. Shalat tidak akan menjadi sah tanpa membaca Al-Fatihah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidak sah shalat bagi siapa yang tidak membaca Al-Fatihah.” (Muttafaq ‘alaih)

Surat dalam Al-Qur’an lainnya yang memiliki keutamaan tersendiri adalah surat Al-Baqarah dan Ali Imran. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Bacalah surat Az-Zahrowain, yaitu Al-Baqarah dan Ali Imran. Karena sesungguhnya keduanya akan datang pada hari Kiamat seperti dua buah awan atau seperti dua kawanan burung yang sedang terbang berbaris membela orang-orang yang biasa membacanya. Bacalah surat Al-Baqarah karena membacanya membawa berkah sedangkan meninggalkannya akan menyebabkan penyesalan. Surat ini tidak akan bisa dibaca oleh para tukang sihir.” (HR. Muslim)

Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya rumah yang di dalamnya dibacakan surat Al-Baqarah, tidak akan bisa dimasuki setan.” (HR. Muslim)

Surat lainnya yang mempunyai keutamaan khusus adalah surat Al-Ikhlas. Dalam Shahih Bukhari disebutkan riwayat dari Abu Said Al-Khudri bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Demi Dzat yang menguasai jiwaku, sesungguhnya ia sebanding dengan sepertiga Al-Qur’an.”

Selain itu, surat yang memiliki keutamaan tersendiri adalah surat Al-Falaq dan An-Nas, atau biasa disebut mu’awwidzatain. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tahukah kamu beberapa ayat yang diturunkan pada hari ini yang belum pernah sebanding dengannya? Yaitu Qul ‘a’udzibi Rabbi l-falaq, dan Qul ‘a’udzubi Rabbi n-nas.” (HR. Muslim)

Oleh karena itu, sudah sepatutnya bagi kita untuk bersungguh-sungguh memperbanyak bacaan Al-Qur’an yang penuh berkah, apalagi di bulan Ramadhan. Para Salafush Shalih dahulu selalu memperbanyak bacaan Al-Qur’an di bulan Ramadhan. Imam Malik, jika Ramadhan tiba, maka beliau berhenti dari membaca hadits dan majelis-majelis ilmu (berhenti mengajar) untuk kemudian berganti membaca Al-Qur’an. Imam Qatadah selalu meng-khatam-kan bacaan Al-Qur’an setiap tujuh hari sekali, sedangkan pada bulan Ramadhan meng-khatam-kannya setiap tiga hari sekali, dan pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan meng-khatam-kannya setiap hari.

Wallahu alam
Sumber: FB Group Imam Bukhori

Senin, 30 Agustus 2010


Bahasa Geram

Oleh: KH. Dr. A. Mustofa Bisri, 18 Juni 2010 14:00:10

Bangsa ini sedang terserang virus apa sebenarnya? Apakah hanya karena panas global? Di rumah, di jalanan, di lapangan bola, di gedung dapur, bahkan di tempat-tempat ibadah, kita menyaksikan saja orang yang marah-marah. Tidak hanya laku dan tindakan, ujaran dan kata-kata pun seolah-olah dipilih yang kasar dan menusuk. Seolah-olah di negeri ini tidak lagi ada ruang untuk kesantunan pergaulan. Pers pun –apalagi teve--tampaknya suka dengan berita dan tayangan-tayangan kemarahan.
Lihatlah “bahasa” orang-orang terhormat di forum-forum terhormat itu dan banding-sandingkan dengan tingkah laku umumnya para demonstran di jalanan. Seolah-olah ada “kejumbuhani” pemahaman antara para “pembawa aspirasi” gedongan dan “pembawa aspirasi” jalanan tentang “demokrasi”. Demokrasi yang–setelah euforia reformasi--dipahami sebagai sesuatu tatanan yang mesti bermuatan kekasaran dan kemarahan.

Yang lebih musykil lagi “bahasa kemarahan” ini juga sudah seperti tren pula di kalangan intelektual dan agamawan. Khotbah-khotbah keagamaan, ceramah-ceramah dan makalah-makalah ilmiah dirasa kurang afdol bila tidak disertai dengan dan disarati oleh nada geram dan murka. Seolah-olah tanpa gelegak kemarahan dan tusuk sana tusuk sini bukanlah khotbah dan makalah sejati.

Khususnya di ibu kota dan kota-kota besar lainnya, di hari Jumat, misalnya, Anda akan sangat mudah menyaksikan dan mendengarkan khotbah “ustadz” yang dengan kebencian luar biasa menghujat pihak-pihak tertentu yang tidak sealiran atau sepaham dengannya. Nuansa nafsu atau keangkuhan “Orang Pintar Baru” (OPB) lebih kental terasa dari pada semangat dan ruh nasihat keagamaan dan ishlah.

Kegenitan para ustadz OPB yang umumnya dari perkotaan itu seiiring dengan munculnya banyak buku, majalah, brosur dan selebaran yang “mengajarkan” kegeraman atas nama amar makruf nahi munkar atau atas nama pemurnian syariat Islam. Penulis-penulisnya–yang agaknya juga OPB—di samping silau dengan paham-paham dari luar, boleh jadi juga akibat terlalu tinggi menghargai diri sendiri dan terlalu kagum dengan “pengetahuan baru”-nya. Lalu menganggap apa yang dikemukakannya merupakan pendapatnya dan pendapatnya adalah kebenaran sejati satu-satunya. Pendapat-pendapat lain yang berbeda pasti salah. Dan yang salah pasti jahanam.

Dari bacaan-bacaan, ceramah-ceramah, khotbah-khotbah dan ujaran-ujaran lain yang bernada geram dan menghujat sana-sani tersebut pada gilirannya menjalar-tularkan bahasa tengik itu kemana-mana; termasuk ke media komunikasi internet dan handphone. Lihatlah dan bacalah apa yang ditulis orang di ruang-ruang yang khusus disediakan untuk mengomentari suatu berita atau pendapat di “dunia maya” atau sms-sms yang ditulis oleh anonim itu.

Kita boleh beranalisis bahwa fenomena yang bertentangan dengan slogan “Bangsa Indonesia adalah bangsa yang ramah” tersebut akibat dari berbagai faktor, terutama karena faktor tekanan ekonomi, ketimpangan sosial dan ketertinggalan. Namun, mengingat bahwa mayoritas bangsa ini beragama Islam pengikut Nabi Muhammad SAW, fenomena tersebut tetap saja musykil. Apalagi jika para elit agama yang mengajarkan budi pekerti luhur itu justru ikut menjadi pelopor tren tengik tersebut.

Bagi umat Islam, al-khairu kulluhu fittibaa’ir Rasul SAW, yang terbaik dan paling baik adalah mengikuti jejak dan perilaku panutan agung, Nabi Muhammad SAW. Dan ini merupakan perintah Allah. Semua orang Islam, terutama para pemimpinnya, pastilah tahu semata pribadi, jejak-langkah dan perilaku Nabi mereka.

Nabi Muhammad SAW sebagaimana diperikan sendiri oleh Allah dalam al-Quran, memiliki keluhuran budi yang luar biasa, pekerti yang agung (Q. 68:4). Beliau lemah lembut, tidak kasar dan kaku (Q. 3: 159). Bacalah kesaksian para shahabat dan orang-orang dekat yang mengalami sendiri bergaul dengan Rasulullah SAW. Rata-rata mereka sepakat bahwa Panutan Agung kita itu benar-benar teladan. Pribadi paling mulia; tidak bengis, tidak kaku, tidak kasar, tidak suka mengumpat dan mencaci, tidak menegur dengan cara yang menyakitkan hati, tidak membalas keburukan dengan keburukan, tapi memilih memaafkan. Beliau sendiri menyatakan, seperti ditirukan oleh shahabat Jabir r.a,“InnaLlaaha ta’aala lam yab’atsnii muta’annitan...”, Sesungguhnya Allah tidak mengutusku sebagai utusan yang keras dan kaku, tapi sebagai utusan yang memberi pelajaran dan memudahkan.

Bagi Nabi Muhammad SAW pun, orang yang dinilainya paling mulia bukanlah orang yang paling pandai atau paling fasih bicara (apalagi orang pandai yang terlalu bangga dengan kepandaiannya sehingga merendahkan orang atau orang fasih yang menggunakan kefasihannya untuk melecehkan orang). Bagi Rasulullah SAW orang yang paling mulia ialah orang yang paling mulia akhlaknya. Wallahu a’lam.
Sumber :www.GusMus .NET

Minggu, 29 Agustus 2010


Siapa Yang Tidak Memerlukan Pembimbing (Mursyid)?
Posted on Agustus 27, 2010 by SufiMuda


Dalam Futhuh al Ghaib, Syekh Abdul Qadir al Jailani menulis syair berikut :
Jika takdir membantumu atau kala menuntunmu
kepada Syekh yang jujur dan ahli hakikat
maka bergurulah dengan rela dan ikutilah kehendaknya
Tinggalkan apa yang sebelumnya engkau lakukan
Sebab menentang berarti melawan
Dalam kisah Khidir yang mulia terdapat cakupan
Dengan membunuh seorang anak dan Musa mendebatnya
Tatkala cahaya subuh telah menyingkap kegelapan malam
Dan seseorang dapat menghunus pedangnya
Maka Musa pun meminta maaf
Demikian keindahan di dalam ilmu kaum sufi
Sebagian kita mungkin sudah sering mendengar tuduhan yang dilontarkan oleh orang-orang yang mengaku paling “islami” bahwa tasawuf adalah ilmu diluar islam, pembuat bid’ah, syirik dan lain sebagainya dan karena yang menyampaikan pendapat ini orang berlatar belakang pendidikan agama yang lumayan (baca: syariat), alumni arab Saudi atau mesir dengan sekian banyak title sehingga masyarakat awam dengan mudah langsung percaya. Sebagian mereka tidak tahu bahwa Arab Saudi bukan lagi menjadi tempat berkumpulkan berbagai macam mazhab akan tetapi telah menjadi corong bagi mazhab tunggal yang baru muncul di abad ke 17 yaitu mazhab wahabi.
Saya tidak membahas tentang tuduhan-tuduhan tersebut dan saya rasa itu tidak ada menfaatnya sama sekali. Kesempatan ini saya ingin menyampaikan informasi akan pentingnya belajar tasawuf/thariqat agar kita bisa merasakan nikmatnya beragama.
Belajar tasawuf ada dua jenis, yaitu secara Teori dan Praktek. Secara teori telah diajarkan di pasantren, IAIN bahkan anda bisa menjadi seorang profesor tasawuf tanpa anda harus mempraktekkan zikir dan dibimbing oleh mursyid. Namanya juga teori tentu yang didapatkan hanya teori saja.
Belajar tasawuf sebenarnya harus mempunyai pembimbing rohani, bukan saja mengajarkan anda tapi juga membimbing anda agar sampai kehadirat-Nya karena inti tasawuf adalah bagaimana seorang bisa berhampiran dengan Allah SWT. Tentang hal ini Abu Ali ats Tsaqafi berkata, “Seandainya seseorang mempelajari semua jenis ilmu dan berguru kepada banyak ulama, maka dia tidak sampai ke tingkat para sufi kecuali dengan melakukan latihan-latihan spiritual bersama seorang Syeikh yang memiliki akhlak yang luhur dan dapat memberinya nasehat-nasehat. Dan barang siapa yang tidak mengambil akhlaknya dari seorang Syeikh yang memerintah dan melarangnya, serta memperlihatkan cacat-cacat dalam amalnya dan penyakit-penyakit dalam jiwanya, maka dia tidak boleh diikuti dalam memperbaiki muamalah”.
Jadi tasawuf adalah ilmu praktek dan tentu saja membutuhkan pembimbing yang ahli dibidangnya, tanpa adanya pembimbing rohani maka segala praktek yang dilakukan sudah pasti akan disesatkan setan. Abu Yazid Al-Bisthami berkata, “Barang siapa yang menuntut ilmu tanpa berguru, maka wajib syetan gurunya.”
Apabila jalan kaum sufi dapat dicapai dengan pemahaman tanpa bimbingan seorang Syekh, niscaya orang seperti Imam Al-Ghazali dan Syekh Izzuddin ibn Abdussalam tidak perlu berguru kepada seorang Syekh. Sebelum memasuki dunia tasawuf, keduanya pernah berkata, “Setiap orang yang mengatakan bahwa adalah jalan memperoleh ilmu selain apa yang ada pada kami, maka dia telah berbuat kebohongan kepada Allah.”. Zaman sekarang kita juga sering mendengar pendapat seperti itu, tidak mengakui ilmu selain yang mereka pelajari (syariat) dan menganggap orang-orang yang mempunyai kemampuan bathin, ilmu laduni dan lain sebagainya sebagai pembohong.
Akan tetapi, setelah Imam Al-Ghazali dan Syekh Izzuddin ibn Abdussalam yang tadinya hanya belajar syariat kemudian memasuki dunia tasawuf keduanya berkata, “Sungguh kami telah menyia-nyiakan umur kami dalam kesia-siaan dan hijab (tabir penghalang antara hamba dan Tuhan).”
Orang yang bisa menemukan kebenaran bukanlah orang yang banyak membaca buku karena terkadang semakin banyak yang dipelajari justru tanpa sadar menjadi Hijab antara kita dengan Allah. Hanya kerendahan hati dan sikap mau belajar dan mencari yang menyebabkan seseorang menemukan Allah SWT, sebagai mana ucapan rendah hati Musa kepada Khidir, “Bolehkah aku mengikutimu, agar engkau mengajarkan kepadaku ilmu yang benar diantara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?” (QS. Al Kahfi, 66). Juga pengakuan Ahmad ibn Hanbal bahwa Abu Hamzah al Baghdadi lebih utama darinya dan pengakuan Ahmad ibn Suraij bahwa Abu Qasim Junaid lebih utama darinya.
Imam al-Ghazali juag mencari seorang Syekh yang menunjukkannya ke jalan tasawuf, padahal ia adalah Hujjatul Islam. Begitu juga, Syekh Izzuddin ibn Abdussalam berkata, “Aku tidak mengetahui Islam sempurna kecuali setelah aku bergabung dengan Syekh Abu Hasan Asy Syadzili”. Abdul Wahab Asy Sya’rani berkata, “Apabila kedua ulama besar ini, yakni al-Ghazali dan Syekh Izzuddin ibn Abdussalam, padahal keduanya adalah orang yang memiliki ilmu pengetahuan luas tentang syariat, maka orang selain mereka lebih membutuhkan lagi.”
Dalam hal ini al Qur’an memberikan petunjuk kepada kita semua untuk mencari orang-orang yang telah di beri petunjuk oleh Allah SWT sebagaimana firman Allah: “Sebenarnya al Qur’an itu adalah ayat-ayat nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu” (QS. Al ankabut : 49). “Dan ikutilah jalan orang yang telah kembali kepada-Ku” (QS. Lukman: 15) dan firman-Nya, “Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah kalian bersama orang-orang yang benar”. (QS. Taubah: 119). Diperkuat oleh hadist, “Jadilah kamu bersama Allah, apabila tidak bersama Allah jadilah kalian bersama orang yang sudah bersama Allah, maka sesungguhnya orang itu bisa membawamu kepada Allah” (HR. Abu Daud).
Dengan demikian, memiliki seorang pembimbing (mursyid) adalah suatu keharusan. Para sahabat sendiri mengambil ilmu dan amalan mereka dari Rasulullah SAW. Rasulullah SAW mengambil ilmu dan amalannya dari Jibril. Dan para tabi’in mengambil ilmu dan amalan dari para sahabat.
Setiap sahabat mempunyai para pengikut yang khusus. Ibnu Sirin, Ibnu Musayyab dan al A’raj, misalnya, adalah pengikut Abu Hurairah. Sementara Thawus, Wahhab dan Mujahid, adalah pengikut Ibnu Abas. Demikian seterusnya. Pengambilan ilmu dan amalan ini sangat jelas, sebagaimana disebutkan dalam riwayat-riwayat mereka.
Maka tidak ada alasan bagi kita untuk tidak segera mencari Guru Pembimbing yang siap menuntun dan membimbing kita mencapai kebenaran hakiki. Carilah Guru yang benar-benar kamil mukamil, khalis mukhlisin sehingga dia bukan hanya berbicara tentang teori ketuhanan akan tetapi dengan keikhlasannya mampu membimbing anda kehadirat Allah SWT. Kalau anda bertanya siapakah Guru Mursyid yang kamil mukamil tersebut, saya tidak bisa menjawab karena kawatir jawaban saya akan menyinggung perasaan yang lain. Bagi setiap pengamal tasawuf mereka meyakini Guru mereka memiliki kemampuan untuk membimbing mereka dan tidak terkecuali Guru saya.
Abu Athailah As Sakandari dalam Latha’if al Minan, berkata, “Engkau tidak akan kekurangan mursyid yang dapat menunjukkanmu ke jalan Allah. Tapi yang sulit bagimu adalah mewujudkan kesungguhan dalam mencari mereka”.
Seorang penyair sufi berkata :
Rahasia Allah didapat dengan pencarian yang benar
Betapa banyak hal menakjubkan yang telah diperlihatkan kepada para pelakunya.
Ali al Khawas berkata dalam syairnya,
Jangan menempuh jalan yang tidak engkau kenal tanpa penunjuk jalan,
Sehingga engkau terjerumus dalam jurang-jurangnya.
Penunjuk jalan (Mursyid) akan dapat mengantarkan salik sampai ke pantai yang aman dan menjauhkan dari gangguan-gangguan selama di perjalanan. Sebab, penunjuk jalan (mursyid) sebelumnya telah melewati jalan itu dibawah bimbingan seseorang (mursyid sebelumnya) yang telah mengetahui seluk beluk jalan tersebut, mengetahui tempat-tempat berbahaya dan tempat-tempat yang aman dan terus menemaninya sampai akhirnya dia sampai di tempat yang dituju. Kemudian orang tersebut memberikan izin untuk membimbing orang lain.
Menutup tulisan ini saya mengutip Syair dari Ibnu Al-Banna yang menjelaskan tentang kedudukan kaum sufi yang telah melakukan perjalanan menuju Allah dan setelah sampai disana mememberikan kabar kepada orang lain untuk menuju kesana dengan selamat.
Kaum sufi tidak lain sedang melakukan perjalanan
Ke hadirat Tuhan Yang Maha Benar
Maka mereka membutuhkan penunjuk jalan
Yang benar-benar mengenal seluk beluk jalan itu
Dia telah melalui jalan itu, lalu dia kembali
Untuk mengabarkan apa yang telah didapat.
*****************************************
Sumber: www.sufimuda.wordprees.com

Syeikh Abdul Qadir Al-Jilany .Q.S
Syaikh Sufi Akhir Zaman 22 Juli jam 17:38
Nabi saw, bersabda:
“Apabila Allah swt menghendaki kebaikan pada hambaNya maka sang hamba diberi pemahaman dalam agama, dan ditampakkan cacat-cacat dirinya.” (H.r. Al-Hindy riwayat dari Anas ra.)

Faham dalam agama adalah faktor yang menyebabkan manusia mengenal dirinya. Dan siapa yang mengenal Tuhannya Azza wa-Jalla, maka ia mengenal segalanya. Maka bersama Allahlah ibadah kepadanya menjadi benar, dan terbebaskan dari perbudakan selain Allah azza-waJalla.

Kalian semua tidak akan beruntung dan tidak pula selamat sepanjang anda tidak memprioritaskan Allah Azza wa-Jalla atas lainnya. Anda harus memprioritaskan agamamu dibanding kesenanganmu, memprioritaskan akhiratmu dibanding duniamu. Menomorsatukan Penciptamu dibanding ciptaanNya.
Anda menjadi rusak karena anda mendahulukan syahwat kesenangan anda dibanding Allah Azza wa-Jalla.

Lakukanlah prioritas Allah dibanding yang lain maka Allah bakal mencukupi anda. Sedangkan anda saat ini terhijab dari Allah Azza wa-Jalla, maka tidak ada ijabah bagi anda.
Padahal Ijabah itu akan muncul setelah memohon Ijabah. Allah mengijabahi anda dengan amaliyah anda ketika anda memohon kepadaNya.

Panen itu akan anda raih setelah menanam. Bertanamlah anda akan panen.

Nabi saw. Bersabda:
“Dunia adalah tempat bertanam bagi akhirat.” (Hr. Al-‘Ajluny)

Bertanamlah dengan tanaman dalam hatimu dan badanmu, yaitu iman. Anda berkebun dengan menyiram air pada kebun itu melalui amal yang shaleh. Jika dalam hati anda ada kelembutan, kasih sayang, rahmat pasti akan tumbuh di dalamnya. Manakala di dalamnya ada keras kepala dan keras hati, maka buminya juga gersang tidak akan ditumbuhi apa pun. Sama seperti anda menanam di puncak bukit batu, tidak akan pernah tumbuh di sana.

Nabi saw, bersabda:
“Minta tolonglah kalian atas segala pekerjaan menurut kemampuan terbaik ahlinya.” (Ditakhrij As-Suyuthy dan al-Ajluny)

Kalian sibuk dengan bertanam dunia bukan bertanam akhirat. Bukankah pemburu dunia tak akan bahagia di akhirat? Ia tak akan melihat Allah Azza wa-Jalla. Jika anda ingin akhirat maka tinggalkan duniawimu, jika anda inginkan Allah Azza wa-Jalla maka tinggalkan bagian diri dan unsur kemakhlukanmu, maka anda benar-benar wushul(sampai). Bila benar apa yang anda lakukan justru akhirat, seluruh makhluk, dunia, anda dapatkan semuanya, dengan penuh kepatuhan maupun dengan terpaksa.
Sebab pokoknya sudah bersama anda, sedangkan cabangnya hanya mengikuti. Karena itu berakal sehatlah anda. Namun anda malah tidak berakal sehat, tidak pandai, dengan cara anda bergumul dan bergabung dengan makhluk, lebur dengan mereka. Jika anda tidak taubat, maka justru anda hancur.

Datanglah ke jalan thariqat sufi, anda datangi pintu mereka. Jangan jejali mereka dengan dengan ketiak tubuhmu, dengan kemunafikanmu, sedangkan hatimu tidak. Padahal mereka terpenuhi oleh hati dan rahasia hati, dengan lengan-lengan kepasrahan dan kesabaran terhadap cobaan, kerelaan dan bagian dari Allah Azza wa-Jalla.

Hai anak-anak sekalian, jadikan dirimu di hadapan Allah Azza wa-Jalla ketika derita menerpamu, maka anda tegak di atas pijakan cintaNya, bahkan tidak berubah, tidak sirna oleh penjuru dan angin, badai dan hujan bahkan oleh debu-debu yang menabur, karena anda tetap teguh lahir dan batin, teguh dalam maqom yang disana tak ada lagi makhluk, dunia, akhirat, tak ada hak dan bagian-bagian kepentingan, tak ada derita, tak ada pertanyaan “bagaimana”, bahkan tak ada selain Allah Azza wa-Jalla.
Jangan sampai jiwamu dikotori oleh urusan makhluk, urusan keluarga, dirimu tak berubah karena bagian yang sedikit atau pun banyak, tidak pula berubah karena cacian dan pujian, tidak pula diterima maupun ditolak, dan secara global anda berada dibalik semuanya, manusia, jin, malaikat dan seluruh makhluk, bersama Allah.
Betapa indah apa yang dikatakan oleh seorang Sufi, “Jika anda membenarkan (silakan) jika tidak, jangan ikuti kami.!”

Sabar, ikhlas dan jujur dalam membenarkan merupakan asas, sebagaimana kami jelaskan padamu. Kalian datang padaku, apakah aku membuatmu munafik? Dan ketika aku bicara lembut padamu, dirimu suka dan kagum, lalu anda menyangka ada kepentingan? Tidak! Tak ada kemuliaan dengan cara begitu.
Aku dan api, dan tak ada yang mampu di atas api kecuali Samandil yang bertelur, beranak, dan anaknya berdiri dan duduk di atas api. Jadilah dirimu seperti Samandil di atas api derita dan perjuangan serta kepayahan, bersabar di lorong-lorong ketentuan dan takdir, hingga kalian sabar dalam berguru kepadaku, mendengarkan kalamku, kerasnya ucapan serta mengamalkannya lahir, batin, hakiki dan syar’y. Pertama-tama anda khalwat, lalu keluar, lalu eksistensial. Jika anda sukses, maka anda bahagia dunia akhirat bersama kehendak dan takdir Allah Azza wa-Jalla.

Aku tidak menyertai siapa pun selain hanya untuk Allah Azza wa-Jalla, dan diantara keharusannya adalah aku tidak menoleh pada siapapun dari mereka dalam segala hal tanpa suatu tanda. Bahkan aku sangat takut kepada Allah dalam melaksanakan HakNya terhadap makhlukNya, aku tidak boleh lemah, dan aku kuat dengan diriku, lalu aku berserasi dengan mereka dalam jiwa mereka (demi keselamatan mereka).

Diantara para Sufi – semoga rahmat Allah bagi mereka -- mengatakan, “Berserasilah pada Allah Azza wa-Jalla dalam jiwa mereka, tetapi janganlah berserasi dengan mereka ketika di dalam ibadah kepada Allah.”
Maka runtuhlah mereka yang hancur, dan selamatlah mereka yang selamat. Maka aku peduli, sedangkan anda terus menerus maksiat kepada Allah Azza wa-Jalla, menghina perintah dan laranganNya, kontra padaNya, baik dalam ketentuan maupun takdirNya. Siang dan malam anda dibenci dan dilaknati.
Diantara firmanNya Azza wa-Jalla dalam sebagian kitabNya:
“Jika kamu patuh maka Aku ridlo kepadamu. Jika Aku ridlo, maka kamu mendapatkan barokah kebajikan. Sedangkan barokahKu tak ada batasnya. Namun jika kamu maksiat, Aku marah. Dan ketika Aku marah, kamu terlaknat, hingga laknat-Ku sampai tujuh turunan…”

Zaman ini adalah zaman dimana agama dijual dengan debu yang hina, zaman yang panjang khayalnya dan ambisiusnya. Karena itu seriuslah kalian, jangan sampai tergolong orang yang difirmankan oleh Allah swt :
“Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.” (QS Al-Furqon: 23)

Setiap amal yang diorientasikan selain Allah Azza wa-Jalla maka ia telah menjadi debu yang terbang.
Hati-hati! Apabila masalahmu tersembunyi dari kalangan awam, maka tidak tersembunyi bagi kalangan khusus yang kokoh, mereka menyembunyikan pekerjaannya dari anda, bukannya orang bodoh yang menyembunyikan orang alim, tidak. Karena itu beramallah dan ikhlaslah dalam amalmu. Sibukkan hatimu pada allah Azza wa-Jalla, tinggalkan hal-hal yang mengganggumu yang tidak berarti, karena itu jangan repot dengan hal-hal yang tak berarti bagimu. ( catatan lentera sufi )
Sumber: FB Group Syaikh Sufi Akhir Zaman

Kesaksian Para Ulama Fikh Tentang Ulama Sufi

oleh Vien Vink عائشة pada 25 Agustus 2010


Imam Abu Hanifa (81-150 H./700-767 CE)

Imam Abu Hanifa(r) (85 H.-150 H) berkata, "Jika tidak karena dua tahun, saya telah celaka. Karena dua tahun saya bersama Sayyidina Ja'far as-Sadiq dan mendapatkan ilmu spiritual yang membuat saya lebih mengetahui jalanyang benar". Ad-Durr al-Mukhtar, vol 1. p. 43 bahwa Ibn 'Abideen said,"Abi Ali Dakkak, seorang sufi, dari Abul Qassim an-Nasarabadi, dariash-Shibli, dari Sariyy as-Saqati dari Ma'ruf al-Karkhi, dari Dawadat-Ta'i, yang mendapatkan ilmu lahir dan batin dari Imam Abu Hanifa(r), yang mendukung jalan Sufi." Imam berkata sebelum meninggal: lawlasanatan lahalaka Nu'man, "Jika tidak karena dua tahun, Nu'man (saya)telah celaka." Itulah dua tahun bersama Ja'far as-Sadiq

Imam Malik (94-179 H./716-795 CE)

Imam Malik (r): "man tassawaffa wa lam yatafaqah faqad tazandaqa wa mantafaqaha wa lam yatsawwaf faqad fasadat, wa man tafaqaha wa tassawafafaqad tahaqqaq. (Barangsiapa mempelajari/mengamalkan tasauf tanpa fikhmaka dia telah zindik, dan barang siapa mempelajari fikh tanpa tasauf dia tersesat, dan siapa yang mempelari tasauf dan fikh dia meraih kebenaran." (dalam buku 'Ali al-Adawi dari keterangan ImamAbil-Hassan, ulama fikh, vol. 2, p. 195

Imam Shafi'i (150-205 H./767-820 CE)

Imam Shafi'i: "Saya bersama orang sufi dan aku menerima 3 ilmu:1. mereka mengajariku bagaimana berbicara2. mereka mengajariku bagaimana meperlakukan orang dengan kasih dan hati lembut3. mereka membimbingku ke dalam jalan tasauf[Kashf al-Khafa and Muzid al-Albas, Imam 'Ajluni, vol. 1, p. 341.]

Imam Ahmad bin Hanbal (164-241 H./780-855 CE)

ImamAhmad (r): "Ya walladee 'alayka bi-jallassati ha'ula'i as-Sufiyya. Fainnahum zaadu 'alayna bikathuratil 'ilmi wal murqaba wal khashiyyatawaz-zuhda wa 'uluwal himmat (Anakku jika kamu harus duduk bersamaorang-orang sufi, karena mereka adalah mata air ilmu dan mereka tetap mengingat Allah dalam hati mereka. Mereka orang-orang zuhud dan mereka memiliki kekuatan spiritual yang tertinggi," --Tanwir al-Qulub, p. 405, ShaikhAmin al-Kurdi) Imam Ahmad (r) tentang Sufi:"Aku tidak melihat orang yang lebih baik dari mereka" ( Ghiza al-Albab, vol. 1, p. 120)

Imam al-Muhasibi (d. 243 H./857 CE)

Imamal-Muhasibi meriwayatkan dari Rasul, "Umatku akan terpecah menjadi 73golongan dan hanya satu yang akan menjadi kelompok yang selamat" . Dan Allah yang lebih mengetahui bahwa itu adalah Golongan orang tasauf. Dia menjelaskan dengan mendalam dalam Kitab al-Wasiya p. 27-32.

Imam al-Qushayri (d. 465 H./1072 CE)
Imamal-Qushayri tentang Tasauf: "Allah membuat golongan ini yang terbaik dari wali-wali-Nya dan Dia mengangkat mereka di atas seluruh hamba-hamba-Nya sesudah para Rasul dan Nabi, dan Dia memberi hatimereka rahasia Kehadiran Ilahi-Nya dan Dia memilih mereka diantara umat-Nya yang menerima cahaya-Nya. Mereka adalah sarana kemanusiaan ,Mereka menyucikan diri dari segala hubungan dengan dunia dan Diamengangkat mereka ke kedudukan tertinggi dalam penampakan (kasyf). Dan Dia membuka kepada mereka Kenyataan akan Keesaan-Nya. Dia membuatmereka untuk melihat kehendak-Nya mengendalikan diri mereka. Diamembuat mereka bersinar dalam wujud-Nya dan menampakkan mereka sebagaicahaya dan cahaya-Nya ." [ar-Risalat al-Qushayriyya, p. 2]

Imam Ghazali (450-505 H./1058-1111 CE)

Imam Ghazali, hujjat ul-Islam, tentang tasauf: "Saya tahu dengan benar bahwa para Sufi adalah para pencari jalan Allah, dan bahwa mereka melakukan yang terbaik, dan jalan mereka adalah jalan terbaik, dan akhlak mereka paling suci. Mereka membersihkan hati mereka dari selain Allah dan mereka menjadikan mereka sebagai jalan bagi sungai untuk mengalirnya kehadiranIlahi [al-Munqidh min ad-dalal, p. 131].

Imam Nawawi (620-676 H./1223-1278 CE)

Dalam suratnya al-Maqasid: "Ciri jalan sufi ada 5:1. menjaga kehadiran Allah dalam hati pada waktu ramai dan sendiri2. mengikuti Sunah Rasul dengan perbuatan dan kata3. menghindari ketergantungan kepada orang lain4. bersyukur pada pemberian Allah meski sedikit5. selalu merujuk masalah kepada Allah swt [Maqasid at-Tawhid, p. 20]

Imam Fakhr ad-Din ar-Razi (544-606 H./1149-1209 CE)

ImamFakhr ad-Din ar-Razi: "Jalan para sufi adalah mencari ilmu untukmemutuskan diri mereka dari kehidupan dunia dan menjaga diri mereka agar selalu sibuk dalam pikiran dan hati mereka dengan mengingat Allah,pada seluruh tindakan dan perilaku" ." [Ictiqadat Furaq al-Musliman, p.72, 73]

Ibn Khaldun (733-808 H./1332-1406 CE)

IbnKhaldun: "Jalan sufi adalah jalan salaf, ulama-ulama di antara Sahabat,Tabi'een, and Tabi' at-Tabi'een. Asalnya adalah beribadah kepada Allahdan meninggalkan perhiasan dan kesenangan dunia" [Muqaddimat ibnKhaldan, p. 328]



Tajuddin as-Subki



Mu'eedan-Na'eem, p. 190, dalam tasauf: "Semoga Allah memuji mereka danmemberi salam kepada mereka dan menjadikan kita bersama mereka di dalamsorga. Banyak hal yang telah dikatakan tentang mereka dan terlalubanyak orang-orang bodoh yang mengatakan hal-hal yang tidak berhubungan dengan mereka. Dan yang benar adalah bahwa mereka meninggalkan duniadan menyibukkan diri dengan ibadah" Dia berkata: "Mereka adalah manusia-manusia yang dekat dengan Allah yang doa dan shalatnya diterima Allah, dan melalui mereka Allah membantu manusia.

Jalaluddin as-Suyuti

DalamTa'yad al-haqiqat al-'Aliyya, p. 57: "tasauf dalam diri mereka adalah ilmu yang paling baik dan terpuji. Dia menjelaskan bagaimana mengikuti Sunah Nabi dan meninggalkan bid'ah"

Ibn Taymiyya (661-728 H./1263-1328 CE)

Macam Fatawa Ibn Taymiyya, Dar ar-Rahmat, Cairo, Vol, 11, page 497, KitabTasawwuf: "Kamu harus tahu bahwa syaikh-syaikh terbimbing harus diambil sebagai petunjuk dan contoh dalam agama, karena mereka mengikuti jejak Para Nabi dan Rasul. Tariqat para syaikh itu adalah untuk menyeru manusia ke Kehadiran Allah dan ketaatan kepada Nabi." Juga dalam hal499: "Para syaikh dimana kita perlu mengambil sebagai pembimbing adalah teladan kita dan kita harus mengikuti mereka. Karena ketika kita dalam Haji, kita memerlukan petunjuk (dalal) untuk mencapai Ka'bah, para syaikh ini adalah petunjuk kita (dalal) menuju Allah dan Nabi kita.

Diantara para syaikh yang dia sebut adalah: Ibrahim ibn Adham, Macrufal-Karkhi, Hasan al-Basri, Rabia al-Adawiyya, Junaid ibn Muhammad,Shaikh Abdul Qadir Jilani, Shaikh Ahmad ar-Rafa'i, and Shaikh Bayazidal- Bistami. Ibn Taymiyya mengutip Bayazid al-Bistami pada 510, Volume10: "...Syaikh besar, Bayazid al-Bistami, dan kisah yang terkenal ketika dia menyaksikan Tuhan dalam kasyf dan dia berkata kepada Dia:"Ya Allah, bagaimana jalan menuju Engkau?". Dan Allah menjawab:"Tinggalkan dirimu dan datanglah kepada-Ku". Ibn Taymiah melanjutakan kutipan Bayazid al-Bistami, " Saya keluar dari diriku seperti seekorular keluar dari kulitnya". Implisit dari kutipan ini adalah sebuah indikasi tentang perlunya zuhd mengingkaran-diri atau pengingkaranterhadap kehidupan dunia), seperti jalan yang diikuti Bayazidal-Bistami. Kita melihat dari kutipan di atas bahwa Ibn Taymiahmenerima banyak Syaikh dengan mengutipnya dan meminta orang untuk mengikuti bimbingannya untuk menunjukkan cara menaati Allah dan Rasul as.

Apa kata Ibn Taymiah tentang istilah tasauf

Berikut adalah pendapat Ibn Tamiah tentang definisi Tasauf dari Volume 11,At-Tasawwuf, of Majmu'a Fatawa Ibn Taymiyya al-Kubra, Dar ar-Rahmah,Cairo:"Alhamdulillah, penggunaan kata tasauf telah didiskusikansecara mendalam. Ini adalah istilah yang diberikan kepada hal yangberhubungan dengan cabang ilmu (tazkiyat an-nafs and Ihsan)." "Tasaufadalah ilmu tentang kenyataan dan keadaan dari pengalaman. Sufi adalah orang yang menyucikan dirinya dari segala sesuatu yang menjauhkan dari mengingat Allah dan orang yang mengisi dirinya dengan ilmu hati dan ilmu pikiran di mana harga emas dan batu adalah sama saja baginya.Tasauf menjaga makna-makna yang tinggi dan meninggalkan mencari ketenaran dan egoisme untuk meraih keadaan yang penuh dengan Kebenaran. Manusia terbaik sesudah Nabi adalah Shidiqin, sebagaimana disebutkanAllah: "Dan barangsiapa yang menta'ati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni'mat olehAllah, yaitu: Nabi, para shiddiqqiin, orang-orang yang mati syahid danorang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. (QS.4:69)" Dia melanjutkan mengenai Sufi,"mereka berusaha untuk menaat iAllah.. Sehingga dari mereka kamu akan mendapati mereka merupakan yang terdepan sabiqunas-sabiqun) karena usaha mereka. Dan sebagian darimerupakan golongan kanan (ashabus-syimal)."
Sumber :FB Group sufi Akhir Zaman

Jumat, 27 Agustus 2010


Wasiyat ke dua dari Syaikh Abdul Qodir Al Jailani q.s

Berisi beberapa perintah dan saran,yang di antaranya ialah :
1.Sebagai seorang muslim harus mengikuti sunah Rosul dengan penuh keyakinan ( ke imanan).
2.Sebagai seorang muslim jangan sekali kali melakukan perbuatan bid’ah.
3.Sebagai seorang muslim harus mematuhi segala yang di perintahkan dan di larang Allah serta RosulNYA
4.Seorang muslim harus menjunjung tinggi Tauhid ,jangan sekali kali menyekutukan Dia (Allah)
5.Seorang muslim harus mensucikan Dia (Allah) senantiasa dan jangan sekali kali menisbahkan sesuatu keburukan pun kepadaNYA .
6. Seorang muslim harus mempertahankan kebenaran NYA dan hendaknya jangan meragukan sedikitpun atas kebenaran tersebut.
7 Seorang Muslim harus bersabar selalu,dalam setiap keadaan dan jangan sekali kali menunjukkan sifat ketidak sabaran.
8.Seorang muslim hendaknya mempunyai sifat istiqomah.
9.Seorang muslim harus mempunyai pengharapan kepada Allah dengan sabar dan jangan kesal
10. Seorang muslim harus bekerja sama dengan sesama muslim dalam menjalankan amal ta’at, jangan berpecah belah.saling mencintai dan jangan mendendam.
11.Jauhilah kejahatan dan jangan sekali -kali ternoda oleh kejahatan tersebut .
12. Hiasilah dirimu dengan ketaatan kepada Tuhanmu.
13.Seorang muslim jangan sekali -kali menjauhi pintu -pintu Tuhan
14.Seorang muslim jangan sekali-kali berpaling dariNYA .
15.Seorang muslim hendaknya menyegerakan taubat atas dosa yang telah di lakukan ,jangan di tunda tunda.
16.Jangan bosan -bosan untuk memohon ampunan kepada Allah,siang atau malam .
Apabila seorang muslim telah berlaku demikian ,maka ia akan mendapatkan rahmat dariNYA ,di jauhkan dari api neraka ,Hidup bahagia di syurga yang kekal ,kelak di akhirat akan bertemu Allah,menikmati rahmatNYA .Di syurga bersama bidadari ,mengendarai kuda kuda yang berwarna putih.Bersuka ria dengan Hur Hur bermata putih,menghirup penuh aneka aroma ,dan di iringi melodi melodi para hamba hamba sahaya wanita nan cantik.
Niscaya akan di muliakan bersama Nabi,para shodiqin,para syahidin,dan para sholihin lainnya di syurga yang tertinggi.
Sumber :Ny.KholilahMarhijanto,80 Wasiyat Syaikh Abdul Qodir Al Jailani,Tiga Dua ,Surabaya